Sembilan Puan

26/5/2015 00:00
Sembilan Puan
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

"SAYA belajar kesepakatan dalam pertentangan." Itulah salah satu resep ROG Roeder bisa tinggal lebih dari dua warsa di Indonesia. Wartawan asal Jerman, penulis The Smiling General (1969), itu memang telah lama tergoda pada 'Hindia Belakang'. Negeri kaya dengan banyak 'kebijaksanaan', tapi padat penduduk miskin. Semuanya sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Mendiang Roeder betapa pun gerah menghadapi birokrasi yang lamban dan korup, termasuk ketika harus melewati sedikitnya 20 stempel jawatan tiap memperpanjang izin tinggal, ia mesti 'tabah'.

Usaha yang sungguh memeras keringat di negeri tropis, dengan transportasi yang buruk. Pengalaman itu ia ungkap dalam buku Amatan para Ahli Jerman tentang Indonesia (1992).

Kultur 'bersepakat' dalam 'pertentangan' dan menjaga 'harmoni' demi 'keseimbangan' kerap membuatnya gegar budaya. Paradoks itu mengagumkan jika digunakan untuk banyak kebajikan. Namun, untuk hal-hal prinsip dan kejahatan, ia jadi mala yang menghancurkan.

Suburnya korupsi di negeri ini juga disebabkan laku paradoks serupa itu. Ia tahu korupsi akan membawa mala, tetapi tetap dilakukan juga. Itu disebabkan kita tak kuasa mengingatkan atasan; tak elok menolak permintaan kawan dan kolega; sudah biasa dilakukan para pendahulu dan yang lain.

Tahu sama tahu itulah 'kebijaksanaan' terbaik. Mengungkapkan secara berandang hal buruk bisa merusak 'harmoni'.

Betapa kompleks korupsi di Indonesia. Berkelindannya polaritas itu menjadi bawah sadar yang vibrasinya merasuk ke banyak sendi kehidupan.

Sebuah paradoks yang disadari, tetapi tetap dilakukan. Koruptor pun seperti patah tumbuh hilang berganti. Publik lega ketika Presiden Jokowi memilih sembilan perempuan untuk Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK. Menteri Sekretaris Negara Pratikno bahkan sempat kaget seraya berucap, "Kok semuanya perempuan?"

Mereka itu Destry Damayanti (ekonom Bank Mandiri), Eni Urbaningsih (ahli hukum tata negara), Natalia Subagjo (Sekretaris Tim Independen Reformasi Kemenpan dan RB), Yenti Garnasih (dosen hukum pidana ekonomi dan pencucian uang Universitas Trisakti), Harkristuti Harkrisnowo (ahli hukum pidana, Ketua Badan Pengembangan SDM Kemenkum dan HAM), Betti Alisjahbana (mantan CEO IBM ASEAN dan South Asia), Meuthia Ganie-Rochman (ahli sosiologi korupsi dan modal sosial FISIP-UI), Supra Wimbarti (Dekan Fakultas Psikologi UGM), Diani Sadiawati (Direktur Analisis Peraturan Perundang-undangan Bappenas).

Inilah kali pertama Pansel KPK seluruhnya para puan. "Angin segar," kata banyak orang. Namun, ini 'angin segar' baru dalam tataran persepsi.

Kita tahu persepsi memang modal penting dalam sebuah langkah. Karena itu, kita berharap para puan itu mampu memanfaatkan persepsi baik tersebut. Saya kira bukan hanya semuanya perempuan, melainkan juga mereka berasal dari aneka latar belakang pendidikan dan profesi. Yang terutama, mereka dinilai figur yang tak condong ke 'kanan' dan ke 'kiri'. Mereka orang-orang 'tengah', yang kredibel.

Kita berharap, pansel mampu menjaring calon terbaik para pemimpin KPK, yang kini dilanda mala. Pansel jangan bekerja dalam kultur menjaga 'harmoni' demi 'keseimbangan', tetapi menjaga netralitas demi kualitas. Mereka harus imun terhadap segala godaan yang membahayakan terpilihnya para aulia KPK. Kita menunggu aksi sembilan puan pilihan Presiden itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima