Babu

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
02/2/2017 05:31
Babu
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

TERUS terang, sudah lama saya tidak mendengar kata babu diucapkan di ruang publik ataupun di ruang keluarga. Mereka dibahasakan sebagai pembantu rumah tangga, dipendekkan sebagai pembantu, bahkan dipanggil mbak. Sebutan mbak itu menunjukkan bahwa mereka menjadi bagian keluarga. Bahkan bagian keluarga yang dirindukan dan sangat diharapkan kembali, saban kali seusai cuti Lebaran pulang kampung.

Sebutan babu lenyap, sampai kemudian, belum lama ini, 24 Januari 2017, melalui Twitter, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut mereka babu dengan nada yang dinilai merendahkan. Kata Fahri, "Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela." Fahri dari partai oposisi, pernyataannya itu dapat dibaca bermaksud mengkritik pemerintah yang dipandangnya memberikan kesempatan kepada pekerja asing sampai merajalela.

Tidak tersurat, terutama yang dimaksudkan kiranya pekerja asing asal Tiongkok. Dalam pernyataannya itu gamblang terdapat dua perkara yang merendahkan martabat TKI, yaitu pertama mengemis, kedua menjadi babu di negeri orang. Maksud hati mengkritik pemerintah, Fahri Hamzah malah mendapat perlawanan keras. Antara lain, dari mereka yang bergabung dalam Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong.

Mereka menggugat Fahri Hamzah yang telah merendahkan martabat dan harga diri mereka, para pahlawan devisa yang menyumbangkan remitansi sebesar US$7,4 miliar atau Rp97,5 triliun. Kata mereka, mengutip data LSM di Hong Kong, tahukah Fahri Hamzah bahwa satu TKI menghidupi 3-9 orang anggota keluarga di kampung halaman? "Tidakkah Bapak memikirkan hal ini sebelum merendahkan kami?"

Mereka menuntut Fahri Hamzah minta maaf dan mendorong Mahkamah Kehormatan DPR untuk mengevaluasi kinerja Fahri Hamzah dan mempertimbangkan pencopotannya dari anggota DPR. Sebuah tuntutan yang menunjukkan kemarahan besar anak bangsa yang disebutnya mengemis menjadi babu di negeri orang. Akan tetapi, yang paling mengejutkan publik ialah jawaban M Hanif Dhakiri.

Bukan dalam kapasitasnya sebagai menteri tenaga kerja, melainkan personal. Katanya melalui Twitter, "Saya anak babu. Ibu saya bekerja menjadi TKI secara terhormat. Tidak mengemis, tidak sakiti orang, tidak curi uang rakyat. Saya bangga pada ibu." Ditutup dengan hastag, #MaafkanFahriBu. Saya percaya permintaan Hanif dikabulkan ibunya, memaafkan Fahri Hamzah.

Fahri sendiri telah minta maaf, tetapi melalui Twitter. Alasannya, pernyataannya melalui Twitter, permintaan maafnya juga melalui media sosial itu. Hemat saya, sebaiknya semua TKI di mana pun berada di negeri orang memaafkan Fahri Hamzah. Bukan terutama melalui Twitter seperti permintaan maaf Fahri, melainkan dari hati sanubari yang terdalam.
Kenapa?

Orang itu jabatannya memang tinggi, wakil ketua DPR, tetapi dia masih perlu waktu untuk becermin bahwa di antara jutaan rakyat Indonesia yang diwakilinya terdapat anak bangsa yang pekerjaannya bermartabat sebagai TKI. Maafkanlah Fahri Hamzah karena dia tidak tahu, misalnya, kompetensi mbak di Taiwan dievaluasi secara berkala oleh pemerintah setempat.

Mereka bukan mengemis! Dengan alasan yang sama, Mahkamah Kehormatan DPR tak usah repot-repot mengadili Fahri Hamzah. Terimalah fakta bahwa dia telah meminta maaf melalui Twitter dan berilah ia waktu untuk berkaca. Toh, MKD tidak suci-suci amat. Masak buruk muka, cermin dibelah?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima