Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ROHINGYA ialah tragedi kemanusiaan yang lengkap.
Mereka seperti ditakdirkan mengarungi nasib yang kelam sejak lama, pun ketika demokrasi tengah bersemi di Myanmar kini.
Di tanah air mereka, Negara Bagian Rakhine yang kaya sumber daya alam itu terus dimiskinkan.
Karena miskin, mereka dianggap sebagai beban. Rezim militer mencoret posisi mereka yang resmi dari konstitusi.
Negara justru memprovokasi kaum fundamentalis agama untuk memusuhi mereka.
Rohingnya ialah benteng hidup karena kekerasan yang dilakukan negara. Ada upaya sengaja pembersihan etnik di sana.
Menurut Siegfried Wolf, Kepala Bidang Penelitian South Asia Democratic Forum (SADF) di Brussels, Rohingya dianggap sebagai saingan dan ancaman bagi identitas Myanmar.
Karena itu, pekerjaan dan bisnis di Rakhine sebagian besar dikuasai kelompok elite Burma.
Rasa tak suka warga Buddha terhadap Rohingya bukanlah masalah agama semata, melainkan politik dan ekonomi juga.
Itulah penyebab utama konflik di Rakhine sulit mereda.
Menurut Wolf, Rohingya yang berjumlah sekitar 1 juta jiwa bukanlah etnik utama di Rakhine, mayoritas ialah etnik Burma.
Namun, negara seperti selalu membenturkan muslim Rohingya dengan warga mayoritas beragama Buddha.
"Warga yang fundamental mengklaim bahwa kebudayaan Buddha serta masyarakat terdesak oleh warga muslim. Apalagi Myanmar dikelilingi negara yang mayoritas beragama Islam, seperti Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia. Warga Rohingya dianggap ancaman terhadap gaya hidup dan kepercayaan Buddha," kata Wolf dalam sebuah wawancara.
Para analis memprediksi masalah Rohingya hanya bisa tercapai jika elite Myanmar yang memerintah, serta para pengambil keputusan, mengubah pola pikir mereka.
Namun, perebutan sumber daya alam, keuntungan dari proyek-proyek pembangunan, dan bangkitnya kelompok fundamentalis Buddha mungkin akan mencegah itu terjadi.
Proses demokrasi setelah Partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi menang dan sahabat dekat Aung, Htin Kyaw, terpilih menjadi presiden Myanmar mengakhiri rezim militer selama lima dekade.
Namun, demokrasi baru tumbuh, belum kukuh.
Kata Wolf lagi, Myanmar punya sistem politik berdasar kekuasaan mayoritas tanpa proteksi secara institusional bagi hak-hak warga minoritas. Ini memang bahaya.
Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang kini menjabat menteri luar negeri, seperti di persimpangan jalan.
Pejuang demokrasi itu membiarkan nasib Rohingya dihabisi di negerinya, terlunta-lunta di beberapa negara.
Wajar banyak pihak menuntut Hadiah Nobel itu dicabut.
Kini ada puluhan ribu suku Rohingnya tersebar di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Sementara itu, yang terus berupaya membebaskan diri keluar dari tanah air mereka tak akan berhenti meski dengan risiko kematian.
Demi sebuah harapan, mereka tak peduli siapa pun yang menghalangi.
Aneh jika Indonesia sebagai pendiri ASEAN tak bisa mencari solusi atas derita Rohingya.
Kedekatan Indonesia dengan Tiongkok mestinya juga bisa dimainkan untuk mendesak negeri itu menekan Myanmar.
Kita tahu Tiongkok ialah kawan dekat Myanmar sejak lama.
Tragedi Rohingnya, kata seorang pemirsa Bedah Editorial Metro TV berjudul 'Tragedi Kemanusiaan Rohingnya' Sabtu (26/11) silam, ialah sebuah pelajaran berharga bagi Indonesia.
Maksudnya Indonesia yang mempunyai Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa jangan sampai serupa Myanmar yang menyuburkan diskriminasi.
Di Myanmar negara jelas-jelas mempraktikkan tirani mayoritas secara telanjang.
Saya kira, Myanmar justru harus banyak belajar dari Indonesia dalam mengelola keberagaman dan demokrasi.
Indonesia punya fondasi yang jauh lebih kukuh secara konstitusi.
Terlebih jika terus-menerus dikuatkan dalam praktik kehidupan.
Namun, sejujurnya, fondasi bisa rapuh jika negara tak dengan sekuat tenaga mewujudkan keadilan sosial.
Kesenjangan ekonomi, seperti berkali-kali saya tulis di forum ini, akan menggerus demokrasi seberapa pun kuat fondasi itu dibangun secara teori.
Jelasnya, kesenjangan yang lebar menganga ialah bom waktu. Saya berharap mestinya Nawa Cita menjadi jawaban itu semua.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved