Tangis Obama

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
13/1/2017 05:31
Tangis Obama
(AFP PHOTO / Joshua LOTT)

BARACK Hussein Obama menitikkan air mata. Inilah tangis yang tak tertahankan ketika memberi sambutan perpisahan di McCormick Place, Chicago, Rabu (11/1) lalu. Presiden Amerika ini perlu menyeka air mata yang membasahi pipi dengan sapu tangan warna putih. Kelopak matanya memerah. Mata hadirin juga banyak yang berkaca-kaca. Inilah sambutan penuh haru dari orang nomor satu yang memimpin negeri paling terkemuka di muka bumi selama
satu windu.

Ia akan mengakhiri jabatannya pada 20 Januari pekan depan. Presiden terpilih Donald Trump akan menggantikannya. Ia memberikan optimisme kepada bangsanya ketika ada cemooh pada Trump. Salah satu kekuatan besar bangsa, kata Obama, ialah transfer kekuasaan secara damai dari satu presiden ke presiden selanjutnya. Obama yang semasa kanak-kanak pernah tinggal di Jakarta berucap terima kasih tak terhingga kepada sang istri, Michelle
LaVaughn Robinson.

Michelle yang selama 25 tahun hidup bersama tak hanya sebagai istri dan ibu dua anaknya, Malia dan Sasha, tapi juga teman yang luar biasa. “Kamu telah mengambil peran yang tak pernah kamu minta, tapi kamu menjalankannya sendiri dengan mulia dalam gayamu yang penuh humor yang baik,” puji Obama. “Kamu membuat saya sangat bangga. Kamu juga telah membuat negara ini bangga.” tambahnya. “Potensi besar Amerika akan terwujud hanya jika demokrasi kita bekerja.

Hanya jika politik kita mencerminkan kesopanan dari orang-orang kita (AS). Hanya jika kita semua, terlepas dari afi liasi partai atau kepentingan tertentu, membantu memulihkan tujuan umum kami yang begitu buruk untuk dibutuhkan sekarang,” kata Obama dengan mata yang masih basah. Itulah tangis kesekian kali Obama di depan publik. Awal Januari 2016 air mata Obama juga tumpah ketika memaparkan regulasi pengetatan kepemilikan senjata api.

Senjata yang sejak ia dilantik menjadi presiden pada 20 Januari 2009 telah berkali-kali digunakan dalam penembakan massal, termasuk anak-anak sekolah. Sejak ia menjadi presiden, begitu banyak nyawa melayang karena senjata api. Obama juga bercucuran air mata setelah terjadi penembakan massal di SD Sandy Hook di Negara Bagian Connecticut, pada 14 Desember 2012. Pemuda berusia 20 tahun, Adam Lanza, membunuh 20 murid SD dan 8 orang lainnya. Wajar jika Obama dengan dua putrinya, sangat emosional, menyebut sang pembunuh sebagai manusia sakit jiwa.

Berkali-kali ia bicara tentang pembatasan kepemilikan senjata api, tapi kongres tak menggubrisnya. Industri senjata api di AS memang bisnis amat bersinar. Ketika negeri itu di ambang krisis fi nansial pada 2008, permintaan senjata api justru naik tinggi. Tangis Obama sebelumnya pecah ketika ia dan sang istri tercinta menghadiri konser di Kennedy Center Honors, Washington, 30 Desember 2015. Saat belum 1 menit Aretha Franklin melantunkan lagu (You Make Me Feel Like A Natural Woman), Obama beberapa kali menyeka air mata.

Obama yang juga penggemar lagu-lagu Kendrick Lamar menjadikan lagu-lagu sang biduan itu sebagai penyemangat hidupnya. Obama, yang kemunculannya bagai ‘sihir’, tentu tak sempurna. Tapi, ia inspirasi terbesar dunia, presiden ke-44 AS, yang berlatar belakang ‘bukan siapa-siapa’ menurut tradisi politik Amerika. Ibunya seorang Amerika berkulit putih dan sang ayah berdarah Kenya, muslim. Ia mempunyai ayah tiri Indonesia, muslim pula. Latar belakangnya yang berwarna membuat ia amat antidiskriminasi.

Ia juga menarik tentara dari Irak, Afghanistan, menutup kamp tahanan Guantanamo, mereformasi hukum yang mengatur pengawasan terhadap hak-hak kebebasan sipil. “Karena itulah saya menolak diskriminasi terhadap muslim Amerika yang sama patriotiknya dengan kita semua,” kata Obama.

Ia juga yang ngotot membangun masjid di dekat Ground Zero, tak jauh dari WTC, ketika banyak pihak menolaknya. Obama memang bukan lampu aladin. Namun, dunia mungkin akan lama lagi menunggu seorang presiden yang sangat berwarna latar belakangnya kembali memimpin Amerika. Apa pun, dunia akan selalu merindukan seorang Obama, terlebih para pengagumnya yang ketika itu memintanya untuk terus memimpin empat tahun lagi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.