Menunggu Sejarah

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
16/12/2016 05:31
Menunggu Sejarah
(AP Photo/Achmad Ibrahim)

JUDUl itu bukanlah sebuah nubuat hampa bagi Timnas Indonesia. Harapan dan takdir kemenangan selalu punya banyak alasan untuk bicara. Berkali-kali masuk final (ini ke lima kali) tapi belum pernah juara; rasa teralienasi dari palagan antarnegara selama satu setengah tahun karena dilarang FIFA; persiapan yang minim dan tim yang tak diunggulkan, inilah senerai ketidakberuntungan yang justru menjadi motivasi tinggi.

Ia menjadi vitamin yang menguatkan. Stadion Pakansari, Bogor, pun menjadi saksi motivasi tinggi itu mampu mengempaskan sang juara bertahan Thailand 2-1. Inilah putaran pertama Final Piala AFF 2016 yang menegangkan: menguras emosi, juga air mata. Dua anak kami yang sulung dan bungsu, malam itu ada di antara puluhan ribu penonton yang riuh.

Kakak-beradik itu membawa bendara Merah-Putih yang terus dikibarkan dengan gempita setelah Rizky Pora menjebol gawang anak-anak asuhan Kiatisuk Senamuang itu. Mereka menjadi anasir 12 Timnas Indonesia yang Rabu malam lalu berjihad merebut mahkota juara. Saya tengah menghadiri sebuah acara ketika laga itu berjalan, sebentar mencuri waktu, mengintip babak pertama laga via live streaming di laptop.

Dibobolnya gawang Kurnia Mega oleh Teerasil Dangda pada menit ke-33 dan tim kita yang terus tertekan, membuat kami jadi setengah patah arang. Laptop segera kami tutup, lalu meneruskan acara, dan pulang dengan kecemasan terpilin-pilin. Namun, misteri si kulit bundar, terus jadi asa yang tak sirna. Bukankah Irak yang porak poranda karena perang jadi kampiun Piala Asia 2007?

Ia mengalahkan Arab Saudi yang damai dan makmur. Bukankah Korea Selatan mampu menghancurkan keperkasaan Italia dan Spanyol pada Piala Dunia 2002? 'Si anak bawang' Yunani juga mampu mengubur mimpi Portugal di final Piala Eropa 2004. Di Asia Tenggara Thailand memang kini tengah di puncak jaya, tapi kita pernah beberapa kali mengalahkannya. Jadi, ia bukanlah batu karang. Terbukti setelah Rizky Pora, Hansamu Yama Pranata, bek yang jangkung itu, mampu menghancurkan benteng Thailland.

Kami merayakan kemenangan di sebuah kedai mi Aceh tak jauh dari rumah. Dua anak kami yang pulang dengan sepatu penuh lumpur, melahap mi goreng special yang gusto sambil terus bercerita suasana tegang berubah menjadi penuh gloria. Padahal, banyak di antara mereka datang dari berbagai tempat jauh, antre tiket sejak pagi buta, kehilangan barang berharga, tapi malam itu seluruh penat dan letihnya tertebus sudah.

"Hanya ada kegembiraan luar biasa di stadion," kata si sulung. "Beruntung bisa nonton langsung. Indonesia konsisten memasukkan dua gol," tambah si bungsu. Saya memastikan mereka yang berbeda panggung dalam banyak aksi, seperti 'Aksi 411', 'Aksi 3011', ' Aksi 212', dan 'Aksi 412', malam itu menjadi satu hati dukung Timnas Indonesia atau 'Aksi 1412'. Saya baca banyak kicauan twitter yang berbeda, saling sapa untuk bola. Bola memang saling menumbangkan tetapi juga menyatukan. Bola membuat yang egois menjadi altruis.

Yang soliter menjadi solider. Yang berbeda menjadi bersama. Terlebih, kini bola menjadi permainan yang kian nikmat saja dihubungkan dengan hal-hal di luar bola. Ia bisa menjadi drama epik atau tragedi tergantung takdir mengukirnya sebagai pemenang atau pecundang. Pertemuan Argentina vs Inggris, Jerman vs Belanda, Jepang vs Korea Selatan, atau Indonesia vs Malaysia, kerap menghadirkan penggalan sejarah perseteruan mereka di masa lalu.

Bola memang 'perang' antarbangsa paling beradab, penuh estetika, dan amat menghibur. Saya tak bosan menulis Timnas Indonesia. Pekan silam setelah Indonesia mengandaskan Vietnam dengan agregat 4-3, saya menulis kolom berjudul 'Bola Kita'. Saya memang ingin pelatih Alfred Riedl, mengukir sejarah.

Kita ingin kapten Boaz Salossa menuntaskan dedikasi yang penuh makna. Kita ingin Kurnia Mega, Manahati Lestusen, Stefano Lillipaly, Rizky Pora, Hansamu Yama, Benny Wahyudi, dan seluruh pemain yang beragam latar belakang itu, menggenapkan kebanggaan itu: merekatkan kebangsaan kita yang hampir merapuh.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.