Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RAKYAT Amerika sudah mengambil keputusan. Mereka secara mengejutkan memilih Donald Trump sebagai presiden ke-45. Pilihan itu harus dihormati karena melalui proses panjang yang penuh ujian. Pertanyaannya, apa arti terpilihnya Trump bagi perekonomian Amerika dan dunia? Keterkejutan dunia atas terpilihnya presiden yang penuh kontroversi itu sudah dicerminkan dengan bursa saham dunia yang bertumbangan.
Semua pihak khawatir akan tercipta ketidakpastian pada perekonomian global. Sejauh ini para penasihat di sekitar Trump tidak cukup kuat. Penasihat ekonomi yang dikenal hanyalah Peter Navarro. Doktor ekonomi lulusan Universitas Harvard itu banyak tampil di program televisi dan menulis opini di surat kabar Amerika. Gagasan yang sering dimunculkan ialah mengembalikan kejayaan Amerika.
Caranya dengan membangun infrastruktur besar-besaran di Amerika serta menjadikan pasar Amerika untuk orang Amerika. Presiden terpilih AS itu sudah melontarkan rencana mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan infrastruktur. Trump ingin mengulangi langkah yang pernah dilakukan Presiden Franklin Delano Roosevelt untuk membawa Amerika keluar dari depresi besar.
Roosevelt melakukan pembangunan besar-besaran agar masyarakat Amerika mempunyai pekerjaan dan belanja negara bisa membangkitkan perekonomian yang sedang terpuruk. Namun, era sekarang tidak sama dengan era seperti 1930-an. Ketika itu semua negara di dunia baru selesai dengan Perang Dunia I sehingga semua boleh dikatakan sama-sama miskin karena sumber daya mereka habis untuk berperang.
Kini kita hidup di era globalisasi. Thomas Friedman bahkan menyebutnya sebagai 'dunia yang datar'. Semua sudah tidak mengenal batas waktu dan batas negara. Dunia merupakan pasar bagi semua dan yang bisa menikmatinya ialah yang paling kreatif, paling inovatif, dan paling efisien. Di tengah era keterbukaan seperti sekarang, apakah mungkin Amerika memilih menutup pasar mereka?
Memang pasar dalam negeri Amerika besar, demikian pula daya beli dari masyarakatnya. Akan tetapi, apakah mungkin perusahaan AS berkembang hanya dengan mengandalkan pasar sendiri? Saat berdialog dengan Senior Managing Executive Officer of Itochu Inc Eiichi Yonekura di Tokyo, Kamis (10/11), saya menangkap pandangan bukan tidak mungkin AS akan lebih berorientasi ke dalam.
Kalau pilihan itu diambil Trump, pasar dunia akan dimanfaatkan negara-negara lain. Pilihan Amerika untuk lebih melihat ke dalam menjadi kesempatan bagi negara seperti Jepang. Produk mereka akan lebih mudah masuk ke pasar dunia. Saingan mereka akan datang dari Tiongkok dan Korea Selatan. Ketiga negara ras kuning itu maju dalam pengembangan produk dan sangat efisien dalam pembiayaan.
Indonesia tentunya bisa memanfaatkan juga peluang ini. Kuncinya ialah membangun industri manufaktur yang kuat agar muncul produk unggulan Indonesia. Sejauh ini Indonesia bisa menghasilkan produk mi instan yang mampu menguasai pasar dunia. Dalam industri minyak dan gas, PT Pertamina mampu menjadi perusahaan dengan tingkat keuntungan tertinggi di dunia pada kuartal III 2016 ini.
Pertamina bahkan bersiap untuk masuk pasar Eropa dengan memasarkan produk pelumas Fastron dan bahkan bahan bakar minyak kualitas tinggi. Dua contoh itu menunjukkan kita mampu bermain di pasar global. Hanya, kita perlu memberikan kuda-kuda yang kuat agar inovasi dan efisiensi bisa tercapai. Caranya dengan memberikan kesempatan kepada produk unggulan kita untuk mendapatkan pasar yang kuat di dalam negeri.
Itulah yang akan menjadi modal bagi perusahaan nasional untuk bisa bersaing di tingkat global. Ketidakpastian di Amerika merupakan kesempatan emas bagi kita untuk menjadi pemain dunia. Orang yang optimistis selalu melihat tantangan sebagai peluang, sedangkan orang pesimistis akan melihat tantangan sebagai ancaman. Kita tentu harus menjadi yang pertama.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved