Kesenjangan

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
24/12/2016 06:00
Kesenjangan
(ANTARA/Andika Betha)

DI Desa Selo, Boyolali, banyak warga menjalankan usaha pertanian.

Dinginnya cuaca di kaki dimanfaatkan dengan menanam tembakau.

Ketika ditanya berapa pendapatan dari bercocok tanam, seorang petani menjawab, pendapatan enam bulan menanam tembakau sekitar Rp1,5 juta.

Kita pasti geleng-geleng kepala mengetahui ada satu keluarga pendapatan per bulannya Rp250 ribu.

Namun, itulah potret kehidupan sebagian masyarakat kita.

Sementara itu, ada orang sekali makan di restoran bisa mengeluarkan Rp250 ribu.

Kesenjangan merupakan salah satu persoalan besar. Setelah reformasi yang kita anggap sebagai koreksi terhadap arah pembangunan yang tidak memberikan pemerataan, justru kesenjangan itu semakin parah.

Fakta itu semakin nyata kalau kita melihat data perbankan. Bagian terbesar aset hanya dimiliki segelintir orang.

Penguasaan tanah dan properti lebih mengerikan lagi.

Tanah dan properti hanya dikuasai oleh enam kelompok usaha.

Kalau persoalan ini tidak juga diselesaikan, itu akan menjadi bibit gejolak sosial.

Sangat mudah kondisi ini direfleksikan sebagai ketidakadilan.

Kesempatan itu ternyata tidak dimiliki oleh semua warga.

Langkah koreksi paling masuk akal ialah menerapkan pajak lebih berkeadilan.

Itulah upaya distribusi kemakmuran yang bisa diterima semua pihak.

Kita menghargai langkah Menkeu Sri Mulyani Indrawati melanjutkan reformasi pajak yang terhenti selama 10 tahun.

Perbaikan sistem dan pembenahan sumber daya manusia tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Hanya saja itu tidak memadai.

Ahli ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Anggito Abimanyu, mengusulkan langkah lebih radikal.

Pertama ialah menambah jumlah aparat pajak dan kedua menerapkan sistem target yang harus bisa dicapai setiap petugas pajak.

Anggito membandingkan organisasi Ditjen Pajak dengan BRI.

BRI untuk mengelola aset yang nilainya tidak lebih Rp200 triliun memiliki pegawai sekitar 120 ribu orang.

Ditjen Pajak yang harus mengejar target Rp1.400 triliun jumlah pegawainya tidak lebih dari 40 ribu orang. Tentu jumlah saja tidak menjawab persoalan.

Yang tidak kalah penting bagaimana target pajak itu dibagi kepada setiap aparat di lapangan.

Tidak mungkin dengan cara seperti sekarang, yang tidak ada punish and reward atas kinerja yang diraih.

Apakah kita mampu melakukan transformasi? Kapasitas bangsa ini sebenarnya besar.

Kita bisa lihat transformasi yang dilakukan PT Pertamina atau PT Kereta Api Indonesia.

Kuncinya tinggal memilih orang yang tepat untuk melakukan transformasi dan pimpinan lebih mengarahkan.

Kalau transformasi bisa dilakukan di Ditjen Pajak, kemampuan negara menggerakkan pembangunan semakin besar.

Dengan produk domestik bruto terus meningkat, penerimaan pajak seharusnya bisa meningkat.

Sayangnya, rasio pajak kita tidak pernah beranjak pada angka 11%-12%.

Di sinilah tanggung jawab mereka yang mendapatkan privilese dan memiliki kelebihan untuk lebih patuh membayar pajak.

Pajak yang dibayarkan itu membuat pemerintah bisa melakukan kegiatan mengurangi kesenjangan.

Tentu bukan cara memberikan ikan, tetapi pancing agar masyarakat kelompok bawah bisa lebih berdaya.

Kita harus sadar, mengurangi kesenjangan tidak bisa seketika.

Kita harus memulainya sekarang karena esok jangan-jangan kecemburuan sudah terjadi.

Itu bisa membuyarkan pembangunan yang sudah susah payah kita lakukan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima