Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH pohon bisa menjadi jutaan batang korek api. Pun sebatang korek api bisa membakar jutaan pohon. Hanya dengan sebatang korek api yang supermini itu ribuan hektare hutan bisa membara. Hanya dengan sebatang korek api juga bisa membakar apa saja. Hanya dengan sebatang korek api kita bisa kehilangan seluruh bangunan harapan yang telah lama kita kukuhkan.
Ada sebuah amsal menarik tentang benda itu korek api, ada kepalanya, tapi tak ada otak nya, disulut menyala. Karena punya kepala tapi tak punya otak, ia akan menyala dan membakar sesuai hasrat siapa yang menyulutnya. Batang korek api tak bisa berkata tidak! Ia takluk belaka. Karena itu, ‘bermain-main’ korek api bisa dipastikan menjadi kegemaran mereka yang suka ‘bermain api’. Hari-hari ini, ketika syak wasangka seperti dibuhulkan dan kebencian kerap diumbar di ruang publik, agaknya kita perlu membaca lagi tentang amsal korek api itu.
Hari-hari ini ketika kita melihat rasa geram bahkan dendam mudah saja diujarkan, saya khawatir batang korek api tengah dinyalakan. Hari-hari ini ketika gibah dan fitnah menjadi kegemaran dalam perhelatan politik, saya merasakan para ‘pemain’ dengan sukacita seperti mulai menyalakan batang-batang korek api. Syair Ronggowarsito tentang zaman edan mungkin benar; yang tak ikut edan tidak mendapat bagian.
Namun, bukankah menurut sang pujangga itu yang paling beruntung tetaplah manusia yang ingat dan berhati-hati, yang waspada. Waspada butuh proses pikiran sehat. Dalam khazanah Nusantara, ada banyak aforisme yang mengingatkan pentingnya kita menggunakan akal sehat. Beberapa di antaranya, ‘berakal ke lutut, berontak ke empu kaki’. Inilah orang yang sewenang-wenang, yang penting tujuannya tercapai.
Karena itu, dalam hari-hari ketika sumpah serapah memenuhi udara media sosial kita, tak salah jika membaca kembali peribahasa ini, ‘Lubuk akal tepian ilmu’. Artinya, kalau butuh nasihat, mintalah pada orang pandai yang bijak bestari. Kenapa? Karena, ‘Lubuk akal, gedung bicara’. Artinya, orang pandai dan bijaksana tak akan menyesatkan. Kini, di hari-hari ketika siapa pun boleh bicara tentang apa saja dan memakai segala cara untuk mencapai tujuan, saya merasa mereka yang semula saya pahami sebagai sosok yang bisa menjadi ‘Lubuk akal, gedung bicara’, ternyata gemar ‘Berakal ke lutut berontak ke empu kaki’.
Mereka dengan sekehendak hati mudah saja memainkan batang-batang korek api itu. Ada lagi peribahasa ‘Hidup berakal, mati beriman’. Ini nasihat agar kita melakukan sesuatu dengan akal sehat untuk sebuah keyakinan. Pas tilah akal sehat pula yang menghendaki negeri ini menjadi ‘Republik Harapan’, bukan ‘Republik Kecemasan’. Meminjam judul pidato kebudayaan Rocky Gerung beberapa tahun lalu, merawat Republik, berarti mengaktifkan akal sehat.
Karena itu, Aksi Superdamai hari ini kita yakini menjadi bagian penting upaya merawat Republik. Aksi penuh munajat ini ialah ikhtiar yang menempatkan agama teramat mulia. Inilah ekspresi dari religiositas kita yang penuh iman percaya bahwa tempat tertinggi bermohon dan berlindung ialah pada Sang Illahi. Karena itu, yang harus dijauhkan ialah upaya \yang bisa merusak kemuliaan doa-doa yang penuh munajat itu.
Penamaan Aksi Super damai ialah bukti bahwa akal sehat telah membimbing para pemimpin aksi untuk melakukan perubahan nama, bentuk, dan lokasi aksi, dari yang lalu-lalu. Kini Aksi Superdamai sepenuhnya dilakukan di kawasan Monumen Nasional. Bukan di depan Istana Merdeka. Kini kita semua menunggu. Bahwa kecemasan ada yang berupaya menyalakan korek api di acara yang suci itu tidak terjadi. Kita berharap dan meyakini bahwa iman dan akal sehatlah yang berpadu untuk menguatkan ‘Republik Harapan’ ini.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved