Palsu

25/5/2015 00:00
Palsu
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

SAMA-SAMA palsu, gigi palsu jauh lebih terhormat daripada ijazah palsu. Penyebabnya jelas, antara lain, yang satu legal, yang lain melanggar hukum.

Memakai gigi palsu merupakan kebutuhan sekaligus pengakuan. Di situ ada keperluan fungsional karena yang ompong tak bisa menggigit.

Sudah tentu sedikit banyak pula beralasan estetika, soal pentingnya pengakuan enak dipandang. Tak ada bagus-bagusnya ompong.

Lagi pula menutupi keompongan dengan gigi palsu, baik berbentuk permanen maupun pasang-copot, merupakan perbuatan sah di tangan kaum profesional, dokter gigi.

Yang menyedihkan sekaligus menggelikan ialah menyamakan kedudukan dan kehormatan gigi palsu dengan ijazah palsu. Ijazah palsu dibuat juga karena kebutuhan fungsional dan pengakuan (sosial).

Dalam berbagai cabang kehidupan, hanya bergelar S-1 tidak menggigit, S-2 kurang menggigit, S-3 baru menggigit. Persis seperti tiga gigi ompong, perlu tiga gigi palsu agar fungsional dan sekaligus 'estetis'.

Ijazah kesarjanaan memang pada dasarnya secarik kertas pengakuan. Ia buah bersusah payah terutama dalam berpikir.

Setelah memperolehnya, ijazah mestinya menjadi pemicu untuk dibuktikan dalam dunia nyata bahwa yang tertera di kertas mewujud dalam realitas.

Yang berkembang kemudian kertas yang dikultuskan. Menganggap rendah proses, menilai tinggi pengakuan formal yang dinyatakan di atas secarik kertas.

Ijazah bukan saja tidak lagi mencerminkan 'isi' berpikir, bahkan tidak berisi sama sekali.

Ia benar-benar kosong, kopong, melompong. Bergelar doktor, tapi lebih cocok untuk mondok di kantor.Sampai di situ kiranya orang hanya bisa geleng-geleng kepala atau paling jauh mengelus dada. Namun, kenyataan lebih parah lagi karena kertas yang dikultuskan bukan lagi yang asli, melainkan yang palsu.

Bergelar doktor, tapi tak berisi, sudah satu perkara. Sudah tak berisi, palsu pula, menjadi dua perkara. Menjadi tiga perkara karena sang doktor palsu ternyata rektor. Betul-betul imannya tekor dan bocor.

Apa sebetulnya yang terjadi di dunia gelar?

Salah satu jawabnya harus dicari dalam berpikir dan tidak berpikir di tengah masyarakat penyanjung kehormatan tanpa berpikir.

Aku berpikir maka aku ada. Berubah menjadi aku berijazah maka aku ada.

Di titik itu tak ada lagi hubungannya dengan berpikir. Setelah itu, menjamurlah orang-orang yang tidak berpikir atau pendek pikiran mereka dengan 'aku ada' yang palsu di tengah masyarakat penyanjung kepalsuan kehormatan karena enggan berpikir.

Hemat saya, kepalsuan terbesar abad ini di negeri ini ialah ketika perguruan tinggi menjadi tempat perlindungan kepalsuan ijazah dengan mengangkat penyandangnya rektor. Sebaiknya semua rektor di negeri ini diperiksa ulang keaslian gelar doktornya. Setelah itu giliran orang-orang terhormat lainnya.

Pada titik itu, kepalsuan kehormatan mereka pun perlu dibongkar habis.

Kata Kierkegaard, filsuf Denmark, "Dalam kegagalannya, orang beriman menemukan kemenangannya." Sekarang kearifan itu saya pinjam menjadi kebalikannya, "Dalam kemegahannya, orang bergelar menemukan kehancurannya dalam kepalsuannya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima