Kuasa Jemari

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
10/1/2017 11:10
Kuasa Jemari
(Antara/Rivan Awal Lingga)

JUDUL di atas terinspirasi tulisan Bung Karno bertajuk Kuasanya Kerongkongan. Artikel ini dimuat majalah Panji Islam 1940. Ia menyoroti betapa siasat Adolf Hitler bisa merampas seluruh Jerman berkat kemampuan kerongkongan. Maksudnya propaganda yang disuarakan terus menerus, sistematis, dan masif, lekas sampai maksudnya. Makin banyak kerongkongan bekerja, propaganda semakin baik.

Masuk akal jika ada adagium yang sangat terkenal dari sang Fuhrer, Hitler. "Kebohongan yang diulang terus menerus bisa menjadi kebenaran". Ia memaksimalkan pengulangan, serupa mantra dalam membangun sugesti; dan sukses.

Adalah Willi Munzenberg yang menguliti dusta Hitler. Dalam buku Propaganda als Waffe (Propaganda sebagai Senjata), ia mengungkapkan betapa dusta propaganda Hitler memang dahsyat. Munzenberg yang juga propagandis ulung mengakui kekalahan kaum buruh melawan kaum Nazi, karena kalah memanfaatkan kerongkongan.

Masa Perang Dunia, propaganda ialah cara efisien 'menghipnotis' massa. Namun, kata Munzenberg, propaganda sejati tetaplah harus bertolak dari kebenaran. Ia menuju rasa dan akal, kepada kalbu dan otak, kepada perasaan dan pikiran. Sementara menurut Hitler sebaliknya.

"Dalam propaganda kita sama sekali tak boleh objektif," kata Hitler. Sebab, propaganda yang objektif akan membingungkan rakyat, para pengikut. Baginya propaganda jauh lebih penting daripada organisasi. Sebab, propaganda mencari pengikut, sedangkan organisasi mencari anggota. Bagi Hitler, orang besar ialah mereka yang mampu menggerakkan massa.

Menurut Bung Karno sesungguhnya selain Hitler, ada Jean Jures, pemimpin kaum buruh Prancis yang pidatonya jauh lebih menawan. Ia bertolak dari kebenaran fakta. Mendengar pidato Jures orang-orang merasa energi cintanya pada sesama kian bertambah. Sebaliknya, sehabis mendengar Hitler, masa tersihir menjadi agresif. Jika saja Jures tak ditembak mati, banyak yang menduga, bisa jadi Perang Dunia tak akan pecah.

Bung Karno juga menubuat, kekuasaan kerongkongan yang menyilaukan dan tak membangunkan pikiran akan cepat sirna. Fakta pun bicara, Nazi tak berdaya melawan Sekutu. Hitler mengakhiri hidupnya dengan tragis. Kejahatannya yang besar, membantai jutaan manusia, menimbulkan horor yang terus dikutuk sepanjang masa.

Dalam kepungan hoax alias kabar dusta yang amat merajalela di Indonesia, yang dinilai menjadi racun kelas tinggi memecah belah bangsa, terasa nyata ada jejak Hitler di situ, pendusta paling masyur sekaligus paling mengerikan dampaknya.

Orang-orang fanatik, para bigot itu, yang dimobilisasi dengan dusta, memang tak perlu lagi mengerti kebenaran sejati. Sebab, membangun sentimen tak butuh kebenaran. Kebenaran justru berbahaya untuk mencari pengikut sebanyak banyaknya.

Karena itu, para pembuat berita dusta, termasuk buku Jokowi Undercover yang ditulis Bambang Tri Mulyono, jika berisi kebohongan belaka, saya merasa mereka tengah mengikuti jejak Hitler, sang 'Raja Dusta'. Bedanya, mereka tak melakukannya lewat kuasa kerongkongan, melainkan kuasa jemari tangan. Lewat jemari tangan, kabar dusta ditulis, digandakan, dan disebarkan. Berulang-ulang.

Belajar dari Hitler, Jerman justru membangun diri seperti dikatakan Francis Fukuyama, negeri itu kini menjadi bangsa high trust societies, juga Jepang. Yakni bangsa yang berkepercayaan tinggi antarmasyarakatnya. Ini modal sosial berharga dalam mencapai kemajuan. Jerman dan Jepang adalah contoh terbaik.

Adapun kita justru keranjingan mengikuti dusta Hitler, meski dengan derajat berbeda. Berita dusta alias hoax sungguh menyuburkan prasangka dan fitnah. Kepercayaan antarkita pun kian merapuh. Inilah low trust societies, bangsa yang antarsesama berkepercayaan rendah. Sulit untuk bangkit dalam kondisi serupa ini. Inilah akibat kuasa jemari yang tak terkendali.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima