Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu kelemahan kita sebagai bangsa ialah keberanian menerima kenyataan. Kita kerap menyangkal sebuah fakta sehingga akibatnya sulit memperbaiki kekurangan. Misalnya soal investasi.
Memang benar Indonesia salah satu negara yang menarik untuk berinvestasi. Tetapi mengapa realisasi investasi rendah dan banyak yang kecewa setelah masuk Indonesia?
Hasil survei sebuah lembaga internasional menyebutkan Indonesia merupakan negara yang paling rumit untuk memulai investasi. Kita berada di urutan ke-155 dari 189 negara, sedangkan Singapura di urutan pertama.
Izin mendirikan bangunan di urutan 153, kerumitan membayar pajak di posisi 160, penghormatan terhadap kontrak di posisi 172. Kalau kita sampaikan hasil survei tersebut, pasti kita mengatakan itu keliru. Kita menyangkal sebagai negara yang tidak bersahabat terhadap investasi.
Kita keberatan dikatakan sebagai negara yang tidak menghormati kontrak dan dengan cepat menyebut investorlah yang tidak menghormati kontrak. Coba bandingkan dengan Jepang dalam menangani kontrak atau kerja sama.
Indonesia selalu cepat dalam membahas perjanjian kerja sama dan langsung menandatanganinya. Jepang sebaliknya, terkenal detail sampai hal-hal yang kecil ditanyakan.
Bagi Jepang, isi perjanjian harus jelas maksudnya dan tidak boleh ada interpretasi yang berbeda-beda. Begitu kesepakatan ditandatangani, Jepang selalu cepat melaksanakannya karena menganggap semua sudah jelas. Kita kerap lamban menjalankan karena baru kemudian menyadari banyak hal yang dirasa merugikan kita.
Mengapa negara-negara Indo-China seperti Vietnam, Kamboja, dan Myanmar pesat mengatasi ketertinggalan? Karena mereka jelas akan arah pembangunan yang mereka inginkan. Meski dulu negara sosialis, mereka tidak mengenal xenofobia. Lihat saja pembangunan bandar udara di Ho Chi Minh City, Vietnam. Karena mereka sadar akan kelemahannya, Vietnam tidak kecil hati untuk menyerahkan proyek kepada perusahaan Jepang.
Bahkan untuk investasi di industri semen, karena merasa belum menguasai know-how, mereka undang PT Semen Indonesia untuk masuk ke Thang Long.
Kalau sekarang kita ingin memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat, tidak ada pilihan lain kita harus mendorong investasi. Namun, kita harus berketetapan hati mengundang investasi masuk. Jangan setengah hati dan kemudian kita memusuhi pengusaha. Sikap setengah hati dan xenofobia membuat kita tertinggal dari negara lain.
Di kolom ini saya pernah membahas pembangunan ekonomi di Polandia. Setelah Revolusi 1989 yang membawa Polandia masuk era demokrasi, arah pembangunannya sangat jelas.
Seperti halnya pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, mereka 'tidak peduli kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus'. Kini kita hidup di era demokrasi dan keterbukaan ekonomi. Namun, sikap kita terhadap investasi kerap lebih mundur ketimbang era Orde Baru.
Setelah reformasi 1998, ekonomi kita lebih ditopang konsumsi masyarakat daripada investasi karena kita selalu berubah sikap terutama terhadap investasi asing.
Kalau Presiden Joko Widodo ingin mendorong investasi, yang harus diklarifikasi apa maunya kita sebagai bangsa. Presiden sudah membuka diri kepada investasi Jepang dan Tiongkok. Jangan kelak kalau investasi mereka berkembang, kita merasa kerja sama itu merugikan. Lebih baik kita pikirkan dulu sekarang agar tak menyesal di kemudian hari.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved