Paradoks Amerika

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
11/11/2016 05:31
Paradoks Amerika
(AP/Carline Jean)

KINI Amerika Serikat mengalami paradoks yang paling nyata, Donald Trump menjadi presiden. "Untuk punya seseorang sejenis manusia liar ini (Donald Trump), dengan jarinya menekan tombol dapat menghancurkan dunia atau membuat keputusan dengan pengaruh yang luas adalah sebuah prospek yang benar-benar menakutkan," kata Noam Chomsky.

Menurut ahli tata bahasa generatif dari Institut Teknologi Massachusetts itu, perang dunia kian membayangi dan Amerika Serikat ancaman terbesar itu. Sumber ancaman perdamaian dunia itu bukan siapa-siapa, Amerika Serikat. Trump yang oleh Chomsky disebut 'badut dalam sirkus' kian membuat kehancuran dunia kian mendekati kenyataan. Mahaguru bahasa kelahiran Philadelphia, 7 Desember 1928, itu memang paling depan mengkritisi elite negerinya.

Trump ialah elite yang menurut Chomsky paling tak layak memimpin Amerika Serikat. Trump tak hanya diragukan partainya sendiri, Republik, tapi juga para pemilihnya. Seorang pemilih di Arizona yang diwawancarai media Jerman, misalnya, berharap Trump menang, tapi tak mengira itu bisa terwujud. Trump, yang amat percaya diri, rasialis, tua, dan mulutnya serupa comberan, menang telak dengan 290 suara elektoral.

Hillary Clinton, politikus penuh bakat, inklusif, terpelajar, dan lebih muda, akhirnya tumbang, hanya memperoleh 218 suara elektoral. Nujum Amerika Serikat untuk mempunyai presiden perempuan pertama, setelah dua pemilu terdahulu dimenangi Obama yang Afro-Amerika, pupus sudah. Ternyata daya jelajah media massa, kedalaman lembaga survei, dan nujum para analis politik tak mampu menangkap perasaan terdalam rakyat Amerika Serikat yang bimbang akan masa depan. Mereka lebih memanjakan Clinton.

Trump tahu rasa khawatir penduduk akan imigran Timur Tengah, misalnya, ia tangkap dan menjadi menu kampanyenya yang membuat dunia terperangah! Sikap Trump yang tidak mencerminkan nilai dasar Amerika Serikat yang memberi tempat hidup kepada semua warga negara justru mengena. Meski Clinton telah mengucapkan selamat kepada rivalnya itu dan meminta seluruh pendukungnya untuk bersatu melihat masa depan negeri, ribuan orang di banyak kota turun ke jalan.

Mereka tak mengakui presiden badut itu. Banyak pendukung Clinton bahkan menghancurkan televisi yang tengah menyiarkan pidato Trump. Rakyat menganggap Trump serupa bom waktu. Amerika Serikat bisa kapan saja meledak. Betulkah Trump tengah membawa Amerika Serikat menunju tubir jurang? Bukankah Trump yang rasialis dan provokatif itu sesungguhnya tengah menerapkan teori dagang ketika kampanye?

Yakni, saudagar yang tengah manawarkan barang dagangannya dengan promosi yang mengena, yang berbeda, yang memang cocok bagi kalangan yang bimbang. Pidato kemenangannya, yakni janji segera menyembuhkan luka-luka akibat persaingan dan perpecahan, bukti era jualan selesai dan era membangun negeri dimulai. Amerika Serikat dengan tradisi pemilihan presiden yang panjang, dikemas serupa panggung teater, siapa pun pemenangnya, entah Republik ataupun Demokrat, sesungguhnya setali tiga uang.

Mereka mengemas demokrasi sebagai barang dagangan. Ia sesungguhnya alat untuk menghegemoni negeri-negeri lemah. Terlalu banyak contoh, terlalu banyak fakta. Chomsky benar. "Amerika Serikat menggunakan kekuatan dan menerapkan perang ekonomi seturut kehendak mereka." Sebagai imperium abad ke-20 dan ke-21, Amerika Serikat dan Israel, kata Chomsky, bisa kapan saja mengebiri hukum internasional.

Jadi, kemenangan Trump sesungguhnya serupa minuman dengan kemasan baru, isinya tak berbeda. Karena itu, siapa pun pemenangnya tak perlu disambut dengan harapan melambung atau pesimisme kelewat dalam. Yang terbaik, dengan Amerika, tetaplah waspada!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima