Rohingya dan Kita

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
29/11/2016 06:00
Rohingya dan Kita
(AFP/STR)

ROHINGYA ialah tragedi kemanusiaan yang lengkap.

Mereka seperti ditakdirkan mengarungi nasib yang kelam sejak lama, pun ketika demokrasi tengah bersemi di Myanmar kini.

Di tanah air mereka, Negara Bagian Rakhine yang kaya sumber daya alam itu terus dimiskinkan.

Karena miskin, mereka dianggap sebagai beban. Rezim militer mencoret posisi mereka yang resmi dari konstitusi.

Negara justru memprovokasi kaum fundamentalis agama untuk memusuhi mereka.

Rohingnya ialah benteng hidup karena kekerasan yang dilakukan negara. Ada upaya sengaja pembersihan etnik di sana.

Menurut Siegfried Wolf, Kepala Bidang Penelitian South Asia Democratic Forum (SADF) di Brussels, Rohingya dianggap sebagai saingan dan ancaman bagi identitas Myanmar.

Karena itu, pekerjaan dan bisnis di Rakhine sebagian besar dikuasai kelompok elite Burma.

Rasa tak suka warga Buddha terhadap Rohingya bukanlah masalah agama semata, melainkan politik dan ekonomi juga.

Itulah penyebab utama konflik di Rakhine sulit mereda.

Menurut Wolf, Rohingya yang berjumlah sekitar 1 juta jiwa bukanlah etnik utama di Rakhine, mayoritas ialah etnik Burma.

Namun, negara seperti selalu membenturkan muslim Rohingya dengan warga mayoritas beragama Buddha.

"Warga yang fundamental mengklaim bahwa kebudayaan Buddha serta masyarakat terdesak oleh warga muslim. Apalagi Myanmar dikelilingi negara yang mayoritas beragama Islam, seperti Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia. Warga Rohingya dianggap ancaman terhadap gaya hidup dan kepercayaan Buddha," kata Wolf dalam sebuah wawancara.

Para analis memprediksi masalah Rohingya hanya bisa tercapai jika elite Myanmar yang memerintah, serta para pengambil keputusan, mengubah pola pikir mereka.

Namun, perebutan sumber daya alam, keuntungan dari proyek-proyek pembangunan, dan bangkitnya kelompok fundamentalis Buddha mungkin akan mencegah itu terjadi.

Proses demokrasi setelah Partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi menang dan sahabat dekat Aung, Htin Kyaw, terpilih menjadi presiden Myanmar mengakhiri rezim militer selama lima dekade.

Namun, demokrasi baru tumbuh, belum kukuh.

Kata Wolf lagi, Myanmar punya sistem politik berdasar kekuasaan mayoritas tanpa proteksi secara institusional bagi hak-hak warga minoritas. Ini memang bahaya.

Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang kini menjabat menteri luar negeri, seperti di persimpangan jalan.

Pejuang demokrasi itu membiarkan nasib Rohingya dihabisi di negerinya, terlunta-lunta di beberapa negara.

Wajar banyak pihak menuntut Hadiah Nobel itu dicabut.

Kini ada puluhan ribu suku Rohingnya tersebar di banyak negara, termasuk di Indonesia.

Sementara itu, yang terus berupaya membebaskan diri keluar dari tanah air mereka tak akan berhenti meski dengan risiko kematian.

Demi sebuah harapan, mereka tak peduli siapa pun yang menghalangi.

Aneh jika Indonesia sebagai pendiri ASEAN tak bisa mencari solusi atas derita Rohingya.

Kedekatan Indonesia dengan Tiongkok mestinya juga bisa dimainkan untuk mendesak negeri itu menekan Myanmar.

Kita tahu Tiongkok ialah kawan dekat Myanmar sejak lama.

Tragedi Rohingnya, kata seorang pemirsa Bedah Editorial Metro TV berjudul 'Tragedi Kemanusiaan Rohingnya' Sabtu (26/11) silam, ialah sebuah pelajaran berharga bagi Indonesia.

Maksudnya Indonesia yang mempunyai Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa jangan sampai serupa Myanmar yang menyuburkan diskriminasi.

Di Myanmar negara jelas-jelas mempraktikkan tirani mayoritas secara telanjang.

Saya kira, Myanmar justru harus banyak belajar dari Indonesia dalam mengelola keberagaman dan demokrasi.

Indonesia punya fondasi yang jauh lebih kukuh secara konstitusi.

Terlebih jika terus-menerus dikuatkan dalam praktik kehidupan.

Namun, sejujurnya, fondasi bisa rapuh jika negara tak dengan sekuat tenaga mewujudkan keadilan sosial.

Kesenjangan ekonomi, seperti berkali-kali saya tulis di forum ini, akan menggerus demokrasi seberapa pun kuat fondasi itu dibangun secara teori.

Jelasnya, kesenjangan yang lebar menganga ialah bom waktu. Saya berharap mestinya Nawa Cita menjadi jawaban itu semua.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima