SDM

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
08/4/2017 06:00
SDM
(MI/Ramdani)

BANK Pembangunan Asia memberi catatan terhadap tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia tahun ini.

Ada empat faktor yang akan menjadi penghambat, yaitu lambannya reformasi kebijakan dan rendahnya penerimaan negara, lambannya pemulihan ekonomi global, meningkatnya proteksionisme, dan terakhir soal kualitas sumber daya manusia.

Indonesia dinilai agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Investasi dan perdagangan didorong untuk bisa meningkat.

Belanja pemerintah di bidang infrastruktur juga terasa geliatnya.

Semua itu tidak bisa dimungkiri akan menjadi modal untuk membuat Indonesia menjadi kekuatan ekonomi baru.

Namun, semua itu tidak bisa berjalan optimal jika tidak ditopang ketersediaan sumber daya manusia yang terampil.

Dalam sarasehan 100 ahli ekonomi tahun lalu, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Ari Kuncoro juga mengingatkan hal yang sama.

Tantangan Indonesia ialah tersedianya manusia yang ahli di bidangnya.

Semua sumber daya yang ada tidak akan bisa menghasilkan sesuatu yang optimal apabila tidak dikerjakan orang yang memang ahli.

Sejak lama kita mengingatkan arah pendidikan yang tidak terkonsep dengan baik.

Pendidikan yang dijalani banyak warga tidak disesuaikan dengan arah pembangunan yang hendak kita tuju.

Direktur Eksekutif CSIS Phillip Vermonte dalam sebuah diskusi di Media Indonesia pernah menyentil doktor yang kita miliki.

Dari sekitar 6.000 doktor yang ada, kebanyakan bidang keahlian mereka agama dan hukum.

Jumlah doktor bidang teknik yang diperlukan untuk menopang pembangunan industri malah terbatas.

Padahal, negeri seperti Jerman dan Jepang bisa menjadi kekuatan ekonomi meski hancur pada Perang Dunia II karena mereka memiliki ahli-ahli teknik yang banyak.

Kedua negara itu memiliki industri otomotif terkuat di dunia karena mempunyai ahli metalurgi yang memungkinkan mereka membuat mesin yang kuat dan efisien.

Pembangunan industri di Indonesia selalu mengalami hambatan karena kebanyakan barang modalnya harus diimpor.

Sejak zaman Orde Baru, ketika pertumbuhan ekonomi hendak dipacu tinggi, selalu terjadi pemanasan ekonomi karena neraca transaksi berjalan menjadi defisit.

Malaysia memperbaiki kondisi itu melalui penataan pendidikan.

Warga Malaysia yang hendak mengikuti pendidikan lanjutan di luar negeri tidak bisa mengambil bidang ilmu hanya berdasarkan keinginannya.

Negara ikut menentukan bidang ilmu yang didalami agar ketika selesai pendidikan, ilmunya bisa lebih bermanfaat untuk membangun negeri.

Kita cenderung membiarkan warga untuk menimba ilmu sesuai dengan yang dimaui. Dengan alasan biaya sendiri, negara dianggap tidak bisa mencampuri hak pribadi.

Padahal, untuk kepentingan yang lebih besar, negara bukan membatasi, melainkan mendorong agar devisa yang dipergunakan bisa lebih optimal bagi pembangunan negeri.

Tentu kita belum terlambat untuk memperbaiki diri.

Kebutuhan akan master dan doktor untuk membangun negeri ini masih tinggi.

Kalau Tiongkok memiliki sekitar 600 ribu doktor, setidaknya kita butuh seperempat dari jumlah itu.

Yang perlu kita lakukan ialah mendesain bentuk ekonomi dan pembangunan yang hendak kita tuju.

Dari sana kita terjemahkan kepada jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian yang kita butuhkan untuk membangun negeri ini.

Pada akhirnya kita menyadari kemajuan sebuah bangsa bukan ditentukan seberapa banyak kekayaan alam yang dimiliki.

Yang lebih menentukan ialah seberapa banyak manusia berkualitas yang dimiliki bangsa itu.

Kita bisa melihat negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi bisa menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Kita bisa sebut Jepang dan Korea Selatan.

Kedua negeri itu nyaris tidak memiliki apa-apa, tetapi karena punya manusia-manusia yang cerdas dan kreatif, kesejahteraan bangsa itu tidak kalah dari negara maju lainnya.

Indonesia tentu juga harus mampu menyejahterakan rakyat karena itu adalah perintah konstitusi.

Kesejahteraan itu tidak mungkin akan bisa kita gapai apabila pendidikan rata-rata bangsa ini masih 7,8 tahun seperti sekarang. Kita membutuhkan manusia-manusia cerdas yang lebih banyak untuk memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki negara ini.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima