BEBERAPA lagu grup band Koes Plus mengalun di sebuah restoran di Kota Beijing, siang itu, tiga tahun yang lalu. Kami, rombongan dari Indonesia, yang baru tiba dan tengah menahan lapar karena terlambat makan siang, merasa kaget dan dengan riang ikut menyanyikan lagu-lagu itu. Rasa lapar untuk sementara terobati. 'Bumi Nusantara yang indah agung dan mulia. Bumi Nusantara tiada bandingannya...'.
"Dari mana lagu itu?" Kami bertanya. "Tahun lalu seseorang dari Indonesia memberikan kepada kami. Lama-lama saya dengarkan enak juga. Setiap ada orang Indonesia, kami putar," jawab kasir restoran, perempuan berusia 40-an.
Itu kejutan pertama. Kejutan kedua ketika kami berkunjung ke sebuah pabrik dan toko batu giok terbesar di pinggiran Beijing. Di salah satu ruangan yang khusus menjual pernak-pernik perlengkapan sofa, di atas pintu masuk tertulis dalam bahasa Indonesia 'Alas Meja' sebelahnya dalam bahasa Inggris 'Table Clouth'. Begitu 'spesialnya' pembeli dari Indonesia!
Kejutan ketiga, ketika kami hendak meninggalkan lokasi pabrik batu giok, para pedagang suvenir menyerbu kami. "Lole, lole, lole, mulah, mulah." Ternyata maksudnya, "Rolex, Rolex, Rolex, murah, murah." Kami tertawa. "Dari mana kalian tahu kami dari Indonesia?" "Kami tahu orang Indonesia selalu bercanda riang. Suka belanja," salah seorang dari mereka menjawab.
Kejutan selanjutnya, ketika kami makan siang di sebuah restoran khusus muslim terbesar di luar Kota Beijing sepulang dari Great Wall. Di situ, juga ada musala. "Silakan, silakan," seorang petugas laki-laki yang memakai kopiah menyilakan kami mengambil air wudu.
Sehabis makan saya membaca artikel koran China Daily edisi 11 April 2012, 'Traditional Muslim Weddings with a Twist'. Diceritakan, pemuda Zhe Yagang menikahi Yang Liu dengan tradisi muslim, di sebuah restoran terkenal di Beijing. Zhe memakai kopiah dan Yang Liu memakai hijab, serta sang penghulu memakai jas warna hitam dan kopiah warna putih.
Pernikahan dengan tradisi muslim di sebuah restoran di Beijing rupanya tengah menjadi tren. Alasan mereka karena pakaian dengan tradisi muslim menarik, selain mereka memang muslim. Pihak restoran juga menyediakan aneka pakaian muslim. Biasanya mereka menikah di akhir pekan.
Kini Islam di Tiongkok terus berkembang. Ada sekitar 22 juta muslim di 'Negeri Tirai Bambu'. Bahkan, ada sumber yang menyebut sekitar 100 juta dari sekitar 1,3 miliar penduduk. Indonesia dengan penduduk muslim terbesar tentu bisa menjadi salah satu kunci hubungan keduanya bisa lebih dekat. Terlebih Presiden Xi Jinping telah mencanangkan menghidupkan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 dan Presiden Jokowi punya Poros Maritim Dunia.
Dengan beberapa 'kejutan' itu saya merasa hubungan Indonesia-Tiongkok kian dekat. Hanya ketika melihat neraca perdagangan kedua negara yang tak seimbang, perasaan jadi lemas.Pada 2013 ekspor Indonesia ke Tiongkok US$22,6 miliar, sementara impor negeri itu US$29,8 miliar. Pada 2014 lebih anjlok. Periode Januari-Oktober, ekspor Indonesia ke Tiongkok hanya US$14,6 miliar, sedangkan impor Tiongkok US$25,0 miliar.
Karena itu, di Tahun Baru Imlek 2566 ini, penting bagi pemerintahan Jokowi untuk bekerja amat keras agar ekspor kita bisa mendekat, seimbang, syukur bisa melewati impor Tiongkok. Dengan neraca perdagangan yang lebih seimbang setidaknya kita bisa mengucapkan Gong Xi Fa Cai lebih lantang.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima