Hostile Takeover

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
15/2/2017 05:31
Hostile Takeover
(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

DI saat kita berdebar-debar menunggu hasil pemilihan kepala daerah, suasana tidak kalah menegangkan tengah berlangsung di Mimika, Papua. Kelanjutan ­operasi PT Freeport Indonesia sekarang sedang menjadi pertanyaan. Berbagai negosiasi untuk membuat perusahaan tambang itu bisa terus berjalan masih dilakukan. Namun, langkah kontingen­si sudah diambil. Puluhan tenaga ekspatriat yang ahli membuat terowong­an tambang bawah tanah sudah dipulangkan. Para pegawai lapangan sudah mengalami pengurangan jam kerja karena penambangan tidak bisa lagi dilakukan. Para pemasok dan kontraktor sudah diberi surat untuk mulai menghentikan kegiatan. Ada sekitar 32 ribu karyawan yang bekerja di lokasi pertambangan. Sementara itu, mereka yang bekerja untuk menjadi pemasok perusahaan tambang tersebut diperkirakan mencapai 240 ribu orang.

Satu yang harus menjadi perhatian kita semua ialah kondisi sosial yang kemudian akan terjadi, khususnya di Mimika. Persoalan stabilitas keamanan dan keter­tiban menjadi hal yang paling dikhawatirkan. Kepala Kepolisian Daerah Papua dan Panglima Kodam XVII/Cendrawasih sudah melaporkan potensi gejolak sosial yang bisa terjadi di Mimika dan Papua. Berulang kali di kolom ini disampaikan, kita tidak pernah memiliki konsep jangka panjang yang jelas untuk menjadikan kekayaan sebagai modal meraih kemajuan. Selama 50 tahun Freeport beroperasi, hanya perusahaan tambang itu yang ada di Mimika. Tidak usah heran apabila pemerintah daerah dan masyarakat di sana menggantungkan hidup mereka hanya kepada Freeport. Lebih dari 90% produk domestik bruto regional Papua dan Mimika didapat dari Freeport.

Sekarang tiba-tiba saja pemerintah ingin menunjukkan kepedulian mereka. Terjemahan kebijakan penghiliran yang dibuat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2012) dilihat pihak investor tidak masuk akal. Pihak investor diminta untuk berpindah dari rezim kontrak karya menjadi izin usaha pertambangan khusus. Perubahan rezim ternyata banyak menimbulkan konsekuensi lain sehingga dilihat sebagai sebuah jebakan.

Sikap pemerintah sekarang yang memaksa investor untuk take it or leave it dianggap sebagai hostile takeover. Tidak usah heran apabila pihak investor melihat kelanjutan operasi tambang tidak jelas dan akhirnya mereka menyiapkan langkah kontingensi.

Kita setuju kalau pemerintah mengedepankan prinsip kedaulatan. Namun, sikap tegas harus diikuti dengan langkah yang matang. Bahkan dituntut kecerdasan dalam bertindak agar kita bisa menarik rambut tanpa harus membuyarkan tepungnya. Pemerintah tentu harus bisa melihat persoalan secara lebih luas. Persoalan yang kita hadapi di Mimika bukan persoalan bisnis semata. Itu berkaitan dengan masa depan ratusan ribu warga yang selama ini tidak pernah kita persiapkan untuk hidup di luar sektor pertambangan.

Selama 50 tahun, boleh dikatakan pemerintah berlindung di balik manajemen Freeport. Pemerintah tidak pernah bersinggungan langsung dengan tujuh suku yang merasa menjadi pemegang hak ulayat. Setiap kali muncul persoalan, manajemen Freeport yang diminta tampil ke depan menyelesaikan persoalan. Kalau sekarang pemerintah ingin menjadi pengendali, akan lebih baik pendekatannya graceful takeover. Lebih baik dirembuk secara baik-baik agar didapat solusi yang saling menguntungkan. Pendekatan lose-lose seperti sekarang hanya akan menimbulkan kegaduhan.

Kita harus sadar bahwa pengambilalihan operasi harus berjalan mulus karena tidak bisa tambang tembaga itu dibiarkan terbengkalai dulu baru dioperasikan lagi kemudian. Apalagi sekarang penambangan itu tidak lagi dilakukan secara terbuka, tetapi sudah di bawah tanah. Terowongan bawah tanah sekitar 500 km yang sudah ada akan ambruk lagi kalau dibiarkan lama.

Pemerintah harus juga berpikir akan investasi US$21 miliar apabila ingin mengoperasikan sendiri tambang bawah tanah. Setidaknya pemerintah harus bisa meyakinkan DPR bahwa anggaran Rp250 triliun memang lebih menguntungkan ditanam di tambang Grasberg daripada untuk membangun infrastruktur. Peribahasa mengajarkan pikir dulu pendapatan karena sesal kemudian tak berguna.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima