Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

POLITIK ialah pendulum paling bertuah. Ia bisa menjadi penentu gelap dan terangnya kehidupan. Mereka yang dianggap sebagai ‘sahabat politik’ akan menjadi ‘sahabat-kekuasaan’ pula. Sementara mereka yang dituduh menjadi ‘musuh-politik’ mereka berpotensi menjadi seteru-kekuasaan pula. Karena itu, pengkhianat dan pahlawan kerap bisa bertukar tempat karena politik yang berubah.
Bekas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar, agaknya yang merasakan gelap dan terangnya dunia karena pendulum bernama politik itu. Pada 2 Februari 2010 ia divonis 18 tahun penjara karena terbukti bersalah menjadi otak pembunuhan Direktur Utama Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Berbagai upaya hukum ia lakukan, seperti banding, peninjauan kembali, bahkan gugatan praperadilan berkaitan dengan keterangan palsu. Semuanya ditolak.
Pada 20 Fenruari 2015, ia mengajukan grasi kepada Presiden Jokowi. Setelah mendapat pertimbangan Mahkamah Agung, Jokowi pun memberikan grasi setelah mendapat banyak remisi.
Antasari bebas bersyarat pada 10 November 2016, dan bebas murni pada 16 Januari lalu. Ia minta namanya direhabilitasi. Ia tak ingin publik dan keluarganya tahu sebagai otak pembunuhan karena cinta segitiga.
Lebih dari itu, ia pun kini meminta Polda Metro Jaya membuka kembali laporan tentang adanya dugaan kriminalisasi terhadap dirinya. Laporan itu ia lakukan pada 2011, satu tahun setelah ia mendekam sebagai orang rantai. Tentu saja, pendulum politik tak memungkinan Antasari, terlebih sebagai orang bui, menuntut hak hukumnya.
Berbagai kejanggalan berkali-kali dikemukakan banyak pihak, tapi suara terpidana memang ‘suara sepi’. Adik kandung almarhum Nasruddin, Andi Syamsuddin, mengaku dari awal ia tak percaya Antasari pelakunya. “Ada orang besar, pejabat besar, yang menjadi dalang dari pembunuhan saudara saya. Yang jelas orang besar itu punya kekuasaan, mampu menggerakkan siapa saja, ” kata Andi kepada Metro TV.
Kepada Metro TV pula, Antasari mengungkap sebuah fakta, kira-kira sebulan sebelum besan Susilo Bambang Yudhoyono, Aulia Pohan salah satu petinggi Bank Indonesia menjadi tersangka penggunaan uang Yayasan Bank Indonesia. Kata Antasari, seorang pengusaha media, Hary Tanoesoedibyo, atas permintaan seseorang, meminta agar Antasari tak membawa nama seseorang (Aulia Pohan) yang tengah ditangani KPK.
Pembawa pesan itu pun minta agar Antasari hati-hati. Sebulan kemudian ia justru mengumumkan beberapa orang penting BI, termasuk Aulia Pohan sebagai tersangka. Tak menunggu lama, dan betul adanya, Antasari pun terjerembab kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnain. Ada yang bilang inilah kerja dua institusi penegak hukum: kepolisian dan kejaksaan, memang ditugaskan untuk menggarap ketua KPK yang kelewat berani itu.
Waktu itu lembaga antirasywah tersebut juga tengah menangani kasus bail out Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), alat teknologi informasi di KPU yang dimenangi Hartati Murdaya bendahara Partai Demokrat dan Skandal Bank Century, megaskandal yang teramat menghebohkan. Antasari siap membantu KPK, dan KPK siap menerima bantuan. Terlebih kini ada 180 kasus lama di KPK dan institusi ini siap menelisik kembali satu per satu kasus-kasus itu.
Ada spekulasi kasus Antasari tak bisa dipisahkan dari perseteruan PDI Perjuangan versus Partai Demokrat. Terlebih jika nanti Antasari benar-benar masuk PDI Perjuangan. Fakta itu menjadi kian jelas. Tentu saja masuk organisasi mana pun ialah hak siapa pun dan ini yang dijamin konstitusi. Akan tetapi, ini bukan pilihan yang tak datang dari langit. Ia punya cerita di balik peristiwa.
Apa yang dikatakan Antasari barulah satu pihak. Jika berhenti di sini, ia bisa menjadi fitnah. Karena itu, yang terbaik harus membawanya ke pengadilan. Di pengadilan semuanya akan serbabenderang. Kita menunggu apa yang dikatakan Antasari bukanlah halusinasi. Ia harus serius membuka kembali anomali-anomali kasus hukum yang dahulu.
Bisa jadi apa yang dilakukan Antasari berpotensi mengguncang kita semua. Ia sesungguhnya tengah mencari miliknya yang paling berharga yang selama ini hilang. Perlu pula diingatkan, yang dilakukan Antasari bukanlah karena ia sentimen. Jika hukum di masa lalu tak tegak lurus, kini harus diluruskan. Meskipun politik ialah pendulum paling hebat, pemerintah harus menjamin penegakan hukum tanpa intervensi. Meski politik pendulum terkuat, tapi hukum bukanlah pembalasan dendam.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved