Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI hari kahirannya kisah Nabi Muhammad SAW dihidupkan kembali. Peringatan kelahiran sang Nabi menggema di banyak tempat (ibadah), meski ada yang berpendapat peringatan serupa itu bid'ah. Ucapan selamat memeperingati Maulid Nabi, khususnya di media sosial, juga lebih ramai, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seperti ada ghirah baru 'menapaktilas' jejak Nabi terakhir penyebar agama samawiu. Status facebook umumnya juga berisi tentang Muhammad. Saya kutip status facebook intelektual Komaruddin Hidayat, kemarin (12-12).
"Riwayat hidup Nabi Muhammad paling komplit dibaca ketimbang nabi-nabi sebelumnya....Yang paling monumental adalah mushaf Alqur'an yang tersebar dan dipelajari di seluruh dunia. Semua warisannya dijaga dari generasi ke generasi. Jika terjadi perbedaan penafsiran bisa ditelusuri mata rantai sejarahnya dan asal usul mazhab dengan metode tafsirnya. Penafsiran itu relatif, namun sumbernya absolut dan sakral. Meminjam frase Hussein Nashr, produk penafsiran itu relatively absolut, absolutely relative. Tapi tidak setiap orang punya otoritas menafsirkan karena mensyaratkan kedalaman dan keluasan ilmu," tulis mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah itu..
Mereka mengangkat keteladanan Rasulullah diberi predikat al-amin (jujur), adil, penyabar, dan pemaaf. Ini agaknya karena belakangan hubungan kita agak menegang karena perbedaan pendapat dalam kasus Ahok. Kisah Sang Nabi diharapkan bisa mendinginkan suasana. Sebab, ghibah (menjelekkan orang lain), naminah (menghasut) atau mengacum, bahkan ajujah (fitnah), sepert menjadi sisi paradoks kita yang paling nyata. Mengacum para pengikut yang mudah digerakkan tanpa akal sehat, memang seperti kegemaran baru bangsa ini.
Padahal, di banyak ceramah dan khotbah para pendakwah selalu mengingatkan agar kita selalu menjauh dari seluruh perkara yang tercela; melakukan tabayun untuk perkara-perkara yang belum jelas. Tetapi, media sosial telah menjadi 'tong sampah raksasa' yang menampung apa saja: sumpah serapah, caci maki, kebencian, amarah. Nabi yang adil dan pemaaf itulah yang juga 'diperebutkan' dalam kasus Ahok. Ia telah meminta maaf berkali-kali, tetapi jalan hukum telah ditetapkan menjadi pembuktian siapa salah dan siapa yang benar. Hari ini kasusnya pun mulai disidangkan.
Ghibah dan fitnah memang hidup di segala zaman. Di masa Nabi ada sosok bernama Abdullah ibn Ubay yang tak pernah berhenti mengacum kaum Anshar dan Muhajirin. Para sahabat Nabi geram, bahkan ingin membunuh ibn Ubay, tetapi Muhammad justru memafkannya. Orang ini pula yang kemudian bersama Misthah ibn Utsatsah, Hassan ibn Tsabit, Hamna bin Yahsy, berkomplot untuk membuat fitnah yang lebih keji pada istri Nabi, yakni Aisyah. Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad (2015) yang ditulis sejarawan kenamaan Mesir, Muhammad Husain Haekal, diceritakan mereka menfitnah Aisyah berzinah dengan pemuda tampan, Shafwan.
Inilah fitnah keji yang membuat penduduk Madinah gempar dan hubungan Muhammad dan Aisyah pun nyaris beku. Mereka kemudian dihukum dera setelah turun wahyu Surat Al-Nur yang salah satu ayatnya mengatakan orang yang menuduh wanita baik-baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka.... Namun, setelah menjalani hukuman, Muhammad menerima kembali mereka dengan hangat. Tak ada benci, tak ada dendam.
Ada pula pemanah bernama Suraqah bin Malik al-Madlaji. Ia peserta sayembara membunuh Muhammad untuk mendapatkan bayaran 100 unta betina yang siap beranak. Tetapi, setelah Suraqah gagal menjalankan misinya, Nabi justru memaafkannya. Begitu banyak teladan Muhammad yang menjadi pemandu dan obor penerang umat. Mestinya momen peringatan hari kelahirannya menjadi oasis bagi jiwa-jiwa kita yang penuh kebencian dan prasangka. Saatnya berhenti mengacum, adu domba, dan ajujah.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved