Basuki-Djarot (3)

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
20/2/2017 05:31
Basuki-Djarot (3)
(ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

KE manakah perginya suara mereka yang memilih Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni pada pilkada Jakarta putaran kedua, April nanti? Itulah pertanyaan yang mencuat dalam berbagai percakapan, yang menunjukkan betapa penting suara mereka untuk menghasilkan Gubernur Jakarta 2017-2022. Agus sendiri menyatakan lapang hati menerima kekalahan. Ia menelepon Basuki dan Anies untuk mengucapkan selamat.

Ucapan selamat kepada keduanya kiranya dapat dibaca bahwa Agus tak punya preferensi, khususnya berkaitan dengan SARA. Pemilihnya bebas menggunakan hak konstitusional, bebas menentukan pilihannya, apakah bakal memilih Basuki-Djarot atau Anies-Sandi. Singkatnya, Agus menunjukkan imparsialitas, ketidakberpihakan. aya pun percaya bahwa Agus Harimurti Yudhoyono tidak akan menurunkan level dirinya dari calon gubernur menjadi juru kampanye/tim sukses calon gubernur lainnya di pilkada putaran kedua.

'Turun pangkat' macam itu jelas mendegradasikan dirinya sendiri. Padahal, Agus perlu melipatgandakan modal sosial dan modal politik di mata dan hati publik. Terlebih lagi, tidak masuk akal saya, sang ayah, SBY, mengambil keputusan agar partainya, Partai Demokrat, menggerakkan pemilih Agus untuk memilih Basuki-Djarot atau Anies-Sandi. Dalam percaturan berbagai isu nasional, contohnya dalam Pilpres 2014, SBY mengambil posisi sebagai penyeimbang.

Ia membebaskan kader partainya menentukan pilihan. Setelah anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, gagal dalam pilkada Jakarta, apa maslahat politik bagi SBY khususnya, Partai Demokrat umumnya, untuk tiba-tiba banting setir dalam perkara lokal? Jakarta ibu kota negara, tetapi rasanya hal itu semata tidak cukup untuk membuat SBY sontak berubah haluan. Masih ada fakta lain.

Kendati sama-sama berada di luar kekuasaan pemerintahan Jokowi, SBY memilih tidak bersama Gerindra dan PKS dalam pilkada Jakarta. Ia mengusung sendiri, bahkan bersama partai-partai yang berkoalisi dalam pemerintahan Jokowi. Terlalu banyak argumen untuk menyimpulkan Demokrat bakal konsisten sebagai penyeimbang, tidak condong ke mana pun dalam pilkada Jakarta putaran kedua.

Ke manakah PKB, PPP, PAN, bergerak? Dalam putaran kedua, ada pendapat bahwa koalisi nasional mestinya juga berlaku dalam pilkada Jakarta. Bahkan dibahasakan dengan spesifik, yaitu partai yang mendapat kursi menteri dalam pemerintahan Jokowi. Pendapat itu tentu saja lebih merupakan harapan ketimbang kenyataan. Peta kekuatan partai politik di tingkat nasional tidak sama dengan di tingkat provinsi, bahkan di tingkat kabupaten/kota. Beroposisi di DPR, berkoalisi di DPRD.

Merupakan fakta politik, bersaing di pilkada nyaris tidak berurusan dengan koalisi partai di tingkat pusat. Lagi pula, seberapa besar orang memilih kepala daerah karena identitas partai jika dibandingkan dengan sosok dan track record sang calon kepala daerah? Data logitudinal Lembaga Survei Indonesia menunjukkan bahwa identifikasi diri seseorang dengan partai hanya di kisaran 20%.

"Selebihnya tidak punya perasaan positif apa-apa terhadap partai. Keadaan pemilih yang tidak partisan tersebut, yang jumlahnya sangat besar, merupakan sumber utama dari swing voter, dan bagi perubahan peta kekuatan partai politik secara cepat." Selebihnya (80%), dengan alasan apa orang memilih pasangan calon kepala daerah? Khusus pilkada Jakarta, survei LSI pascainsiden Al Maidah, 3-11 Desember 2016, berkesimpulan secara umum, alasan memilih yang paling menonjol ialah 'sudah ada bukti nyata hasil kerjanya' (26%).

Disusul 'tegas/berwibawa' (16%), 'pintar/berpendidikan' (11%), 'berpengalaman' (8%), 'jujur/bersih dari KKN' (7%), 'agamanya sama', dan 'perhatian pada rakyat' masing-masing sekitar 6%, serta 'ramah/santun' 5%. Mudah mengatakan Anies-Sandi pintar/berpendidikan serta ramah/santun, semudah mengatakan Basuki-Djarot berpengalaman dan sudah ada bukti nyata hasil kerja mereka.

Agama Anies-Sandi sama dengan mayoritas pemilih. Siapakah yang lebih tegas/berwibawa? Basuki-Djarot atau Anies-Sandi? Apakah keberanian menggusur menunjukkan tegas/berwibawa atau malah bukti tidak perhatian pada rakyat? Pertanyaan lain, siapakah di antara mereka yang jujur/bersih dari KKN? Sandi belum pernah menjadi pejabat publik sehingga dia belum pernah teruji.

Di forum ini dua kali saya menulis mengusulkan pasangan Basuki-Djarot. Sekarang, melalui forum ini juga, setelah menghitung semua faktor tersebut, saya menyatakan matematis Basuki-Djarot yang menang dalam pilkada putaran kedua.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima