Nasihat Begawan

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
03/12/2016 06:00
Nasihat Begawan
(ANTARA/Widodo S. Jusuf)

LAMA tidak bersuara, Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof Boediono berbicara tentang kondisi ekonomi.

Dalam diskusi Tantangan Pengelolaan APBN di Kementerian Keuangan, Boediono mengingatkan kita agar tak mudah mengutak-atik Undang-Undang Nomor 17/2003 terkait dengan batasan defisit anggaran.

Mulai terdengar ide untuk memperlebar batasan defisit anggaran. Batasan 3% yang berlaku sekarang terlalu membatasi ruang gerak pemerintah untuk berutang.

Padahal, pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur.

Memang terlalu lama infrastruktur tidak ditangani dengan baik.

Akibatnya, kelancaran produksi dan daya tarik investasi terganggu.

Langkah pemerintahan Joko Widodo mengalihkan subsidi yang tidak produktif ke pembangunan infrastruktur sudah benar.

Hanya, keberuntungan tidak berpihak sekarang ini.

Perlambatan ekonomi dunia membuat penerimaan negara sudah dua tahun terakhir jauh di bawah target.

Untuk itulah ada niatan memperlebar batasan pinjaman guna memenuhi biaya pembangunan infrastruktur.

Karena rasio utang Indonesia berada di bawah 40%, peningkatan batasan defisit sampai 5% pun dianggap masih aman.

Mantan Wakil Presiden Boediono mengingatkan penambahan utang negara bisa membawa risiko di kemudian hari.

Yang paling berbahaya ialah keasyikan untuk terus berutang dan akhirnya memancing tarik-menarik kepentingan politik.

Belum lagi gejolak perekonomian dunia yang bisa menjerembapkan perekonomian kita.

Baik Menkeu Sri Mulyani maupun Gubernur BI Agus Martowardojo mengingatkan pelebaran batasan defisit tidak bisa dilakukan sepihak.

Ketika masyarakat internasional tidak memercayai kemampuan keuangan kita, pelebaran itu bisa berdampak pada penurunan kepercayaan dunia.

Atas dasar itu, kita perlu mengendalikan ambisi. Jangan sampai kita lebih besar pasak daripada tiang.

Lebih baik kita bersikap prudent agar keberlanjutan pembangunan bisa dijaga.

Langkah pertama yang lebih baik dilakukan ialah memperkuat sistem keuangan.

Bulan lalu Presiden sudah mencanangkan gerakan menabung. Kita harus memperdalam produk keuangan agar bisa mengoptimalkan sumber daya masyarakat.

Global Market Strategist at JP Morgan Hong Kong Ben Luk, dalam diskusi yang diselenggarakan Citibank, menyebut potensi Indonesia luar biasa.

Dana milik masyarakat yang disimpan dalam bentuk deposito mencapai 64%.

Padahal, di Singapura, dana yang disimpan di perbankan hanya 32%.

Dangkalnya instrumen keuangan di Indonesia membuat ketergantungan kepada pinjaman luar negeri begitu besar.

Konsekuensinya, perekonomian Indonesia terlalu mudah terguncang oleh perekonomian global.

Sekarang ini rupiah tiba-tiba terdepresiasi begitu dalam hanya karena pemilihan presiden AS.

Defisit neraca transaksi berjalan bisa melonjak ketika kebutuhan impor meningkat.

Bila dilihat dari rasio utangnya, India sebenarnya lebih buruk daripada Indonesia.

Namun, gejolak ekonomi mereka tidak pernah seberat Indonesia karena mereka mempunyai instrumen keuangan yang lebih kuat.

Dana pensiun ataupun dana asuransi India bisa menyerap obligasi yang dikeluarkan pemerintah sehingga tidak perlu terlalu bergantung pada modal dari luar.

Hal lain yang bisa ditempuh untuk membiayai pembangunan infrastruktur ialah meniru strategi yang diterapkan Tiongkok.

Biaya pembangunan di sana tidak sepenuhnya ditumpukan kepada APBN. Pemerintah Beijing memberikan kompensasi pengelolaan lahan kepada swasta yang mau ikut membangun infrastruktur.

Masih banyak cara untuk membiayai infrastruktur.

Tidak perlu bernafsu memperbesar utang.

Tinggal dibutuhkan kecerdasan untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki negara ini.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.