Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA pertama kali Whatsapp chat seks yang diduga dilakukan Rizieq Shihab dan Firza Husein mengemuka, banyak pihak tak percaya. Biasalah gosip murahan. Rizieq memang tengah dibidik. Banyak suara serupa itu. Namun, kata polisi, kian hari kian menemukan bukti. Dengan menghadirkan lebih dari delapan saksi dan ahli, polisi berpendapat ada kesamaan antara yang beredar di media sosial dan fakta di lapangan.
Kata polisi, kasus Rizieq-Firza tak sulit diusut, serupa kasus Ariel-Luna pada 2010. Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan, televisi, list kamar mandi, dan benda lain yang muncul dalam foto Firza, semuanya identik. Ia menegaskan, tak mengapa Rizieq dan Firza membantah. Keduanya memang membantah. Pihak Rizieq mengatakan, sejak aksi 4 November 2016, ia tak menggunakan telepon seluler.
Padahal, Whatsapp chat terjadi Agustus, dua bulan sebelumnya. Apa pun bantahannya, investigasi ilmiahlah yang akan membuktikannya. Hasil kerja tim ahli ini tak perlu pengakuan verbal pelakunya. Ahli forensik digital itulah yang akan memastikan foto itu asli atau rekayasa. Ahli antropometri menilai keaslian dari ukuran dan proporsi tubuh. Ahli suara mencocokkan rekaman telepon antara Firza dan wanita yang disebut ‘Kak Emma’.
Kepada Emma, Firza mencurahkan isi hatinya tentang Rizieq yang ingkar janji menikahi Firza. Firza pun berang bukan kepalang. Ini ia ceritakan kepada Emma. Akankah Rizieq yang kini tengah dikepung aneka persoalan hukum bisa berkelit? Para pendukung Rizieq tentu tak percaya atau menunggu dengan kecemasan tak tepermanai. Bagi lawan-lawannya, tentu ini sesuatu yang memang tinggal menunggu waktu. Mereka yang netral justru akan kehilangan kepercayaan kepada ulama.
Karena Rizieq, ulama jadi rusak citranya. Tuduhan bahwa selama ini Rizieq memanfaatkan agama untuk ‘kepentingan lain’ jadi kian terbukti. Rizieq memang bukan kali ini saja menghadapi kasus hukum. Imam Besar FPI ini bahkan telah dua kali dibui. Yang pertama, divonis tujuh bulan penjara pada 11 Agustus 2003 karena terbukti menghasut dan melawan aparat keamanan, memerintahkan merusak sejumlah tempat hiburan. Kedua, pada 2008 ia diganjar 1,5 tahun dalam kasus kekerasan di Monas.
Ia kini dikepung aneka persangkaan seperti pencemaran nama baik, penyebar kebencian, penodaaan Pancasila, dan fitnah terhadap pemerintah dalam soal logo palu arit pada lembaran uang rupiah baru. Ditambah kasus dugaan asusila ini, hari-hari selanjutnya bagi pria kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965 ini, pastilah akan pulang-balik ke kantor polisi lebih kerap lagi. Bisa jadi lebih kerap dari seteru utamanya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang kini menjadi terdakwa kasus penodaan agama.
Firza, wanita beranak satu ini memang aktif dalam aktivitas FPI. Ia juga tersangka dugaan makar bersama beberapa orang lainnya. Mereka dijemput paksa polisi pada 2 Desember dini hari. Firza diduga menjadi salah satu penggalang dana untuk aksi bela agama. Ia juga Ketua Solidaritas Sahabat Cendana. Namun, putra mantan Presiden Soeharto, Tommy Soeharto, menyomasi Firza karena dirinya dilibatkan tapi tak pernah dimintai izin.
Jika terbukti melanggar Pasal 4 UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi , yakni membuat dan memproduksi serta menyiarkan dan menyebarluaskan, Rizieq-Firza terancam masuk bui. Alangkah tragis jika semua ini terbukti. Seseorang yang dengan nyaring dan keras berupaya menjadi pembela Islam justru menjadi perusak Islam, seperti dituduhkan beberapa pihak. Aksi Bela Islam yang dimotori Rizieq pun menjadi kian kental aroma tak sedapnya.
Lagi-lagi, jika kasus itu benar, alangkah tragis nasib Rizieq dan FPI. Benarlah apa yang dikatakan sastrawan ternama kelahiran Irlandia, George Bernard Shaw, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar apa-apa dari sejarah.” Rizieq tidak belajar apa-apa dari beberapa kasus, seperti dikatakan Firza, banyak pemimpin ambruk karena wanita.
Sebaliknya, jika kasus ini bohong belaka, Rizieq dan FPI tentu akan kian mendapat simpati karena Rizieq dan FPI menjadi korban musuh-musuh politiknya. Namun, apa pun faktanya, mestinya kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi Rizieq dan FPI untuk mengevaluasi diri. Aktivitas mereka mestinya lebih banyak mempertimbangkan harmoni. Bukan jalan konfrontasi dan menebar rasa benci yang menghabiskan energi.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved