Menyambut Raja Salman

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
03/3/2017 06:00
Menyambut Raja Salman
(ANTARA/Setpres/Agus Suparto)

"BARANG siapa yang ingin mengingkari hubungan yang istimewa antara Indonesia dan Arab Saudi sama dengan mengingkari matahari di siang hari."

Itulah kalimat kunci Raja Arab Saudi Faisal bin 'Abdul 'Aziz bin 'Abdurrahman as-Saud ketika berpidato di Gedung DPR (Waktu itu bernama Dewan Perwakilan Rayat Gotong Royong) pada 11 Juni 1970.

Pidato Faisal, anak ketiga Raja Abdul 'Aziz bin 'Abdurrahman as-Saud, dikutip Ketua DPR Setya Novanto dalam pidatonya ketika menyambut Raja Salman bin Abdul Aziz as-Saud, Kamis (2/3).

Kemarin sejarah 47 tahun lalu terulang, kali ini yang berpidato Raja Salman, anak ke-25 Raja Saud.

"Tantangan yang kita hadapi, khususnya bagi umat Islam dan dunia secara umum, seperti fenomena terorisme, benturan peradaban, tidak adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta intervensi terhadap urusan dalam negerinya. Ini telah mengharuskan kita untuk menyatukan barisan dalam menghadapi tantangan ini serta berkoordinasi dalam melakukan berbagai upaya dan sikap yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan kita bersama serta keamanan dan perdamaian dunia," kata Salman yang berpidato selama tiga menit.

Raja berusia 82 tahun itu berpidato dengan posisi duduk di depan mikrofon yang dilapisi emas.

Kunjungan Raja Faisal waktu itu dalam kondisi Arab Saudi kalah perang melawan Israel.

Karena itu, selain mengingatkan ancaman komunisme, Arab Saudi meminta dukungan dalam menghadapi krisis Timur Tengah.

Indonesia mendorong agar resolusi Dewan Keamanan PBB 1967 dilaksanakan sepenuhnya dan mendukung hasil konferensi Jeddah mengenai penyelesaian krisis Timur Tengah.

Semua Presiden Indonesia pascareformasi berkunjung ke negeri kaya minyak itu, tetapi baru 2017 ini kepala negara Arab Saudi berkunjung ke Indonesia.

Padahal, dukungan perdamaian Indonesia kepada Timur Tengah amat total, salah satu buktinya, Indonesia belum membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Untuk menghadapi Iran, Arab Saudi dikabarkan justru mulai bermesra-mesra dengan negeri Yahudi itu.

Dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia setiap tahun mengirim sedikitnya 200 ribu jemaah haji.

Selain itu ada sekitar satu juta orang setiap tahun yang beribadah umrah. Ini tentu penambahan devisa negara yang besar.

Namun, hingga kini belum ada kabar kepastian kapan santunan terhadap 12 jemaah haji yang meninggal dan 42 orang yang luka-luka dalam musibah abruknya crane di Masjidil Haram pada 2015.

Ini tentu ironis dengan segala kemewahan Baginda Raja dalam kunjungan kali ini. Dengan Visi 2030, negeri monarki ini memang akan menggenjot sektor pelancongan, khususnya wisata religi.

Kini kedatangan Raja Salman dengan rombongan jumbo, 1. 500 orang, selama sembilan hari (1-9 Maret), agaknya untuk menebus 47 tahun yang baru ada kunjungan balasan sekarang ini.

Hubungan Arab Saudi-Indonesia disebut-sebut mengawali babak baru. Ada kesepakatan pembiayaan proyek di Indonesia sekitar Rp93 triliun.

Namun, selama ini investasi negeri itu di Indonesia amat kecil.

Kini ada 11 kesepakatan kerja sama antara Arab Saudi dan Indonesia, di antaranya pendidikan dan kebudayaan.

Kerja sama ini sangat penting, ini artinya Arab Saudi yang selama ini terutup dengan kebudayaan asing harus menghargai Indonesia yang multikultur ini.

Kunjungan supermewah raja negeri muslim, tempat lahirnya Nabi Muhammad, pemimpin umat Islam yang sederhana, memang mengejutkan.

Terlebih lagi Raja Salman juga berpredikat khadimul haramaen (pelayan dua kota suci).

Masih banyak pula umat muslim di dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia memang ingin serius memuliakan tamu (ikraam ad-dhuyuf).

Sambutan masyarakat Indonesia yang amat antusias, baik di Halim Perdanakusuma, Kota Bogor, DPR, dan Masjid Istiqlal, membuktikan betapa kita justru tidak 'mengingkari matahari di siang hari' seperti kata Raja Faisal 47 tahun lalu.

Dalam memperlakukan tenaga kerja kita, negeri ini juga belum menandatangani konvensi internasional yang menjamin kenyamanan tenaga kerja.

Untunglah saya melihat Presiden Jokowi tetap dalam kesederhanaannya menyambut tamu kaya raya itu.

Menggandeng erat tangan Raja ketika mengantar ke mobilnya.

Menyetiri mobil golf tamunya baik di Istana Bogor maupun Jakarta, memayungi ketika hujan, bahkan mengambilkan pohon ulin yang hendak ditanam Raja di Istana Jakarta.

Selain sambutan ramah masyarakat, kesederhaan Jokowi semoga jadi oleh-oleh terindah Sang Raja.

Raja bisa belajar dari Indonesia yang ramah dan plural ini. ***



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.