Air Mata Makar

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
12/1/2017 05:31
Air Mata Makar
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

RACHMAWATI Soekarnoputri menangis ketika mengadukan nasibnya kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Kurang lebih, ia meminta diperjuangkan agar perkara makar yang dituduhkan kepadanya dihentikan. Permintaan itu mengandung dua dimensi sekaligus. Pertama, ditengarai di benak Rachmawati bersemayam pikiran 'hebat' bahwa pimpinan DPR sangat berkuasa sehingga dapat menghentikan perkara hukum.

Lebih spesifik, ia kiranya menilai, sekalipun negara ini negara hukum, ada seorang bernama Fadli Zon yang dapat membantunya. Kedua, apa makna air mata bagi seorang dewasa, 66, yang berpolitik dalam konteks makar? Sebuah penyesalan? Entahlah, saya bukan ahli membaca makna air mata orang dewasa yang berpolitik.

Saya sedikit paham ketika cucu saya berumur 3 tahun menangis karena permintaannya tidak dikabulkan. Itu pun, sekali lagi, sedikit saja. Rachmawati pernah mendirikan partai politik. Namanya Partai Pelopor, yang dideklarasikan pada 29 Agustus 2002. Partai itu satu dari 24 partai peserta Pemilu 2004, meraih 896.603 suara dari total 113.125.750 suara (0,79%), mendapat tiga dari 550 kursi DPR (0,55%), yaitu masing-masing satu kursi di Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Pada 11 April 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat Rachmawati menjadi pejabat negara, yaitu anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Publik tahu buruknya hubungan SBY dan Megawati Soekarnoputri. Partai Pelopor kembali ikut bertarung dalam Pemilu 2009, hasilnya anjlok berat, hanya meraih 342.914 suara alias 0,33%. Tidak mendapat satu pun kursi DPR, Partai Pelopor tewas selamanya.

Rachmawati tidak berhenti berpolitik. Ia bergabung dengan Partai NasDem, bahkan menjadi Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai NasDem, sampai kemudian Partai NasDem bersama PDI Perjuangan mengusung Jokowi menjadi calon presiden. Hemat saya, berkoalisi dengan partai Megawati Soekarnoputri itulah yang menyebabkan Rachmawati Soekarnoputri keluar (atau dikeluarkan, bukan perkara pokok) dari Partai NasDem.

Rasanya sulit menghindarkan penjelasan lain kecuali bahwa semua itu gara-gara besarnya faktor perseteruan pribadi antara kakak dan adik, anak Soekarno, yang dibawa Rachmawati ke ranah politik. Rachmawati menilai Megawati hanyalah anak biologis Soekarno, bukan anak ideologis. Tersirat, Rachmawatilah yang mendaku sebagai anak ideologis. Akan tetapi, Rachmawati tak hanya berhenti di situ.

Suatu hari ia mengaku kecewa atas kepemimpinan Presiden Megawati. "Megawati sebaiknya mundur dari kursi kepresidenan," kata dia di sela-sela haul ke-32 Bung Karno di Blitar, Jawa Timur (20/6/2002). Setelah 10 tahun tidak berkuasa, Megawati dan PDI Perjuangan kembali berkuasa di era Presiden Jokowi dan kemudian yang paling hangat akhir-akhir ini mengusung Ahok menjadi calon Gubernur Jakarta.

Rachmawati tersinggung berat Megawati mengajak Ahok ke makam ayah mereka di Blitar (12/10/2016). "Manusia kayak begitu kok diajak." Di titik itulah psikologi politik personal Rachmawati terhadap kekuasaan Megawati sepertinya 'mendidih' kembali. Biografi politik singkat tersebut hanya ingin mengatakan Rachmawati bukan figur innocent.

Ia tidak polos (apalagi polos-polos amat) terhadap kekuasaan, khususnya dalam melihat siapa yang berkuasa serta eksisnya Megawati dan PDI Perjuangan di dalam kekuasaan itu. Bagaimana dengan tuduhan makar? Yang mendaku dirinya anak ideologi Bung Karno mestinya menegakkan kepala berani menghadapi pengadilan.

Anak ideologi kok menangis? Kepada DPR, hormatilah hukum, jangan obral diri membentuk pansus yang hanya merendahkan martabat diri sendiri.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.