Biodiesel

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/3/2017 05:31
Biodiesel
(FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi)

PEMERINTAH akan memerkarakan praktik perdagangan tidak sehat yang dilakukan Uni Eropa terhadap produk biodiesel Indonesia. Tuntutan atas perlakuan yang tidak adil itu telah diajukan kepada World Trade Organization. Kita hargai sikap pemerintah untuk membela kepentingan Indonesia. Begitulah seharusnya negara bersikap. Pemerintah harus berada paling depan untuk melindungi kepentingan nasional.

Selama ini industri kelapa sawit dibiarkan berjuang sendirian. Negara seakan tidak peduli dengan keberadaan industri ini. Padahal, sudah ada sekitar 11 juta hektare lahan dipakai untuk perkebunan kelapa sawit. Jutaan orang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Kontribusinya kepada devisa negara setiap tahun lebih dari US$20 miliar. Sayangnya, ketika terjadi tuduhan terhadap perusakan lingkungan, pemerintah malah ikut menyalahkan.

Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bahkan pernah ditandatangani moratorium penggunaan lahan gambut, hanya dengan iming-iming hibah US$1 miliar dari Norwegia. Sampai sekarang hibah itu tidak diketahui ujung pangkalnya, tetapi stigma terhadap industri kelapa sawit dan juga kehutanan sudah telanjur buruk. Kita tidak pernah mau melihat bahwa semua itu sebenarnya bagian dari persaingan bisnis.

Kelapa sawit jauh lebih tinggi produktivitas per luasan lahan dibandingkan tanaman yang dikembangkan negara subtropis seperti bunga matahari, jagung, atau kedelai. Tidak usah heran apabila produk turunan seperti minyak goreng dan biodiesel yang berasal dari kelapa sawit jauh lebih efisien. Sekarang Amerika Serikat juga menuduh Indonesia dan juga Argentina melakukan dumping terhadap produk biodiesel.

Pemerintah Indonesia dituduh memberikan bantuan ratusan juta dolar terhadap industri biodiesel sehingga harganya lebih murah dibandingkan produk biodiesel buatan AS. Padahal, boro-boro pemerintah memberikan bantuan. Untuk menggunakan produk biodiesel industri dalam negeri saja pemerintah setengah hati. Tahun ini anggaran yang disediakan pemerintah untuk mencampur biodiesel dengan solar atau dikenal dengan istilah B-20, diperkirakan sudah akan habis April mendatang.

Puluhan pengusaha sudah menginvestasikan triliunan rupiah untuk membangun industri biodiesel. Produk biodiesel dalam negeri sekarang ini sudah mencapai 11 juta kiloliter. Karena konsumsi dalam negeri sangat terbatas, biodiesel itu diekspor. Untuk memenuhi standar produk Eropa dan AS, para pengusaha Indonesia harus merogoh kantong lebih dalam lagi. Bagi Eropa dan AS, biodiesel merupakan energi masa depan karena lebih rendah emisi gas buangnya dan bisa diperbarui.

Berbeda dengan energi fosil yang satu saat akan habis, biodiesel bisa terus dihasilkan sepanjang kebun dan pabrik pengolahannya masih ada. Biaya pengembangan biodiesel memang masih agak mahal karena ini merupakan energi alternatif yang relatif baru. Namun, dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya penggunaan, pasti ke depan biodiesel akan mencapai keekonomian yang tinggi.

Kita bisa melihat negara yang sudah mencapai efisiensi dari pengembangan bioenergi karena konsistensi dalam kebijakannya. Brasil kini menjadikan bioetanol sebagai sumber bahan bakar motor utamanya. Swedia dihargai sebagai negara terdepan dalam penggunaan bioenergi hanya karena kiprah seorang pemilik dealer mobil, Per Carstedz. Kita pun sebenarnya bisa menjadi negara terdepan dalam pengembangan bioenergi kalau ada kemauan politik yang kuat.

Kita tidak perlu repot menghadapi tuduhan dumping dari UE dan AS, kalau pemerintah mau menyerap produk biodiesel yang dihasilkan pengusaha dalam negeri. Dengan menyerap produk biodiesel dalam negeri, kita bukan hanya sekadar menghemat devisa untuk mengimpor minyak yang setiap hari mencapai 800 ribu barel. Namun, efek pengganda yang dihasilkan akan membuat perekonomian dalam negeri semakin berputar dan pengembangan biodiesel akan mencapai efisiensi yang semakin tinggi.

Kelemahan dalam pengelolaan kelapa sawit jangan membuat kita bersikap apriori. Para pelaku di industri ini pasti akan mau memperbaiki tata kelola. Yang lebih penting dibangun, semangat saling mengoreksi dan melindungi untuk memperkuat perekonomian nasional.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima