Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
INI bukan duka di benua jauh. Ini tragedi kemanusiaan di benua kita: Asia; di komunitas kita: Asia Tenggara. Cakrawala kita juga masih lengkung langit yang tak berbeda, yakni khatulistiwa yang bisa merasakan nikmat matahari nyaris sempurna. Namun, di Birma, kini Myanmar, Rohingya jadi puak yang dihinakan.
Sepenggal sejarah bercerita, Rohingya dulu kabilah merdeka. Mereka hidup di Negara Bagian Arakan, kini Provinsi Rakhine. Karena kolonisasi sejak 1823, Arakan masuk Birma. Sejak itu derita Rohingya dimulai. Rezim militer menekan, pada 1978 ratusan ribu orang kabur ke Bangladesh.
Sejak 1982 konstitusi negeri itu hanya mengakui 135 etnik, dan tidak untuk Rohingya yang muslim! Mereka bukan Buddha, agama mayoritas di sana. Seorang biksu penyebar kebencian, Ashin Wirathu, ikut mematangkan suasana. Pastilah ini bertentangan dengan Buddha, yang mengajarkan kebajikan sempurna.
Pada 2012, serbuan besar-besaran terjadi. Para ekstremis membakar ribuan rumah dan tempat ibadah, ratusan orang dijemput maut, ratusan ribu pergi mencari suaka. Pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi tak jua bersuara meski Dalai Lama mendesaknya.
Kini separuh lebih dari sekitar 2,8 juta rumpun Rohingya mencari penghidupan di banyak negara. Mereka membentuk diaspora dengan cerita kepedihannya. Adapun yang 'tertinggal', terus menghitung hari.
Mereka lahir, hidup, bertumbuh, kawin-mawin, di negeri itu, tapi tak beridentitas negara. Mereka dianggap bagian dari Bangladesh.
Kita, Indonesia, memang bukan negara yang bersih dari sikap jemawa pada yang berbeda. Namun, konstitusi memuliakan kesetaraan. Bangsa ini secara bertahap memperbaiki kesalahannya. Maka, terpujilah kita, juga Malaysia, yang sudi menerima ribuan kaum exile yang terkatung-katung di laut lepas.
Problem kita memang tak sedikit. Wajar, semula Indonesia, juga Thailand dan Malaysia, tak mau menerima imigran Rohingya dan Bangladesh. Bangladesh tak bermasalah karena berdokumen dan motif mereka ekonomi, bukan suaka.
Rohingya tidak saja tak berdokumen, tapi juga sengsara secara materi. Beberapa mati di tengah lautan. Rasa kemanusiaan kita melunturkan formalitas itu.
Pemerintah bersedia menampung, minimal satu tahun, sambil mencari solusi, misalnya meyakinkan Myanmar menerima mereka. Bukan kali ini saja kita berbuat kebajikan pada bangsa lain yang menderita.
Pulau Galang, Kepulauan Riau, ialah saksi nyata seperempat juta manusia perahu Vietnam hidup lama sebagai pengungsi (1979-1996). Ini hanya salah satu jejak kita.
Berbagai jejak lain bisa menjadi modal menyelesaikan urusan Rohingya. Kita tahu betapa pedih mereka yang tercerabut dari negaranya.
Memoar pemikir Edward Said, Out of Place, membuat kita merasakan alienasi itu. Ia lahir di Jerusalem, tapi semua keluarganya diusir tentara Israel. Ia Arab, tapi nama depannya Barat.
Ia Kristen dan pembela Palestina terdepan. Ia warga Amerika, tapi pengkritik pedas Barat.
Kita bisa merasakan derita Said dan orang-orang Palestina, juga mereka yang terusir. Terlebih puak Rohingya, derita mereka jauh melampaui out of place Said dari segi apa pun.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved