Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LAPORAN bulanan yang disampaikan Badan Pusat Statistik pantas membuat kita tersadar. Begitu lemahnya produk ekspor yang kita miliki sehingga ketika harga komoditas terpuruk seperti sekarang, ekspor kita pun ikut terjerembap. Nilai ekspor kita tahun ini mencapai titik terendah. Hingga akhir Oktober, total ekspor kita tercatat US$140 miliar. Kalaupun dua bulan terakhir kita bisa mendorong ekspor hingga US$12 miliar per bulan, secara total nilai ekspor hanya akan berada pada kisaran US$160 miliar.
Itu terlalu rendah untuk ukuran negeri seperti Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan penduduk yang mencapai 250 juta jiwa. Berulang kali kita sampaikan, sulit dipahami apabila nilai ekspor kita bisa lebih rendah ketimbang Malaysia. Apalagi jika kita melihat Korea Selatan atau Jepang yang boleh dikatakan tidak memiliki sumber daya alam apa pun, tetapi ekspor mereka bisa di atas US$200 miliar.
Semua itu terjadi karena kita tidak cukup kuat mendorong lahirnya industri yang mempunyai nilai tambah tinggi. Kita setengah hati untuk menyambut datangnya investasi. Kita takut untuk memberikan insentif karena merasa sudah cukup memberikan kemudahan. Padahal, kenyataannya tidak banyak kemudahan yang diberikan. Salah satu contohnya ialah dalam pengembangan otomotif. Toyota Motor Corporation (TMC) telah memutuskan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan serbaguna (multipurpose vehicle).
Kita bisa melahirkan banyak perusahaan pemasok kalau kita sungguhsungguh menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dunia. Thailand sudah merasakan itu ketika dijadikan basis produksi TMC untuk sedan. Pertanyaannya, apakah kita bersungguhsungguh membuat TMC nyaman di Indonesia? Meski sudah triliunan rupiah investasi ditanamkan di Indonesia, pihak TMC masih meragukan kesungguhan Indonesia. Paling mudah saja dalam pengembangan bahan bakar minyak ramah lingkungan.
Ketika dunia sudah sampai standar Euro6, kita masih Euro2. Akibatnya, untuk tes mesin bagi keperluan ekspor, pihak TMC harus mengimpor BBM dari luar negeri. Ketidakjelasan arah kebijakan industri membuat para pengusaha tidak memiliki pegangan dalam mengembangkan usaha mereka. Investasi yang dilakukan cenderung bersikap jangka pendek. Akibatnya, sulit untuk bisa membuat kita memiliki produk unggulan.
Dalam hal ini, Malaysia dan Thailand jauh lebih agresif. Bahkan Vietnam muncul sebagai kekuatan baru yang mengancam Indonesia. Semua itu bisa terjadi karena arah kebijakan pembangunan industri mereka lebih jelas dan pemerintah mereka memberikan semua yang dibutuhkan bagi terba ngunnya industri yang bisa dibanggakan. Kita masih ingat bagaimana ketika Panasonic ingin menjadikan Indonesia sebagai basis industri elektronik di Asia Tenggara.
Perdana Menteri Malaysia Mathathir Mohamad sampai terbang langsung ke Osaka untuk menemui pimpinan Matsushita. Ia menanyakan kemudahan yang diberikan Indonesia dan Mahathir memberikan kemudahan yang jauh lebih baik agar Panasonic mau memin dahkan rencana investasi mereka ke Malaysia. Kita harus memiliki cara kerja get things done seperti itu apabila ingin membuat Indonesia menjadi negara industri baru. Kita tidak perlu takut investor akan untung karena dengan mendapatkan untung, mereka semakin betah di Indonesia.
Mereka akan semakin bersemangat berinvestasi di sini. Kita pun ikut mendapatkan untung karena banyak warga masyarakat yang bisa mendapatkan pekerjaan, banyak pengusaha lokal yang bisa menjadi pemasok, dan negara mendapatkan pajak perusahaan 25% dari keuntungan itu. Indonesia pasti jauh lebih menarik daripada negara tetangga karena sumber daya alamnya yang jauh lebih kaya. Pasar kita pun besar karena ada 250 juta penduduk. Sekarang tinggal kita lebih cerdas untuk membangun industri yang memiliki nilai tambah agar ekspor kita tidak terus terpuruk seperti sekarang.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved