Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

SEKRETARIS Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Helmy Faishal Zaini, menanggapi keadaan bangsa dan negara akhir-akhir ini, mengatakan setiap pemimpin perlu lebih menahan diri dan berpikir panjang.
Kita membutuhkan pemimpin yang mempersatukan dan tidak membuat keresahan.
Tidak sepantasnya apabila seorang pemimpin mengeluarkan kata-kata yang tak pantas.
Pendapat itu mengandung nasihat.
Bahwa pemimpin masih perlu dinasihati, kiranya hal yang memprihatinkan.
Akan tetapi, untunglah masih ada pemimpin yang pantas menasihati, tergerak menasihati, dan berani menasihati pemimpin.
Menahan diri dan berpikir panjang merupakan dua perkara yang dapat berdiri sendiri, dapat pula berkaitan.
Untuk anak bangsa yang dalam relasinya dengan pemimpin merupakan anak buah/pengikut, berhasil 'menahan diri' tidak selalu bertautan dengan 'berpikir panjang'.
Sebaliknya, mereka yang disebut pemimpin. Mereka bisa menahan diri karena berpikir panjang atau karena berpikir panjang, dapat menahan diri.
Di tingkat anak buah, menahan diri merupakan urusan pengendalian emosi. Baik emosi personal maupun emosi kolektif.
Berkemungkinan terjadi person lebih tak kuasa menahan diri, justru karena berada dalam ikatan kolektif.
Dalam perkara itu, pemimpin diperlukan untuk mengendalikan.
Karena itu, celakalah bila sang pemimpin justru yang membuat keresahan, yang masih perlu dinasihati agar mengendalikan diri dan berpikir panjang.
Yang mestinya menasihati, malah masih perlu dinasihati.
Dalam hal berpikir panjang, orang menimbang baik dan buruk, maslahat dan mudarat, bahkan untung-rugi.
Jika menyangkut kepentingan pribadi atau kelompok, bukan mustahil yang terjadi malah sebaliknya, berpikir pendek.
Karena itu, sang pemimpin perlu diingatkan agar menahan diri dan berpikir panjang.
Sejatinya pemimpin di tingkat nasional telah jauh meninggalkan perihal pengendalian diri.
Mereka tidak lagi berurusan dengan emosi, tapi inner space, interior batin.
Sudah lampau perbandingan maslahat dan mudarat, apalagi untung dan rugi untuk kepentingan diri dan kelompok.
Bahkan, rela berkorban untuk bangsa dan negara.
Mereka tidak lagi di tataran mengendalikan diri dan berpikir panjang, tetapi berjiwa besar dan berpikir besar.
Dalam bahasa lain, di titik itu orang berbicara pemimpin sebagai negarawan.
Pemimpin untuk semua anak bangsa, tanpa pandang bulu.
Berapa banyak pemimpin jenis itu?
Kiranya sangat langka, bahkan dibandingkan dengan di zaman awal kemerdekaan, di masa Mr M Roem yang muslim bersahabat dengan Ignatius Joseph Kasimo yang Katolik.
Spekulatif, kiranya yang banyak pemimpin yang masih perlu mengendalikan diri dan berpikir panjang.
Spekulasi yang menyakitkan, tetapi harus diterima tanpa perlu repot-repot membuktikannya dengan survei yang canggih.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved