Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah kedai kopi di Stasiun Gambir, saya ambil sebuah buku di rak dekat kasir.
Boleh juga ini kedai, menyediakan bacaan, umumnya buku-buku agama.
Sambil menikmati kopi yang beraroma, saya buka buku berjudul Islam Akhlak Mulia,
Renungan-Renungan di Tengah Malam Sunyi yang ditulis mantan hakim agung Bismar Siregar.
Mendiang Bismar, saya tahu, sosok pengadil yang bersahaja, tapi tegak lurus dalam prinsip, alim, dan konsisten dalam beragama, serta berkhidmat kepada negara.
Buku yang berisi kumpulan tulisan ini diberi kata pengantar oleh KH Ali Yafie, tokoh NU dan Ketua MUI (1990-2000).
Ini tentu biasa saja.
Buku yang berbicara tentang Islam diberi kata pengantar oleh ulama.
Yang tak biasa, penulis epilog buku ini Arswendo Atmowiloto.
Banyak yang kaget.
Bukankah mantan pemimpin redaksi Tabloid Monitor ini pernah menggegerkan dengan jajak pendapat yang dinilai menyinggung umat Islam?
Alasan Bismar memilih wartawan dan penulis fiksi ini ialah biar ada yang berbeda. Orang sastra biasa-nya punya kejujuran.
Bismar secara pribadi tak mengenal Arswendo.
Saya menduga Bismar tengah memberi contoh bahwa Islam tak mendendam.
Islam, sesuai ajaran Nabi Muhammad, ialah pemaaf, penyayang.
"Sayangilah sesama seperti menyayangi dirimu."
Dalam sebuah tulisan berjudul Aku Asing di Tengah Umat, Bismar menceritakan keprihatinannya terhadap sebagian umat Islam yang mudah sekali menghujat, mudah marah, memaksakan kehendak, merasa paling benar, dan seperti dendam dibiarkan berkembang.
Ia melihat kian banyak orang memakai baju Islam, tapi hatinya belum.
Bismar menganggap komunis serupa setan.
Namun, ia merasa amat berbahagia ketika dalam sebuah acara bisa duduk bersama Pramoedya Ananta Toer.
Pram sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat yang merupakan organisasi underbouw PKI.
Menurut Bismar, keluarga PKI telah dihukum begitu rupa, termasuk bersih lingkungan.
Karena itu. tak selayaknya ditambah beban mereka.
Hari-hari ini sebagian umat Islam tak saja saling hujat, tapi juga begitu mudahnya mengafirkan pihak lain.
Menganggap Islam merekalah yang paling benar.
Agama pun dengan mudah dibaurkan dengan politik agar mujarab menawarkan daya tarik.
Media sosial menjadi palagan paling gaduh untuk saling menjatuhkan.
Karena itu, saya rindu ulama dengan dakwahnya yang sejuk, seperti KH Muttaqien, Buya HAMKA, dan Yunan Nasution.
Merekalah para pembimbing umat yang suaranya tak membuat bising, tak membuat gejolak di jiwa.
HAMKA, misalnya, pendengarnya lintas agama.
Dalam rindu ulama-sejuk serupa itu, Ahad siang lalu, media sosial membawa warta buruk.
Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, dilempar bom molotov.
Beberapa anak balita terluka.
Bahkan, kemarin dini hari, salah satu korban, Intan Olivia Marbun, akhirnya meninggal dunia.
Dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, bocah berusia 2,5 tahun itu terlalu berat untuk bisa bertahan hidup.
Napas saya pun jadi tersengal.
Dalam kondisi seperti itu, apakah demonstrasi Bela Islam jilid III akan tetap digelar pada 25 November?
Kenapa hukum tak diberi tempat agar ia bekerja dengan terhormat?
Ahok juga siap dipenjara jika hukum menyatakannya bersalah.
Tak adakah rasa cemas aksi massa itu bisa dimanfaatkan para penebar teror yang lain?
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved