Era Orang Aneh

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
10/11/2016 05:31
Era Orang Aneh
(AFP PHOTO / JIM WATSON)

DUNIA kini dipimpin orang aneh. Orang aneh paling gres karena baru terpilih menjadi presiden ialah Donald Trump. Banyak prediksi meramalkan Hillary Clinton yang terpilih menjadi presiden AS, ternyata keliru besar. Hillary orang pintar, berpengalaman dalam pemerintahan. Akan tetapi, ia bukan orang aneh. Padahal, ini era orang aneh. Rakyat AS ternyata lebih menyukai pemimpin aneh, yang kiranya nyaris sempurna dimiliki Donald Trump.

Keanehan itu, antara lain, Trump akan membangun tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko serta melarang total kaum muslim memasuki AS. Siapa pun yang menang, rakyat AS membuat sejarah. Bila Hillary yang menang, dia menjadi presiden perempuan pertama AS. Faktanya mereka lebih memilih presiden aneh yang juga membuat sejarah, yaitu presiden AS tertua. Pada 14 Juni lalu, Trump berumur 70 tahun.

Sebelum Trump, orang aneh yang terpilih menjadi presiden ialah Rodrigo Duterte. Suatu hari, sepulang perjalanan kenegaraan ke Jepang, Duterte datang ke Davao, kota kelahirannya, tempat ia pernah menjadi wali kota. Di situ dia mengatakan Tuhan memberinya ultimatum untuk berhenti memaki dan mengumpat. Kalau tidak, pesawat yang membawanya akan mengalami kecelakaan di udara.

Ultimatum Tuhan itu diungkapkannya setelah ia puas memaki Presiden AS Barack Obama. Katanya, Obama anak pelacur. Duterte memaki Obama karena kecewa AS mengecam kebijakannya bakal membantai tiga juta pecandu narkoba, sebanyak Hitler membunuh orang Yahudi. Akibat makiannya itu, Obama batal berkunjung ke Filipina. Penilaian bahwa sekarang era orang aneh bukan orisinal pikiran saya. Kemarin siang, sambil makan soto di Semarang, kami membaca berita Trump menang.

Terlontarlah pernyataan bahwa sekarang era orang aneh. Yang mengatakan itu juga orang aneh, yaitu H Yoyok Rio Sudibyo, Bupati Batang, Jawa Tengah (2012-2017). Yoyok aneh setidaknya karena empat hal. Pertama, ia konsisten memegang janjinya sendiri, cukup satu masa jabatan menjadi bupati. Janji itu umumnya dikhianati. Hanya orang aneh menepatinya. Kedua, dia bupati yang lebih memilih memakai celana jins dan sepatu kets ketimbang berbaju dinas bupati.

Ketiga, sang bupati mampu memotivasi siswa SMA dan bernyanyi bersama mereka, sampai mereka menjerit-jerit. Keempat, ia tidak korupsi. Di negeri ini, penyelenggara negara tidak korupsi tergolong orang aneh. Dipikir-pikir, Jokowi juga orang aneh. Blusukan merupakan keanehan yang membuat ia terpilih menjadi presiden. Jangan-jangan sejarah kelak mencatat, dialah satu-satunya presiden RI yang tetap blusukan sejak menjadi wali kota, gubernur, sampai menjadi presiden.

Sejauh ini, Jokowi merupakan presiden yang paling rajin turun ke lapangan. Terakhir, keputusannya yang aneh ialah agar kepolisian menggelar perkara Ahok transparan. Hal itu guna menghilangkan syak wasangka. Ahok sendiri orang yang tidak kalah anehnya, bahkan lebih aneh daripada Jokowi. Salah satu buktinya dalam hal juru bicara. Johan Budi, juru bicara Jokowi, tidak tergolong orang aneh.

Bandingkanlah dengan Ruhut Sitompul, juru bicara Ahok dalam pilkada. Jelaslah Ruhut orang aneh, sampai-sampai Susilo Bambang Yudhoyono memecatnya selaku juru bicara Partai Demokrat. Apakah Ahok sebagai orang aneh bakal memenangi pilkada Jakarta? Terserah rakyat Jakarta. Demokrasi punya kearifannya sendiri. Suatu hari saya menulis di forum ini, menginginkan Hillary Clinton yang menang, tetapi rakyat AS memutuskan lain.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima