Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ERA keemasan minyak tampaknya mulai berakhir.
Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar dunia paling terpukul oleh anjloknya harga minyak dari US$100 menjadi di bawah US$40 per barel.
Tahun lalu defisit anggaran negara itu mencapai 15% dari produk domestik bruto.
Langkah penghematan terpaksa mereka lakukan.
Dalam lima tahun--sejak 2016--gaji para pejabat negara dipotong 20%.
Bonus-bonus dihapuskan. Harga bahan bakar minyak dan listrik dinaikkan.
Dana Moneter Internasional menilai langkah drastis yang dilakukan Raja Salman merupakan keputusan yang tepat.
Dengan langkah penghematan itu, perekonomian Arab Saudi tahun ini diperkirakan bisa kembali tumbuh positif meski kecil, yaitu 0,2%.
Tidak hanya langkah penghematan, Arab Saudi mengubah arah pembangunan mereka.
Dengan program yang disebut Visi 2030, Arab Saudi tidak lagi akan menumpukan perekonomian mereka kepada minyak, tetapi kepada industri dan investasi.
Dalam wawancara dengan Bloomberg akhir tahun lalu, Wakil Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman menjelaskan Arab Saudi akan membentuk sovereign wealth fund (SWF).
Tidak tanggung-tanggung, SWF akan menggaet dana investasi publik US$2 triliun atau bahkan mendekati US$3 triliun.
Kalau bisa direalisasikan, SWF Arab Saudi akan menjadi yang terbesar di dunia. Sekarang ini SWF terbesar dimiliki Norwegia dengan modal sekitar US$850 miliar.
Pangeran Muhammad menjelaskan langkah itu akan dimulai dengan menjual 5% saham perusahaan minyak negara, Aramco, pada 2018.
Dengan dana lebih dari US$2 triliun, SWF Arab Saudi akan bisa membeli perusahaan apa pun termasuk empat perusahaan besar dunia seperti Apple dan Google.
Arab Saudi sudah mulai melakukan langkah untuk berinvestasi ke luar. Mereka membeli 38% saham perusahaan Korea Selatan, Posco Engineering and Construction, senilai US$1,1 miliar.
Arab Saudi setuju untuk membuat perusahaan patungan dengan modal US$10 miliar di Rusia.
Banyak yang mengatakan ambisi Arab Saudi ini terlalu tinggi.
Namun, mereka tidak peduli dan tetap jalan dengan rencana besar mereka.
Untuk bisa menggapai harapan itu, pemerintah Riyadh mendatangkan orang terbaik dunia yang paham tentang pasar modal, private equity, dan risk management.
Kalau sekarang melirik Indonesia, Arab Saudi ingin melihat prospek yang ada di sini. Kalau ada aset yang baik, bukan mustahil mereka akan membeli sahamnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mereka juga bisa membuat perusahaan baru di sini.
Sekarang tentu terpulang kepada kita, investasi dan kerja sama seperti apa yang diharapkan dengan Arab Saudi.
Sepanjang itu feasible dan menguntungkan, pasti mereka tidak ragu untuk masuk Indonesia.
Persoalan yang sering terjadi pada kita ialah tidak jelas apa yang kita inginkan.
Kita begitu menggebu-gebu di awal dan berupaya memberikan berbagai kemudahan. Apa pun yang diminta investor ibaratnya selalu diberikan.
Namun, begitu investasi sudah berjalan dan memberikan keuntungan, sikap kita lalu berubah.
Tanpa melalui peta jalan yang jelas dan berjangka panjang, kita mengubah peraturan sesuai dengan apa yang kita maui.
Ketidakmampuan untuk membuat aturan main yang jauh ke depan membuat banyak investor merasa dikecewakan.
Apalagi ketika isu itu dikemas dengan pendekatan nasionalisme dan xenofobia.
Ini yang membuat investor semakin takut.
Apabila sekarang kita berharap kerja sama ekonomi dengan Arab Saudi bisa berjalan, pendekatannya haruslah dengan kacamata bisnis.
Dalam berbisnis itu yang harus diterapkan prinsip 'My word is my bond'.
Ucapan kita harus bisa dipegang karena bisnis tidak mungkin berjalan tanpa kepercayaan.
Satu hal lain yang harus dipahami, kita hidup di dunia yang terbuka.
Seperti halnya kita, Arab Saudi pun bisa berbisnis dengan siapa saja. Mereka hanya mau berbisnis dengan negara yang memang bersungguh-sungguh membangun bisnis yang sehat.
Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved