Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

TERSANGKA! Inilah babak baru perjalanan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di panggung politik kita. Kasus yang disangkakan tak main-main, dugaan penistaan agama (Islam). Ujaran yang ia ucapkan ketika bercakap dengan masyarakat di Ke pulauan Seribu, hampir dua bulan silam. Bagi para seterunya, kasus Surat Al-Maidah 51 serupa durian runtuh. Bagi para pendukungnya, ini musibah yang harus dihadapi dengan tenang dan cerdas: seperti meniti di atas buih.
Namun, bekas Bupati Belitung Timur itu ringan saja menanggapi: ikhlas menjadi tersangka. Ia ingin pengadilan menjadi tempat pembuktian kasusnya. Apa penistaan agama atau olahan politik penuh prasangka. Kalaupun dipenjara, ia bilang tak tak apa-apa. Ia mengamsalkan dirinya Nelson Mandela, yang menjadi presiden setelah dipenjara. "Aduh, Ahok... mulutmu, lagi!" Semprot seorang politikus.
Media asing pun ramai mewartakan status hukum Ahok. Kantor berita The Associated Press dan koran terkemuka Amerika Serikat The Washington Post menulis status tersangka Ahok menjadi semacam hadiah bagi para politikus seteru Basuki pada Pilkada Jakarta 2017. Media Inggris The Guardian juga menulis dengan nada serupa. Jaringan televisi Qatar Al Jazeera memberi judul 'Gubernur Jakarta yang Kristen, Purnama, Terjerat Kasus Penistaan Agama'. ABC dari Australia bahkan membuat liputan khusus kasus, lengkap dengan video, termasuk wawancara eksklusif dengan Ahok.
Tak ada yang tahu perjalanan Ahok akan berakhir di mana. Yang jelas sejak kemunculannya di pentas politik Jakarta, menjadi wakil gubernur, ia membuat banyak orang bertanya. Siapa dia? Ia melakukan dekonstruksi habis-habisan terhadap politik Indonesia yang berarus utama harmoni dalam transaksi. Ia pantang main di tengah. Tak ada mazhab keseimbangan baginya. Ia memang sosok yang tidak main di tengah, di ruang abu-abu!
Penerima Bung Hatta Award itu memang seperti hadir dan langsung menyodorkan kontroversi.
Pendukung dan penentangnya pun berada pada posisi diametral. Baginya, memimpin Jakarta itu hanya satu pilihan, iya atau tidak. Maju atau mundur. Berani atau kompromi. Ia ancam preman liar agar tak main-main melawan preman resmi (maksudnya ia dan aparat Pemda DKI). Ia bereskan pegawai di lingkup pemerintahannya tanpa kompromi. Namun, gaji mereka juga dinaikkan amat tinggi.
Bagi Ahok, demokrasi berarti hidup tanpa tabir, tanpa tirai. Ia mengaku Tiongkok dan Kristen secara terbuka. Inilah cara ia memberi spirit pada minoritas dan menguji kesetaraan dalam konstitusi. Tak hanya itu, ia lawan DPRD Jakarta yang ia nilai kerap memainkan anggaran. Ia bereskan banyak kawasan yang ia nilai tak tertib dengan menggunakan buldoser. Inilah tukang gusur tanpa ampun! Begitu kata pengkritiknya. Secara terbuka pula ia meminta Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan karena menurutnya kerap bikin onar. Ketika ia dilantik menjadi Gubernur Jakarta menggantikan Jokowi, FPI pun mengangkat gubernur tandingan.
Ia gebrak politik Indonesia yang transaksional dan penuh gincu. Ahok pun berpindah-pindah partai dengan ringan. Terakhir ia keluar dari Partai Gerindra yang mengusungnya menjadi calon Wakil Gubernur DKI. Ketika hendak maju menjadi calon gubernur, ia percaya diri memakai jalur independen. Ia pun dihujat telah melakukan deparpolisasi. Namun, beberapa partai akhirnya mengusungnya.
Jujur saja, dalam seluruh praktik demokrasi yang menjemukan dan membuat kita letih dan mengantuk, Ahok membangunkannya. Energi perlawanannya kepada siapa yang mengkritiknya seperti tak pernah habis.
Akan tetapi, dengan kasusnya itu, akan sampai di manakah perjalanan Ahok? Kita terima apa pun ujung dari proses hukumnya. Dengan beberapa catatan pada sang tersangka itu, sungguh terasa hambar panggung pemimpin Indonesia tanpa Ahok. Bagi saya, Ahok ialah penantang, calon pemimpin paling disegani, dan penguji paling berani demokrasi kita yang tengah bertumbuh ini.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved