Gorong-Gorong

28/5/2015 00:00
Gorong-Gorong
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MANAKAH lebih mudah, lembu lolos lubang jarum atau elite partai besar bertikai islah? Jawabnya yang pertama.

Lolos lubang jarum menggambarkan betapa dahsyat persoalan dan betapa leganya keluar dari persoalan luar biasa besar jika dibandingkan dengan kecil dan sempitnya jalan keluar. Bayangkan yang lolos itu sebesar lembu.

Sebaliknya, bagi elite partai besar yang bertikai islah, naga-naganya sesulit kucing lolos gorong-gorong. Padahal, lubang gorong-gorong jauh lebih besar daripada lubang jarum dan kucing amat kecil jika dibandingkan dengan lembu. Apa pasal?

Jawabnya karena islah bersyarat tiada berbeda dengan islah tanpa syarat. Keduanya sama sulit karena kedua pihak berbasiskan masa lalu. Padahal, masa lalu itu harus lebih dulu dikubur.

Setelah melalui keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang digugat serta pengadilan yang menelan waktu panjang hingga berkekuatan hukum tetap, sebetulnya keputusan musyawarah nasional (munas) mana pun harus diperlakukan telah menjadi masa lalu.

Klaim keabsahan munas masing-masing memerangkap, bahkan memenjarakan kedua pihak yang bertikai. Itulah bak dua kucing masuk ke gorong-gorong.

Betapa absurd, putusan pengadilan bahkan membawanya lebih jauh lagi mundur ke belakang, yaitu kembali ke hasil munas enam tahun lalu (2009).

Kesadaran temporer tak dapat mengikuti pilkada serentak kiranya mampu membawa balik ke hari ini. Bukan kemarin, bukan pula besok. Tak ada hari depan bila tak sekarang juga keluar dari gorong-gorong.

Saya bukan ahli kucing walaupun tahu main kucing-kucingan. Saya juga belum pernah masuk gorong-gorong, tapi sering melihat tikus keluar-masuk gorong-gorong dengan lincahnya.

Gorong-gorong memang dunia tikus, bukan jagat kucing. Hanya kucing sesat mencari tikus ke dalam gorong-gorong. Tikusnya mencelat keluar tak tertangkap, sang kucing malah terkurung di dalam gorong-gorong.

Sekarang ada tanda-tanda kedua pihak yang bertikai bakal keluar dari gorong-gorong, menggunakan jasa pemandu. Keduanya dikabarkan telah memaraf perjanjian islah.

Sang pemandu hadir untuk menyelesaikan satu-satunya masalah besar, yaitu keluar dari masa lalu. Semoga islah terwujud dengan harapan setelah pilkada jangan sampai luka terkoyak kembali.

Hasil pemilihan kepala daerah ialah hari esok yang belum diketahui hari ini. Bila hasil pilkada terasa seperti disembelih sembilu, tak tertutup kemungkinan mereka kembali ke masa lalu, masuk ke gorong-gorong dengan luka lebih dalam.

Kata Albert Camus, manusia ialah satu-satunya makhluk yang menolak untuk menjadi dirinya. Itulah bedanya dengan kucing, tikus, dan lembu, yang tidak memiliki kemampuan menolak menjadi dirinya kecuali menjadi kucing, tikus, dan lembu.

Salah satu manusia itu pemimpin. Saatnya mereka menolak menjadi dirinya yang terkurung dalam gorong-gorong.

Bahwa pemimpin masih memerlukan pemandu, baiklah ditutup dengan kalimat penghibur, tidak ada manusia sempurna. Tidak seperti lembu, yang begitu lahir telah sempurna sebagai lembu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima