Indonesia Timur

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
11/2/2017 06:00
Indonesia Timur
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

SELAMA tiga hari saya mendapat kesempatan berkunjung ke Indonesia Timur.

Pertama ke Ambon, Maluku, untuk menghadiri peringatan Hari Pers Nasional dan kedua ke Bintuni, Papua Barat, untuk mengikuti kunjungan Menteri ESDM Ignasius Jonan ke Kilang Gas Tangguh.

Satu hal menarik, kunjungan itu mengonfirmasikan apa yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa semakin ke Timur angka kemiskinan semakin berat.

Padahal semakin ke Timur kekayaan alamnya semakin besar. Sindroma dari masyarakat miskin adalah harapan yang rendah. Orang-orang di sana cenderung menyalahkan kondisi.

Seakan-akan kekayaan alam tidak memberi manfaat kepada mereka.

Selanjutnya, mereka berharap ada dana besar yang diberikan untuk menyejahterakan rakyat.

Bupati Bintuni Petrus Kasihiuw misalnya, menyampaikan pemerintah pusat perlu memberi kompensasi kepada tanah adat yang dipakai untuk pembangunan Kilang Gas Tangguh.

Sebelumnya, dalam diskusi pada acara HPN, warga Ambon berharap datangnya anggaran dan program pemerintah pusat untuk mengangkat mereka dari ketertinggalan.

Cara berpikir seperti itu muncul karena selama ini kita mengedukasi masyarakat secara keliru.

Kita cenderung menjadikan kekayaan alam sebagai berkah.

Bahkan seakan-akan kekayaan alam itu tidak pernah ada habisnya, sehingga menjadi jawaban untuk menyelesaikan semua permasalahan.

Itulah yang akhirnya membuat kekayaan alam menjadi musibah, karena kita kehilangan kreativitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Seharusnya kekayaan alam itu kita jadikan sebagai modal untuk berkembang.

Kita menyiapkan konsep besar pembangunan negara berbasis kekayaan alam yang kita miliki.

Seperti gas alam yang sekarang ada di Bintuni.

Pemerintah seharusnya mempunyai desain besar pembangunan Papua Barat karena Kilang Tangguh sudah 13 tahun beroperasi.

Memang sudah dipikirkan untuk membangun pabrik pupuk di Bintuni.

Seharusnya dirinci kapan pabrik pupuk itu dibangun dan siapa yang akan melakukannya.

Agar efisien maka harus dipersiapkan rencana pembangunan pertanian yang akan dilakukan di Papua Barat.

Kita persiapkan lokasi pertaniannya dan masyarakat yang akan melakukan. Kita bahkan perlu persiapkan pemasaran produknya.

Tanpa ada perencanaan yang menyeluruh, maka masyarakat tidak pernah tahu arah besar yang akan dituju.

Mereka tidak tahu bagaimana lalu harus mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari pembangunan jangka panjang tersebut.

Ketidakjelasan untuk meraih masa depan membuat orang berpikir jangka pendek.

Para pemimpin daerah pun hanya berpikir bagaimana mendapatkan bagi hasil yang cepat.

Tidak ada pikiran untuk menciptakan lingkungan usaha yang menarik agar ada investor mau menanamkan modal.

Padahal hanya dengan itulah masyarakat di daerahnya bisa mendapatkan pekerjaan dan dengan itulah mereka bisa keluar dari kemiskinan.

Ketika cara berpikirnya hanya mengharapkan dana corporate social responsibility, maka yang terbentuk masyarakat dengan mentalitas meminta bantuan.

Ketika kekayaan alam habis dan kegiatan bisnis berakhir, maka berakhir pula harapan masyarakat itu.

Kita sudah lihat pengalaman di Freeport.

Berpuluh-puluh tahun hanya berharap kepada perusahaan tersebut.

Bahkan membangun kota, fasilitas umum, rumah sakit, pemberdayaan masyarakat dibebankan kepada PT Freeport Indonesia.

Pemerintah tidak pernah punya pikiran besar bagaimana membangun Mimika dan Papua dengan bermodalkan hasil tambang mineral di sana.

Pada era Orde Baru, kita sudah beranjak dari negara yang berbasis kekayaan alam menjadi negara industri.

Mulai 1988 didorong munculnya industri manufaktur dengan target ekspor nonmigas harus lebih besar dari ekspor migas.

Kita lihat pada akhir 1990-an Indonesia mulai dipandang sebagai negara industri baru.

Sayang setelah krisis 1997 kita justru kembali menjadi negara yang mengandalkan komoditas lagi bukan industri.

Kini, saatnya bagi kita untuk mengubah lagi arah pembangunan.

Kalau tidak kita akan terus menjadi bangsa yang bisa mengeluh dan berharap belas kasihan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima