Menunggu Bersama

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
22/11/2016 06:00
Menunggu Bersama
(ANTARA/Prasetyo Utomo)

SUATU hari di April 2013, Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkumpul bersama empat mantan presiden di Dallas, Texas.

Mereka berdiri ber-urutan; Obama, George W Bush, Bill Clinton, George HW Bush, dan Jimmy Carter. Mereka hadir dalam peresmian Perpustakaan dan Museum Kepresidenan George W Bush.

Bush, mantan presiden ke-13 AS, yang mendirikan perpustakaan itu.

Ini tentu untuk kesekian kali mereka tampil bersama, dan wajah mereka selalu ceria.

Setiap presiden, kata Bush, harus mengabdi pada perjuangan yang lebih besar dari kepentingan mereka sendiri.

Bush (2001-2009) yang digantikan Obama ialah presiden AS yang mewariskan perang Afghanistan dan Irak. Kebijakan Bush dikoreksi total oleh Obama.

Namun, hari itu Obama memuji sang pendahulunya sebagai tokoh yang tabah menghadapi tragedi yang amat memilukan dan memalukan.

Ia juga memuji Clinton dan Carter, presiden yang amat peduli dalam memerangi AIDS dan malaria di Afrika.

"Angin politik bertiup ke kiri dan kanan. Hasil jajak pendapat naik dan turun. Pendukung datang dan pergi. Tapi pada akhirnya, para pemimpin akan didefinisikan keyakinan yang mereka pegang," kata Bush dalam sambutannya.

Ia mengakhiri jabatannya di tengah ekonomi Amerika yang nyaris ambruk.

Kecaman dari dalam dan luar negeri datang silih berganti.

Bahkan, pengadilan Malaysia menjatuhkan hukuman; Bush sebagai penjahat perang, Namun, pemerintahan Bush tak jatuh hingga suksesi.

Ada kultur kebersamaan yang kental sesama mantan presiden Amerika yang telah terbangun.

Saya tak tahu, menjadi presiden Indonesia beruntung atau sebaliknya sebab kemalangan kerap mengiringinya.

Soekarno, sang proklamator kemerdekaan, dijatuhkan.

Soeharto yang mengantikannya, juga sama-sama punya tragis sendiri.

Ia dijatuhkan mahasiswa.

Juga tak ada kebersamaan antara Soeharto dan BJ Habibie.

Habibie berkuasa dengan goyangan dari Baris-an Nasional.

Poros Tengah seperti membalasnya, pemimpin partai pemenang Pemilu 1999, Megawati Soekarnoputri, dijegal menjadi presiden, dan dimajukanlah Abdurrahman Wahid.

Berikutnya, Abdurahman Wahid dijatuhkan parlemen dan naiklah Megawati.

Gus Dur dan Mega, yang semula serupa adik-kakak, retak jadinya.

Megawati digantikan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan langsung pada 2004 dan 2008.

Hubungan Mega-Yudhoyono juga buruk.

Kini, di tengah suasana nasional yang menegang akibat dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, para elite partai silih berganti saling bertemu untuk mendinginkan suhu.

Jokowi bersafari ke banyak ulama, juga para pemimpin partai. Presiden memang menjadi sasaran caci maki, bahkan ada suara untuk memakzulkan.

Hubungan Jokowi-Yudhoyono memang mene-gang setelah perang pernyataan demonstrasi hingga 'Lebaran Kuda' versus 'aktor politik di belakang aksi massa'.

Namun, sekelas para kepala negara, 'perang terbuka' mestinya harus dihindari.

Politik memang telah ditarik dalam gelanggang ini.

Akibat tekanan massa, Ahok pun ditetapkan sebagai tersangka.

Namun, perang di media sosial justru kian memanas, seolah-olah 'umat Islam' versus pembela NKRI pada posisi berhadap-hadapan. Tentu ini ujian bagi pemerintahan Jokowi.

Jika sistem demokrasi Amerika yang liberal saja mempunyai etika bersatu bagi mantan kepala negaranya, kita yang berfondasi Pancasila justru saling berseteru.

Kebiasaan jatuh-menjatuhkan presiden yang sah secara konstitusional mesti disudahi.

Tunggulah lima tahun.

Jika tidak, akan menjadi kebiasaan yang terus berlanjut. Di saat bangsa lain bersaing untuk kemajuan, kita justru menghabiskan energi untuk saling menghabisi.

Inilah momen terbaik untuk Jokowi, Yudhoyono, Megawati, dan BJ Habibie duduk bersama.

Inilah gotong royong! Kata yang amat dimuliakan Megawati, yang berarti antara lain bahu-membahu, bekerja sama, dan berangkulan. Kita sungguh menunggu, dan semoga tak menunggu godot.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.