Holding BUMN

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/1/2017 05:30
Holding BUMN
(ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

SEJAK dibentuk Presiden Soeharto, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki tugas, salah satunya, menjadikan BUMN sebagai perusahaan besar berkelas dunia. Untuk itu, BUMN harus mampu memperkuat modal tanpa harus negara menyetor modal tambahan. Langkah yang bisa dilakukan ialah menggabungkan atau merger beberapa BUMN menjadi satu BUMN besar. Atau, cara yang lain, membuat perusahaan induk atau holding company.

Menteri BUMN saat itu, Tanri Abeng, memilih cara kedua. Resistensi atas pembentukan perusahaan induk jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan merger karena tidak harus membuat banyak orang kehilangan jabatan. Namun, semua rencana tersebut tidak bisa berjalan mulus karena kabinet terakhir Presiden Soeharto hanya berumur tiga bulan. Ketika Presiden BJ Habibie menggantikan, fokus perhatian lebih tertuju pada persoalan politik ketimbang mengurusi ekonomi.

Pembentukan perusahaan induk baru bisa dilakukan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara bertahap dengan menggabungkan perusahaan pupuk dan semen. Sekarang ini sudah ada empat perusahaan induk BUMN dengan digabungkannya perusahaan konstruksi dan perkebunan. Ide pembentukan perusahaan induk baik karena sebagai negara yang masuk kelompok 20 negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia, kita harus memiliki perusahaan kelas dunia. Di bidang perkebunan, misalnya, kita sebenarnya memiliki 13 PT Perkebunan Nusantara. Namun, karena lahannya terbagi-bagi, PTPN kita akhirnya menjadi kecil-kecil. Untuk perkebunan kelapa sawit, contohnya, luasan lahan milik PTPN kalah jika dibandingkan dengan Sinar Mas atau Astra Agro Lestari. Padahal, kalau ditotal, luas lahan milik PTPN bisa mencapai 2,5 juta hektare. Itulah yang oleh Tanri Abeng dikatakan, kita seharusnya bisa mempunyai BUMN yang luas la hannya terbesar di dunia.

Dengan luasan seperti itu, leverage-nya ke sektor keuangan dunia akan semakin besar. Kalau kemudian itu ditopang manajemen yang bagus, kita akan memiliki BUMN terhebat di dunia. Konsep inilah yang sekarang hendak dilanjutkan Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno. Ia akan membuat tujuh perusahaan induk yang baru. Ke depan diharapkan, Indonesia memiliki antara lain BUMN perbankan yang terbesar di ASEAN, BUMN minyak dan gas yang disegani di dunia. Memang sudah muncul penentangan terhadap ide tersebut. Ada yang melihat rencana itu sebagai upaya melepas aset BUMN kepada swasta tanpa melalui DPR. Peraturan presiden yang menaungi pembentukan perusahaan induk BUMN dianggap bertentangan dengan undang-undang.

Menteri BUMN menepis anggapan pembentukan perusahaan induk mengecilkan BUMN. Itu justru memperkuat BUMN. Rini mencontohkan pembentukan perusahaan induk minyak dan gas yang menggabungkan PT Pertamina dengan Perusahaan Gas Negara.

Tidak ada pengurangan aset negara, Pertamina yang 100% sahamnya dimiliki negara justru bertambah kaya karena menguasai 57% saham PGN. Dengan penggabungan dua BUMN tersebut, otomatis equity perusahaan induk menjadi lebih besar. Maka ketika hendak membutuhkan modal untuk pengembangan investasi, potensinya juga semakin besar. Menteri BUMN menjamin tidak akan ada pengerdilan dari perusahaan negara. Ia juga menjamin tidak ada kewenangan DPR yang dilangkahi. Sepanjang kepemilikan negara di BUMN sudah terdaftar sebagai kekayaan negara, tidak akan ada pengurangan saham yang bisa dilakukan Kementerian BUMN tanpa izin dari DPR.

Sudah saatnya kita mengubah paradigma tentang BUMN. Kita membutuhkan cara berpikir yang besar agar kita bisa menjadi bangsa yang besar. Terlalu lama BUMN hanya menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Lebih ironis kerajaan itu bukan dipakai untuk menjadi motor pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, melainkan lebih dipakai untuk kepentingan direksi dan kelompok kepentingannya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.