Bangsa Jujur

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/3/2017 05:31
Bangsa Jujur
((AP Photo/Koji Sasahara))

ADA satu artikel menarik yang ditulis Bloomberg berkaitan dengan daftar kota-kota di dunia yang masyarakatnya paling jujur. Ternyata kota paling jujur adalah Tokyo. Masyarakat kota itu tidak pernah akan mengambil apa yang bukan merupakan hak mereka. Kalau orang Tokyo menemukan uang atau barang di tempat umum, mereka akan menyerahkannya kepada polisi.

Tahun lalu uang yang ditemukan orang dan diserahkan kepada polisi mencapai 3,67 miliar yen atau sekitar Rp370 miliar. Kejujuran itu menjadi kultur yang baik karena ditanamkan sejak usia dini. Tidak jarang anak kecil di Tokyo memberikan uang koin yang ditemukan di jalanan kepada polisi. Hebatnya polisi kemudian menyimpannya dan menunggu orang yang merasakan kehilangan itu melaporkan kepada polisi.

Aturan yang berlaku orang yang kehilangan kemudian harus memberikan tanda terima kasih. Biasanya orang yang bisa mendapatkan kembali uang yang hilang itu memberikan 5% hingga 20% dari besaran uang yang ditemukan. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa begitu besar uang yang ditemukan di jalanan? Ternyata orang Jepang sama seperti orang Indonesia suka bertransaksi dengan uang kontan.

Jumlah uang yang beredar di Jepang merupakan yang terbesar di dunia. Kebiasaan untuk memegang uang kontan didorong kondisi ekonomi yang terjadi di Jepang. Lebih dari dua dekade Jepang dihadapkan kepada deflasi. Pertumbuhan ekonomi Jepang sangat rendah. Akibatnya negara mendorong masyarakatnya untuk berinvestasi dan meningkatkan konsumsi.

Orang di Jepang tidak mendapatkan bunga kalau menyimpan uangnya di bank. Bahkan tidak jarang nilai tabungannya berkurang karena bunganya negatif. Namun, semua itu tidak membuat orang Jepang berbondong-bondong menyimpan uangnya di luar negeri. Sengaja kita angkat cerita ini untuk membukakan mata kita tentang pentingnya arti kejujuran dan kecintaan terhadap tanah air.

Dua hal itu merupakan faktor penting untuk membangun kemajuan bangsa. Tidaklah mungkin kita menciptakan masyarakat yang adil dan makmur kalau yang lebih menonjol sikap kleptokrasi. Para pemimpin bangsa ini bukan hanya lebih memikirkan dirinya sendiri, melainkan juga merampok uang rakyat. Bagaimana kita tidak katakan 'merampok' kalau uang yang dikorupsi dalam kasus KTP elektronik, misalnya, lebih besar daripada biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat warga ini memiliki data identitas tunggal.

Korupsi sekitar Rp2,5 triliun itu dilakukan secara bersama-sama oleh pejabat eksekutif, legislatif, badan usaha milik negara, dan swasta. Ironisnya, sudah keluar anggaran sekitar Rp6 triliun, data kependudukan kita masih amburadul. Ada yang mencoba menghibur diri dengan mengatakan hebatnya Indonesia. Meski sudah lebih dari 50 tahun 'dirampok' bangsanya sendiri, republik ini tetap bisa berdiri.

Padahal, negara seperti di Amerika Latin sampai bangkrut ketika dikorupsi pemimpinnya. Hal itu sebenarnya mengindikasikan apa yang dimimpikan para pendiri bangsa untuk menciptakan kesejahteraan umum bukan sebuah utopia. Kalau kita pandai mengelola negara ini, sumber daya yang kita miliki lebih dari cukup untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Belajar dari bangsa Jepang, bagaimana lalu kita bisa membangun masyarakat yang jujur. Masyarakat seperti itu tidak pernah akan memikirkan diri sendirinya saja. Ia akan bertenggang rasa dan membantu mengangkat orang di sekitarnya. Apalagi jika ditambah sikap cinta tanah air. Dalam kondisi apa pun lebih mementingkan bangsa dan negara.

Seperti yang dulu dikatakan Presiden AS John F Kennedy, "Jangan tanya apa yang bisa diberikan negara kepadamu, tetapi tanya apa yang bisa kita berikan untuk negara." Kalau bangsa Jepang bisa menjadikan sikap seperti itu sebagai kultur bangsa, bagaimana kita membumikan itu di Indonesia? Indonesia yang maju dan sejahtera pasti akan bisa kita raih kalau semua mempunyai sikap jujur dan cinta tanah air.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima