Aksi Membangun

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
07/12/2016 05:31
Aksi Membangun
(ANTARA FOTO/Rahmad)

TANPA terasa tinggal tersisa tiga pekan 2016 ini akan kita lewati. Pertanyaan besar, apa yang sudah kita lakukan sepanjang tahun ini? Apakah kita sudah memanfaatkan secara optimal bagi perbaikan kehidupan keluarga kita dan juga bangsa ini? Begitu banyak waktu yang diberikan agar kita bisa meraih kebaikan. Namun, jujur harus kita katakan, banyak waktu yang kita tidak pergunakan untuk kegiatan yang produktif.

Setidaknya sebulan terakhir ini, kita terlibat dalam kontroversi yang nyaris tiada berakhir. Syukurlah kita masih bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa mengelola perbedaan secara bermartabat. Tidak seperti bangsa-bangsa lain yang perbedaan di antara mereka berakhir dengan pertumpahan darah, kita menyelesaikan perbedaan dengan elegan. Pantaslah bila bangsa lain memuji apa yang kita sudah pertontonkan. Bagaimana Jumat lalu orang bisa berkumpul dengan jumlah yang begitu besar, tetapi semua bisa begitu disiplin. Mereka tidak hanya khusyuk berdoa, tetapi juga mampu menjaga kebersihan kota.

Tidak usah heran apabila peristiwa itu tidak berpengaruh kepada pasar modal maupun pasar uang. Bahkan kita melihat penguatan kembali indeks harga saham gabungan setelah terpuruk sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS. Kalau aksi seperti Jumat lalu bisa kita gunakan untuk membangun negeri ini, pasti hasilnya akan luar biasa. Salah satu yang membuat bangsa Jepang atau Korea bisa maju ialah karena mereka memiliki disiplin tinggi. Ditambah sistem yang
kuat, mereka menjadi negara industri maju.

Itulah yang sebenarnya kita dambakan. Indonesia menjadi negara industri maju. Dengan modal sumber daya alam yang luar biasa, kita seharusnya bisa lebih maju daripada bangsa Jepang atau Korea. Namun, karena kita tidak pernah memanfaatkan kekuatan manusia, kita bahkan tertinggal jauh dari bangsa Singapura. Untuk itulah kita perlu melakukan revolusi pada sisi manusia. Bagaimana kita menjadi bangsa yang mampu membangun disiplin dan etos kerja.

Dengan itulah maka kita akan bisa menghasilkan produk dan bahkan mengembangkannya menjadi produk yang berkualitas lebih tinggi lagi. Sayang 71 tahun kita merdeka, kita hanya mengandalkan sumber daya alam sebagai sumber kemajuan. Ketika sekarang harga komoditas terpuruk, perekonomian kita pun terpuruk. Kita seperti kehilangan daya untuk bisa memajukan negeri ini. Setelah peristiwa 2 Desember lalu seharusnya tidak ada keraguan bagi kita untuk membangun disiplin dan etos kerja. Kalau pemimpin bangsa ini bisa mengelola dengan lebih tepat, kita bisa bangkit untuk mengatasi ketertinggalan dan meraih masa depan yang lebih baik.

Ada pemikiran yang dilontarkan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Tanri Abeng untuk menjadikan desa sebagai kekuatan ekonomi. Dengan menggerakkan 56 juta petani, nelayan, serta usaha kecil dan menengah, kita tidak hanya akan mendapatkan pertumbuhan, tapi juga secara bersamaan melakukan pemerataan. Dengan pendekatan itu, stabilitas yang kita dapatkan akan lebih solid. Selama ini kita lebih terfokus mengejar pertumbuhan semata. Akibatnya pembangunan memang
bisa dipacu, tetapi begitu banyak warga yang tertinggal.

Ketika kekecewaan itu semakin memuncak, rasa ketidakadilan itu mencuat. Pelajaran penting yang kita dapatkan, marilah membangun negeri yang bisa menyejahterakan kita bersama. Jangan biarkan kesenjangan itu semakin melebar. Negara harus hadir untuk memberikan pemihakan kepada yang tertinggal. Jangan hanya kelompok yang sudah beruntung terus mendapatkan privilese.

Kedamaian pasti akan bisa kita dapatkan apabila semua pihak menikmati hasil pembangunan ini. Ketika semua merasakan kemajuan, pasti tidak mudah untuk kecewa. Pemerintah pun bisa terus fokus untuk membangun negeri ini karena stabilitas akan membuat orang tidak ragu untuk menanamkan modal di Indonesia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima