Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SATU setengah bulan 2017 sudah kita lewati.
Harapan kita ada perbaikan ekonomi yang lebih signifikan pada tahun ini.
Namun belum ada big bang yang bisa dirasakan untuk membuat kita lebih percaya diri melewati 2017 ini.
Angka ekspor dan impor Januari memang lebih tinggi dibandingkan Januari tahun lalu.
Namun dibandingkan dengan Desember terjadi penurunan.
Kenaikan dibandingkan tahun lalu pun, menurut Badan Pusat Statistik lebih dominan disebabkan oleh kenaikan harga komoditas daripada volume.
Semua ini disebabkan karena kita masih berkutat pada persoalan politik.
Perhatian pemerintah pun masih kepada politik dan agak melupakan persoalan ekonomi.
Apalagi untuk pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta masih ada putaran kedua, sehingga fokus pemerintah pasti masih akan tersedot ke sana.
Meski Presiden Joko Widodo berulangkali menyatakan dirinya netral dalam pilkada serentak, tetapi kenyataannya tidak bisa melepaskan diri dari isu pilkada.
Agar pembangunan ekonomi tidak kehilangan momentum, ada baiknya Presiden mengambil jarak dengan isu pilkada.
Fokus ekonomi penting karena hanya itulah yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Tidak mungkin masyarakat diberi makan politik.
Hanya kegiatan ekonomi yang memungkinkan rakyat bisa memperoleh pendapatan dan dengan itulah kemudian menghidupi keluarganya.
Kegiatan ekonomi dalam negeri masih mengalami kelesuan.
Para pengembang perumahan misalnya, setengah mati untuk bisa menjual unit propertinya.
Hal yang sama berlaku untuk industri otomotif.
Yang masih menunjukkan geliat hanyalah industri makanan dan minuman karena manusia tidak mungkin menghentikan makan dan minum.
Kelesuan itu berdampak ke sektor perbankan. Bank Mandiri mengalami penurunan keuntungan tahun lalu, karena harus meningkatkan pencadangan untuk mengantisipasi kredit macet.
Bank Rakyat Indonesia keuntungannya hanya tumbuh sekitar 3% karena juga harus menambah dana pencadangan.
Berulangkali kita diingatkan, tahun ini bukan tahun yang mudah. Optimisme yang ada disertai dengan kehati-hatian karena faktor ketidakpastian global yang masih tinggi.
Inilah yang membuat kita harus bekerja keras dan terus mendorong kegiatan masyarakat yang produktif.
Apalagi kalau Presiden menginginkan terjadinya pengurangan kesenjangan.
Itu hanya bisa terjadi kalau kita melakukan pembangunan yang inklusif.
Hal itu hanya bisa tercapai apabila kita mendorong tumbuhnya industri manufaktur, bukan sekadar mengandalkan komoditas seperti sekarang ini.
Untuk mendorong tumbuhnya industri manufaktur dibutuhkan investasi.
Dan investasi hanya akan masuk kalau ada kestabilan politik, keamanan, ketenangan, serta iklim usaha yang baik.
Kalau yang sudah puluhan tahun investasi di Indonesia saja tidak bisa kita layani dengan baik, jangan harap investor baru mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Kita ingin ingatkan lagi peran yang harus dijalankan pemerintah.
Ada empat hal yang menjadi tanggung jawab utama pemerintah yakni menciptakan keamanan dan ketertiban, memperbaiki kesejahteraan rakyat, melindungi hak setiap warganegara, dan terakhir menjadikan setiap warga bangsa untuk bisa mandiri.
Semua itu menegaskan pentingnya pemerintah untuk memperhatikan ekonomi.
Semua negara berupaya untuk memisahkan politik dan ekonomi. Sekeras apa pun perdebatan politik yang terjadi tidak boleh sampai mengganggu kegiatan ekonomi.
Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang ada karena ia tidak bisa diputar lagi ke belakang.
Satu setengah bulan yang sudah kita lewati sudah menjadi sejarah.
Kita tidak bisa lagi menyesali ketidakmampuan untuk memanfaatkan periode waktu yang sudah berlalu.
Sekarang kita tinggal memikirkan 10,5 bulan yang masih tersisa.
Kita butuh hasil besar yang bisa membuat kita terpacu untuk semakin bergiat membangun negeri ini.
Ruang untuk itu terbuka lebar, karena masih banyak modal ekonomi yang kita miliki.
Tinggal kemauan untuk mengkapitalisasi modal ekonomi dengan memanfaatkan modal sosial yang tersedia.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved