Serentak Rusak

Saur Hutabarat, Dewan Redaksi Media Group
01/6/2015 00:00
Serentak Rusak
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)
TERBIT kekhawatiran, negara bakal bertambah rusak gara-gara macetnya anggaran pilkada serentak. Rusak karena pilkada serentak di sejumlah daerah berpotensi menjadi lahan tersemainya benih-benih korupsi.

Benih-benih korupsi itu ialah penggunaan uang pribadi dan dana talangan yang dilakukan sejumlah KPUD dan Panwaslu untuk membiayai penyelenggaraan tahapan pilkada. Semua itu karena hingga pekan lalu anggaran pilkada belum juga turun atau cair.

Ke manakah mereka mencari dana talangan? Apa motif memberi talangan? Cukong atau rentenir?

Membayangkan dua jenis manusia itu membiayai penyelenggaraan pilkada membuat perut warga seperti saya mual-mual menderita semacam 'psiko-state-somatis'. Itu penyakit bakal menimpa warga bila negara (state) gagal membiayai pilkada serentak di sejumlah daerah dan tugas itu diambil cukong dan rentenir.

Tentu tidak tertutup kemungkinan ada bakal calon kepala daerah yang bersedia memberi talangan. Bahkan mungkin dengan iming-iming dana talangan tidak perlu dikembalikan sehingga menerbitkan air liur KPUD dan Panwaslu yang sukmanya lemah. Uang itu merupakan tanda terima kasih jika berhasil 'dibikin' menang pilkada.

Uang talangan jelas mengkhawatirkan. Tak kalah mengkhawatirkan, petugas negara menggunakan uang pribadi untuk membiayai urusan negara agar semua tahapan pilkada sesuai jadwal. Contohnya, Panwaslu iuran untuk merekrut dan menyeleksi Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam).

Semua itu dibahasakan sebagai 'terpaksa', sekali lagi karena anggaran pilkada belum juga turun. Sepertinya mereka berbuat baik demi negara, yaitu mengeluarkan uang pribadi demi terlaksananya pilkada serentak.

Mereka tampak seperti pejuang-pejuang demokrasi sekalipun karena terpaksa, akibat negara gagal melaksanakan kewajibannya.

Mereka ialah orang-orang hebat karena tidak memilih sikap terpaksa lainnya, yaitu terpaksa tidak melaksanakan tugas operasional sehari-hari terkait dengan pilkada karena tidak ada dana.

Di zaman politik uang dan maraknya korupsi, terus terang saya malah khawatir dengan budi-baik-terpaksa menggunakan uang pribadi dan uang talangan. Saat ini bukan zaman sepi ing pamrih. Tidakkah mereka singa berbulu merpati?

Pertanyaan itu bernuansa fitnah dan katanya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan (saya sendiri lebih memilih difitnah daripada dibunuh).

Buanglah jauh-jauh semua itu. Yang diperlukan sikap positif, mewanti-wanti bahkan mengingatkan, bahwa hilangnya batas uang pribadi dan tugas negara bisa membuka perilaku sebaliknya, yaitu bukan lagi uangku demi negara, tapi uang negara ialah uangku.

Uang tidak mengenal batas. Uang tidak berkewarganegaraan. Uang tidak berideologi. Uang tidak bermoral. Karena itu, menteri dalam negeri harus bertindak tegas dan tuntas. Tidak perlu banyak omong seperti zaman menjadi politisi.

Petahana yang masih mau maju lagi dalam pilkada serentak dan menghambat pencairan dana segera saja ambil tindakan seperti mengistirahatkannya lebih cepat.

Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima