Berpikir Panjang

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
28/11/2016 06:00
Berpikir Panjang
(MI/Rommy Pujianto)

SEKRETARIS Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Helmy Faishal Zaini, menanggapi keadaan bangsa dan negara akhir-akhir ini, mengatakan setiap pemimpin perlu lebih menahan diri dan berpikir panjang.

Kita membutuhkan pemimpin yang mempersatukan dan tidak membuat keresahan.

Tidak sepantasnya apabila seorang pemimpin mengeluarkan kata-kata yang tak pantas.

Pendapat itu mengandung nasihat.

Bahwa pemimpin masih perlu dinasihati, kiranya hal yang memprihatinkan.

Akan tetapi, untunglah masih ada pemimpin yang pantas menasihati, tergerak menasihati, dan berani menasihati pemimpin.

Menahan diri dan berpikir panjang merupakan dua perkara yang dapat berdiri sendiri, dapat pula berkaitan.

Untuk anak bangsa yang dalam relasinya dengan pemimpin merupakan anak buah/pengikut, berhasil 'menahan diri' tidak selalu bertautan dengan 'berpikir panjang'.

Sebaliknya, mereka yang disebut pemimpin. Mereka bisa menahan diri karena berpikir panjang atau karena berpikir panjang, dapat menahan diri.

Di tingkat anak buah, menahan diri merupakan urusan pengendalian emosi. Baik emosi personal maupun emosi kolektif.

Berkemungkinan terjadi person lebih tak kuasa menahan diri, justru karena berada dalam ikatan kolektif.

Dalam perkara itu, pemimpin diperlukan untuk mengendalikan.

Karena itu, celakalah bila sang pemimpin justru yang membuat keresahan, yang masih perlu dinasihati agar mengendalikan diri dan berpikir panjang.

Yang mestinya menasihati, malah masih perlu dinasihati.

Dalam hal berpikir panjang, orang menimbang baik dan buruk, maslahat dan mudarat, bahkan untung-rugi.

Jika menyangkut kepentingan pribadi atau kelompok, bukan mustahil yang terjadi malah sebaliknya, berpikir pendek.

Karena itu, sang pemimpin perlu diingatkan agar menahan diri dan berpikir panjang.

Sejatinya pemimpin di tingkat nasional telah jauh meninggalkan perihal pengendalian diri.

Mereka tidak lagi berurusan dengan emosi, tapi inner space, interior batin.

Sudah lampau perbandingan maslahat dan mudarat, apalagi untung dan rugi untuk kepentingan diri dan kelompok.

Bahkan, rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Mereka tidak lagi di tataran mengendalikan diri dan berpikir panjang, tetapi berjiwa besar dan berpikir besar.

Dalam bahasa lain, di titik itu orang berbicara pemimpin sebagai negarawan.

Pemimpin untuk semua anak bangsa, tanpa pandang bulu.

Berapa banyak pemimpin jenis itu?

Kiranya sangat langka, bahkan dibandingkan dengan di zaman awal kemerdekaan, di masa Mr M Roem yang muslim bersahabat dengan Ignatius Joseph Kasimo yang Katolik.

Spekulatif, kiranya yang banyak pemimpin yang masih perlu mengendalikan diri dan berpikir panjang.

Spekulasi yang menyakitkan, tetapi harus diterima tanpa perlu repot-repot membuktikannya dengan survei yang canggih.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima