Melawat ke Timur

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/2/2017 05:31
Melawat ke Timur
((AP Photo/Vincent Thian))

JIKA tak ada aral melintang, 1 Maret ini hari dimulainya lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia. Inilah rangkaian lawatan ningrat utama Arab Saudi ke Timur, tidak ke Barat lagi. Indonesia, negeri luas membentang, dengan penduduk muslim terbesar, sekitar 220 juta orang dari 250 juta penduduk, ialah negeri kedua yang dikunjungi rombongan baginda raja kaya minyak itu.

Inilah rombongan superjumbo Kerajaan Arab Saudi. Ada sekitar 1.500 orang, 10 di antaranya menteri kerajaan, 25 pangeran, dan keluarga kerajaan. Raja Salman akan mengadakan kunjungan resmi kenegaraan hingga 3 Maret. Mereka akan berlibur ke Bali hingga 9 Maret. Setelah itu hingga akhir bulan mereka akan melanjutkan perjalanan ke Brunei Darussalam, Jepang, Tiongkok, Maladewa, dan terakhir Yordania. Inilah lawatan Arab Saudi ke Timur selama satu bulan, setelah puluhan tahun menjadikan Barat sebagai kiblat.

Enam pesawat Boeing dari berbagai tipe siap mengangkut orang-orang penting itu dari Timur Tengah itu. Total penerbangan 39 kali untuk mengangkut berbagai perlengkapan khusus seberat 459 ton. Gedung DPR, Masjid Istiqlal, dan berbagai tempat yang akan dikunjungi sang raja telah pula bersolek.

Dari lamanya waktu kunjungan, Indonesia termasuk yang terlama, hampir 10 hari. Inilah pula kunjungan resmi pertama Raja Arab Saudi sejak 1970. Pada awal Orde Baru itu Raja Faisal melawat ke Indonesia tidak dengan rombongan jumbo. Waktu itu harga minyak bumi belum menjadi berkah luar biasa bagi negeri yang menjadi kerajaan pada 1932 itu. Negeri itu baru mendapat kemakmuran luar biasa setelah harga minyak naik berlipat-lipat pasca-Perang Arab-Israel pada 1973.

Salman bin Abdul Aziz lahir pada 31 Desember 1935. Ia anak ke-25 Abdul Aziz bin Saud yang menikah dengan Hassa al-Sudairi. Ternyata anak Abdul Aziz yang berjumlah tujuh orang dari klan Al-Sudairi mewarisi karakter kepemimpinan kaumnya. Mereka pun menyebut klan ini sebagai ‘Saudairi Seven’. Salman naik takhta pada 23 Januari 2015 setelah Raja Abdullah bin Abdul Aziz mangkat. Ia mendapat tanggung jawab sebagai ‘Penjaga Dua Tanah Suci (Mekah dan Madinah)’.

Salman yang mantan Gubernur Riyadh selama berpuluh tahun itu memang sosok yang dinilai cerdas, moderat, dan mempunyai modal kepemimpinan yang matang. Kunjungan resmi Presiden Jokowi ke Arab Saudi pada September 2015 mendapat sambutan yang sungguh istimewa. Raja Salman menjemput langsung Jokowi di pintu pesawat. Jokowi mendapat penghargaan Star of the Order of King Abdul Aziz Al-Saud Medal. Inilah penghargaan tertinggi bagi pemimpin negara sahabat. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, serta Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Meski seperti punya kedekatan emosional, hubungan Indonesia-Arab Saudi tidaklah seistimewa yang kita bayangkan. Peringkat investasi Arab Saudi menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 2016 berada pada posisi buncit, yakni 57. Bandingkan dengan Singapura dengan investasi US$2,9 miliar, Jepang US$1,6 miliar, Hong Kong US$597 juta, Tiongkok US$ 549 juta, dan Belanda sebesar US$300 juta. Kabarnya, tak lama lagi, Tiongkok bakal menjadi investor terbesar di Indonesia. Entah berapa fulus yang dibawa Raja Salman yang hendak diinvestasikan di Indonesia kali ini. Adakah seperti yang digosipkan di media sosial, Rp300 triliun?

Menurut pengamat Timur Tengah, Yon Machmudi, walaupun Indonesia-Arab Saudi secara historis memiliki hubungan khusus karena kesamaan agama, hubungan bilateral kedua negara ini tidaklah sekuat sebagaimana sering diasumsikan banyak kalangan. Indonesia tak menjadi mitra strategis bagi Arab Saudi. Sementara itu, Indonesia juga cenderung berkiblat ke Barat. Arab Saudi juga dinilai tak ramah pada tenaga kerja wanita. ‘Sejak era Orde Baru sikap pemerintah Indonesia terhadap negara-negara di Timur Tengah kurang positif karena isu-isu radikalisme. Timur Tengah, termasuk Saudi Arabia, dicurigai sebagai pusat penyebaran gerakan-gerakan Islam radikal di Indonesia’, tulis Yon seperti dimuat kantor berita Antara.

Saya kira lawatan ini momentum terbaik untuk memperbaiki hubungan Indonesia-Arab. Justru ketika Amerika di bawah Donald Trump tak lagi menganggap Arab Saudi sekutu istimewa. Juga ketika harga minyak mentah jatuh dan Arab Saudi tak lagi menjadikan minyak sebagai andalan utama membangun ekonomi. Lawatan ke Timur ini juga tanda bahwa Arab Saudi tengah menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan minyak. Indonesia bisa melakukan bargaining untuk hal-hal yang selama ini mengganjal itu, terutama menyangkut radikalisme, yang disebut Jokowi sebagai demokrasi kebablasan itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima