Birokrasi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
22/5/2015 00:00
Birokrasi
(Grafis/SENO)
KETIKA Joko Widodo menggulirkan gagasan revolusi mental, saya termasuk yang berseri-seri. Betapapun secara terminologi memang problematik, saya membayangkan Jokowi akan melakukan serupa Restorasi Meiji (Meiji Ishin) di Jepang (1866-1869) yang membuat negeri itu mencapai era modern setara Eropa Barat setelah dua abad dalam kegelapan. Perubahan besar-besaran di bidang politik dan sosial membuat Jepang menjadi bangsa yang punya etos tinggi. Senyum saya masih mengembang ketika Jokowi berkali-kali berkehendak merampingkan kementerian.

Ini mantap! Karena di era otonomi, sebagian wewenang sudah didelegasikan ke daerah, untuk apa birokrasi di pusat tetap gemuk? Bukankah itu berpotensi jadi lamban? Namun, senyum saya melindap karena pembagian kursi di kabinet mengubur janji Jokowi. Senyum saya kembali sedikit mengembang ketika ada perubahan nomenklatur, yakni Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat diubah menjadi Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Pikir saya, inilah kementerian yang akan menjadi andalan utama revolusi mental.

Sayang, sosok yang mengisi posisi itu, Puan Maharani, setidaknya yang saya tangkap, belum memperlihatkan kecakapannya memimpin kementerian yang amat strategis itu. Saya belum melihat gebrakannya yang fundamental selain kerap kampanye minum jamu. Beberapa menteri memang ada yang 'stel kenceng'. Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri melompat pagar ketika sidak di penampungan tenaga kerja yang tak layak. Menpan dan Rebiro Yuddy Krisnandi melarang rapat-rapat di hotel.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti langsung menyatakan 'Perang Bubat' kepada pencuri ikan. Agar tak berjarak dengan para bawahan, Mendagri Tjahjo Kumolo dan Mendikbud Anies Baswedan ogah dipanggil 'Pak Menteri', maunya 'Mas Menteri'. Oke, meski esensinya bukan itu. Soal penyakit birokrasi, bacalah buku Profesor Sondang P Siagian, Patologi Birokrasi: Analisis,Identifikasi dan Terapinya (1994).

Betapa gamblang dan lengkap contoh penyakit birokrasi yang lazim, antara lain malas, korup, tak jujur, tak cakap, nepotis, arogan, feodal, tak berorientasi prestasi, dan tak produktif. Di masa pemerintahan Yudhoyono, Menpan Taufik Effendi berkali-kali bilang hanya 55% PNS yang bekerja efektif. Namun, tak ada upaya serius membenahinya. Kini ada 34 kementerian, 28 lembaga pemerintah non-kementerian, dan 91 lembaga nonstruktural.

Seluruh institusi itu tak saja butuh nustrisi besar, tetapi juga fasilitas yang tak murah. Memang satu dua, ada institusi yang mulai menunjukkan perubahan. Namun, lebih banyak yang masih utuh. Kita sudah terlalu banyak membaca hasil survei internasional tentang pelayanan publiik, dan posisi Indonesia selalu berada di 'gerbong belakang'. Kita bosan dan malu dengan hasil itu. Wajah bopeng birokrasi kita seperti tak sembuh-sembuh!

Moratorium penerimaan PNS untuk sementara bagus. Akan tetapi, Jokowi tak boleh menunda terlalu lama untuk memberlakukan revolusi mental pertama-tama di kalangan birokrasi, yang kini berjumlah 4 juta manusia itu. Bagaimana sebuah 'mesin lama' yang tak dirawat bisa berpacu menyongsong hari depan yang kian ketat dalam persaingan? Memperingati 17 tahun reformasi, yang amat bergemuruh masih soal politik, tetapi terasa 'sepi' dalam birokrasi. Padahal, birokrasilah mesin pembangunan yang sebenar-benarnya.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.