Kartu Tani

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/1/2017 06:12
Kartu Tani
(ANTARA/Fakhri Hermansyah)

KALAU kita berkunjung ke Jepang, yang paling kita kagum adalah harga makanan yang relatif stabil.

Ketika kita makan mie harganya masih 1.000 yen.

Makan shabu-shabu di restoran biasa sekitar 3.000 yen.

Sudah beberapa tahun nyaris tidak ada perubahan harga yang berarti.

Tentu kita bertanya, bagaimana mungkin mereka bisa membuat harga pangan relatif stabil?

Sementara kita sebentar-sebentar dihebohkan harga cabai yang melonjak tinggi, harga beras yang naik, atau harga daging yang sulit dikendalikan.

Kita tahu harga itu merupakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Ketika permintaan lebih tinggi dari penawaran, pasti harga akan melambung tinggi.

Sebaliknya, harga akan anjlok ketika penawaran lebih tinggi dari permintaan.

Penawaran memang tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh informasi yang melengkapinya.

Di mana produksi itu ada dan bagaimana mendistribusikan sampai ke dekat konsumen.

Tentu ada faktor yang ikut mendistorsi yaitu permainan pasokan.

Pemerintah sering tidak mampu menstabilkan harga karena tidak memiliki stok.

Di sinilah persoalan yang kita hadapi.

Sering kita berbicara tentang keberhasilan produksi pangan, tetapi kita tidak tahu di mana hasil produksi itu disimpan.

Produksi padi tahun lalu dikatakan mencapai 79 juta ton, tetapi bisa nanti di musim kemarau pasokan beras tersendat.

Kita mempunyai masalah besar dengan manajemen pengelolaan pangan.

Belum lagi soal pendistribusiannya karena Indonesia yang begitu luas.

Kelebihan produksi di satu daerah sulit dan mahal untuk bisa didistribusikan ke daerah yang membutuhkan.

Langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Bank Rakyat Indonesia untuk membangun sistem informasi pertanian merupakan hal yang baik untuk ikut memecahkan persoalan kita.

Lembaga keuangan dimanfaatkan untuk menjadi pengumpul data pertanian.

Dengan memperkenalkan kartu tani maka pemerintah daerah bisa mempunyai profil petani yang lebih akurat.

Dalam kartu tani dicatat di mana alamat, berapa luasan lahan yang dimiliki, tanaman apa yang dibudidayakan, dan kapan kebutuhan pupuk itu diperlukan.

Keberadaan BRI memang lebih dimaksudkan agar penyediaan pupuk bersubsidi lebih tepat sasaran.

Hanya petani yang tergabung dalam kelompok tani yang bisa membeli pupuk bersubsidi.

Tetapi data dasarnya bisa dipakai untuk mengetahui kapan kira-kira panen akan terjadi, untuk komoditas apa, dan di mana panen itu akan ada.

Dengan data itu pemerintah bisa lebih cepat mendistribusikan produk pangan ke daerah yang memerlukan.

Uji coba yang dilakukan di Jateng apabila bisa berjalan baik seharusnya diterapkan di daerah lain.

Ini penting agar kita mempunyai data produk yang lebih jelas, bukan hanya volumenya, tetapi di mana produk itu ada.

Apalagi kalau sistem informasi harga yang ditetapkan Kementerian Perdagangan bisa kredibel, itu akan menjadi pegangan petani dan konsumen untuk mengetahui perkembangan harga.

Kita melihat baik rencana Kementerian BUMN untuk menggunakan lembaga keuangan membantu menyalurkan subsidi kepada masyarakat.

Mulai 1 Februari nanti pemberian beras dan gula untuk keluarga prasejahtera dilakukan dengan memberikan kartu perbankan.

Dengan cara itu subsidi bisa sesuai dengan tujuan dan tidak bisa dipakai untuk kepentingan yang lain.

Apalagi jika kartu perbankan bisa diintegrasikan menjadi satu agar tidak merepotkan masyarakat.

Pemerintah harus peduli dan fokus membantu masyarakat yang berada di bawah.

Keberpihakan itu tidak berarti diskriminatif, tetapi pemerintah berpihak kepada kelompok masyarakat yang belum beruntung karena tugas kita menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pengalaman selama ini berbagai bantuan kepada masyarakat bawah sering tidak sampai.

Dengan memanfaatkan fasilitas di sistem perbankan, maka program untuk mengurangi kesenjangan akan lebih berhasil.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.