Teladan Bismar

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
15/11/2016 06:00
Teladan Bismar
(ANTARA/Amirullah)

DI sebuah kedai kopi di Stasiun Gambir, saya ambil sebuah buku di rak dekat kasir.

Boleh juga ini kedai, menyediakan bacaan, umumnya buku-buku agama.

Sambil menikmati kopi yang beraroma, saya buka buku berjudul Islam Akhlak Mulia,

Renungan-Renungan di Tengah Malam Sunyi yang ditulis mantan hakim agung Bismar Siregar.

Mendiang Bismar, saya tahu, sosok pengadil yang bersahaja, tapi tegak lurus dalam prinsip, alim, dan konsisten dalam beragama, serta berkhidmat kepada negara.

Buku yang berisi kumpulan tulisan ini diberi kata pengantar oleh KH Ali Yafie, tokoh NU dan Ketua MUI (1990-2000).

Ini tentu biasa saja.

Buku yang berbicara tentang Islam diberi kata pengantar oleh ulama.

Yang tak biasa, penulis epilog buku ini Arswendo Atmowiloto.

Banyak yang kaget.

Bukankah mantan pemimpin redaksi Tabloid Monitor ini pernah menggegerkan dengan jajak pendapat yang dinilai menyinggung umat Islam?

Alasan Bismar memilih wartawan dan penulis fiksi ini ialah biar ada yang berbeda. Orang sastra biasa-nya punya kejujuran.

Bismar secara pribadi tak mengenal Arswendo.

Saya menduga Bismar tengah memberi contoh bahwa Islam tak mendendam.

Islam, sesuai ajaran Nabi Muhammad, ialah pemaaf, penyayang.

"Sayangilah sesama seperti menyayangi dirimu."

Dalam sebuah tulisan berjudul Aku Asing di Tengah Umat, Bismar menceritakan keprihatinannya terhadap sebagian umat Islam yang mudah sekali menghujat, mudah marah, memaksakan kehendak, merasa paling benar, dan seperti dendam dibiarkan berkembang.

Ia melihat kian banyak orang memakai baju Islam, tapi hatinya belum.

Bismar menganggap komunis serupa setan.

Namun, ia merasa amat berbahagia ketika dalam sebuah acara bisa duduk bersama Pramoedya Ananta Toer.

Pram sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat yang merupakan organisasi underbouw PKI.

Menurut Bismar, keluarga PKI telah dihukum begitu rupa, termasuk bersih lingkungan.

Karena itu. tak selayaknya ditambah beban mereka.

Hari-hari ini sebagian umat Islam tak saja saling hujat, tapi juga begitu mudahnya mengafirkan pihak lain.

Menganggap Islam merekalah yang paling benar.

Agama pun dengan mudah dibaurkan dengan politik agar mujarab menawarkan daya tarik.

Media sosial menjadi palagan paling gaduh untuk saling menjatuhkan.

Karena itu, saya rindu ulama dengan dakwahnya yang sejuk, seperti KH Muttaqien, Buya HAMKA, dan Yunan Nasution.

Merekalah para pembimbing umat yang suaranya tak membuat bising, tak membuat gejolak di jiwa.

HAMKA, misalnya, pendengarnya lintas agama.

Dalam rindu ulama-sejuk serupa itu, Ahad siang lalu, media sosial membawa warta buruk.

Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, dilempar bom molotov.

Beberapa anak balita terluka.

Bahkan, kemarin dini hari, salah satu korban, Intan Olivia Marbun, akhirnya meninggal dunia.

Dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, bocah berusia 2,5 tahun itu terlalu berat untuk bisa bertahan hidup.

Napas saya pun jadi tersengal.

Dalam kondisi seperti itu, apakah demonstrasi Bela Islam jilid III akan tetap digelar pada 25 November?

Kenapa hukum tak diberi tempat agar ia bekerja dengan terhormat?

Ahok juga siap dipenjara jika hukum menyatakannya bersalah.

Tak adakah rasa cemas aksi massa itu bisa dimanfaatkan para penebar teror yang lain?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima