Membaca Suara

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
17/2/2017 05:31
Membaca Suara
(thinkstock)

TEMPAT pemungutan suara (TPS) bukanlah lokus mati. Ia bisa bicara banyak arti, tak semata tempat kita melakukan hajat politik. TPS juga penanda sebuah eksistensi. Fakta di TPS juga menjadi bukti sang tokoh dan segenap afiliasinya kukuh atau goyah, mengakar atau tercerabut. Karena itu, siapa tokoh yang maju dalam kontestasi politik, TPS sendiri kerap menjadi cermin dan modal pertarungan.

Mari kita mulai dari TPS 17, Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakpus. Di TPS yang hanya 100 meter dari markas FPI itu, Rizieq Shihab, sosok yang seperti tanpa lelah melawan Ahok, tak mampu mengalahkan seterunya itu. Sang seteru unggul telak dengan perolehan 278 suara, Anies-Sandi 212 suara, dan Agus-Sylvi 48 suara. Anies telah mengunjungi Rizieq dan Agus-Sylvi diwartakan didukung para ulama.

Ada umrah bersama ulama segala. Kalaupun suara Agus plus Anies digabung, itu tak cukup untuk membendung laju sang petahana. Hingga lima kali penghitungan ulang, suara Ahok-Djarot tetap berjaya. Lalu, apa makna FPI dan Rizieq di Petamburan III? Apa arti aktivitas Rizieq dan FPI yang menjadi motor aksi Bela Islam beberapa edisi? Aksi-aksi yang kita tahu ramai menuai kontroversi.

Yang bersepakat menganggap Rizieq representasi Islam yang berani, sedangkan yang kontra menilai itu aksi politik yang dibungkus agama. Indonesia pun, terutama di media sosial, seperti menegang. Pada 15 Februari itulah pembuktian jejak Rizieq sesungguhnya didukung atau tidak di sekitar markasnya sendiri. Sementara itu, di TPS 54 Pantai Mutiara, Pluit, Jakut, tempat Ahok memilih, ia menang telak.

Dari 388 suara yang masuk, ia meraih 381 suara, Agus-Sylvi dan Anies-Sandi berbagi masing-masing 3 dan 4 suara. Anies juga berjaya di TPS 28, Cilandak Barat, Jaksel, dengan 377 suara, Ahok-Djarot 169 suara, Agus-Sylvi 22 suara. Namun, tetap tidak setelak perolehan Ahok di TPS-nya sendiri. Agus dan Sylvi lebih terpuruk lagi. Di TPS sendiri, keduanya terjun bebas dipecundangi Ahok-Djarot.

Di TPS 06, Jalan Cibeber I, Rawa Barat, Kebayoran Baru, Jaksel, tempat Agus memilih, Ahok-Djarot mendapat 286 suara, Agus-Sylvi 127 suara, dan Anies-Sandi 66 suara. Lagi-lagi digabung pun tak mengejar suara petahana. Di TPS 103 Pondok Kelapa, Jaktim, tempat Sylvi, bekas bosnya itu meraup 248 suara, Anies-Sandi 150 suara, dan Agus-Sylvi hanya 88 suara. Perolehan yang meluluhlantakkan harapan. Sandi juga menjadi pecundang di markasnya sendiri.

Di TPS 01, Jalan Daha III, Selong, Jaksel, Anies-Sandi meraih 126 suara, Ahok-Djarot berjaya dengan 225 suara, dan Agus-Sylvi hanya 12 suara. Djarot juga terpuruk di TPS-nya sendiri, yakni TPS 08 Kuningan Timur, Setia Budi, Jaksel. Ia dipecundangi Anies-Sandi dengan 140 suara. Ahok-Djarot hanya mendapat 93 suara, dan Agus-Sylvi 84 suara. Dengan membaca suara di beberapa TPS itu, pasangan Ahok-Djarot yang didukung PDIP, NasDem, Golkar, dan Hanura itu berjaya di satu TPS sendiri dan di tiga kandang lawan.

Anies-Sandi menang di satu TPS sendiri dan hanya menang di satu TPS lawan. Sementara itu, dua TPS tempat Agus dan Sylvi memilih, dua-duanya dimenangi Ahok-Djarot. Ini memberi pesan Agus, Sylvi, Djarot, dan Sandiaga tak dipandang penting di TPS sendiri. Hanya Ahok dan Anies yang berjaya di kandang sendiri. Jika kemudian Ahok dan Anies melaju ke putaran kedua pilkada DKI Jakarta, itu sesungguhnya dimulai dari TPS-nya sendiri.

Betapa TPS menjadi cermin perolehan keseluruhan suara pilkada Jakarta. Jadi, jika hasil hitung cepat beberapa lembaga survei yang menempatkan Ahok-Djarot juara pertama dengan perolehan suara sekitar 43%, Anies-Sandi 40%, Agus-Sylvi 17%, sesungguhnya itu cerminan dari suara di markas sendiri-sendiri. Karena itu, jangan remehkan TPS sendiri. Kira-kira pesannya, "Jika kau kalah di kandang sendiri, bagaimana mungkin bisa menang di kandang lawan?"

Akhirnya, saya ucapakan selamat kepada pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang lolos ke putaran kedua. Selamat menyiapkan diri dengan terlebih dahulu merawat suara di markas sendiri. Selamat untuk Agus-Sylvi, meski belum ada suara resmi dari KPU Jakarta, dengan kesatria Agus mengakui keunggulan lawan dan menerima kekalahan dengan besar hati. Ini sikap terpuji.

Rizieq dan FPI juga bisa belajar dari TPS mereka sendiri. Jika meyakni vox populi vox Dei (suara rakyat suara Tuhan), mungkin fakta suara Petamburan III sebuah pesan bahwa agama terlalu mulia untuk menjadi bungkus berbagai aksi yang sesungguhnya beraroma politik. Atau lebih kesatria jika masuk gelanggang politik secara resmi. Bagaimana, Bib?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima