Pribumi

Saur Hutabarat, Dewan Redaksi Media Group
03/4/2017 12:31
Pribumi
(MI/ATET DWI PRAMADIA)

SEJUMLAH orang secara terbuka di jalan raya menempel stiker pribumi di mobil-mobil. Semua itu memperkuat isu bahwa selain urusan agama, dalam pilkada Jakarta juga digoreng isu pribumi.

Isu agama dan pribumi itu jelas ditujukan kepada Ahok. Perkara agama sedang diadili, berlangsung fair. Publik bahkan dicerahkan dengan rupa-rupa saksi ahli yang meringankan, yang dengan otoritas masing-masing intinya menyatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama.

Yang paling pokok ialah kebebasan hakim dalam menyidangkan dan memutus perkara. Kekuasaan kehakiman tidak direcoki kekuasaan pemerintah dan legislatif, juga tidak goyah ditekan kekuasaan komunal. Majelis hakim menunjukkan kualitas itu.

Upaya melemahkan posisi Ahok, sebagai petahana Gubernur Jakarta, pun gagal. Ahok tidak dimasukkan ke penjara. Ahok pun tidak diberhentikan sementara sebagai Gubernur Jakarta. Mahkamah Agung menghormati pengadilan. Presiden dan pembantunya, menteri dalam negeri, pun menghormati undang-undang.

Di tingkat negara dalam menegakkan hukum, semua berjalan sesuai dengan negara hukum, bukan negara kekuasaan. Di tingkat warga, pilkada Jakarta putaran pertama berjalan damai, dengan hasil pasangan Ahok-Djarot meraih suara terbanyak mengalahkan pasangan Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi.

Putaran pertama itu menunjukkan bahwa di tingkat warga yang berhak memilih, faktor agama tidak membuat Ahok kalah. Warga memilih dengan rasional, terutama berbasiskan bukti nyata, yaitu kinerja kepublikan dan tegaknya pemerintahan yang bersih/antikorupsi.

Akan tetapi, saat memasuki putaran kedua, isu agama itu berpindah lebih gencar dari tekanan di sisi negara ke sisi warga secara langsung. Isinya provokasi, jenazah pemilih Ahok tidak disembahyangi. Isu itu pun gagal karena menyembahyangi jenazah perkara wajib dan ada komponen anak bangsa yang siap melakukannya.

Yang tersisa ialah isu rasialisme. Muncul upaya menempel stiker pribumi di mobil-mobil. Anak bangsa diajak mundur. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, hendak dikerdilkan dan dikempeskan menjadi hanya satu, yaitu pribumi, bukan satu Indonesia, NKRI, dengan anak bangsa yang beraneka ragam.

Semua isu diskriminasi itu dibiarkan oleh Anies-Sandiaga. Publik tidak melihat bahwa Anies-Sandiaga menyatakan tidak setuju dengan penggunaan semua isu tersebut, apalagi melarangnya. Orang bahkan berkesimpulan isu tersebut memang 'direstui' oleh Anies-Sandiaga untuk mengalahkan Ahok-Jarot.

Pilkada Jakarta mestinya menjadi forum yang memberi harapan bahwa sedikitnya ada dua orang anak muda yang bernama Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang bertarung dengan kecerdasan program dan menunjukkan sejatinya calon gubernur/wakil gubernur untuk semua warga Jakarta yang plural. Yang terjadi sebaliknya, dua orang muda itu masih harus banyak 'belajar' untuk menjadi pemimpin.

Pemimpin dilahirkan atau dibentuk. Yang pertama bakat alam, yang kedua bakat intelektualisme yang melewati proses pembelajaran/penempaan. Anies dan Sandiaga pasti bukan dilahirkan, bukan bakat alam. Sayang sekali, bakat intelektualisme itu belum matang benar, keburu digigit oleh gairah kekuasaan.

Kata KH Masdar Farid Mas'udi, dalam wawancara khusus dengan harian ini, "Siapa pun warga negara berhak memilih dan dipilih. Lihat kualitas kepemimpinannya, pemihakan kepada rakyat bagaimana. Itu yang paling esensial. Memang ada peran paling penting dari para pemimpin. SARA tidak boleh dibawa-bawa dalam ranah politik kalau kita mau dewasa dan NKRI bertahan. Kita boleh saja mengaku Islam, Kristen, Jawa, tapi itu di ruang privat, bukan di ruang publik."



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima