Bukan Jalan Tol

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
09/11/2016 05:31
Bukan Jalan Tol
(ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

INDONESIA sejak 1979 memiliki tol. Sekarang panjang tol bahkan sudah bertambah jauh. Namun, perja lanan yang kita tempuh bukan semakin tidak ada hambatan, melainkan sebaliknya malah bertambah macet. Perjalanan dari Jakarta ke Bogor, Jawa Barat, misalny a, du lu bisa ditempuh dalam waktu hanya setengah jam karena begitu lancarnya. Namun, sekarang kita harus bersiap untuk perjalanan antarkota itu minimal 2 jam.

Apabila perjalanan dilakukan dari Bogor ke Jakarta dan itu terjadi di akhir pekan, kita bisa lebih dari 3 jam berada di Tol Jagorawi. Jawaban yang paling mudah dari persoalan itu ialah karena volume kendaraan yang meningkat setiap tahunnya. Namun, kalau kita perhatikan dengan saksama, penyebab lamanya waktu tempuh bukanlah jumlah kendaraan, melainkan tata cara penggunaan tol.

Jumlah kendaraan di Jerman atau Amerika Serikat, misalnya, jauh lebih banyak daripada di Indonesia. Banyaknya jalur jalan yang tersedia di kedua negara tersebut tidak lebih banyak daripada jalur yang ada di Indonesia. Namun, mengapa kita jarang mengalami kemacetan di sana? Itu disebabkan para pengguna jalan di kedua negara tersebut berlaku disiplin. Yang namanya bus atau truk tidak pernah keluar jalur paling kanan (karena di kedua negara itu setirnya ada di kiri).

Bus atau truk hanya keluar jalur apabila hendak mendahului. Demikian pula mobil-mobil yang lain. Kalau kecepatan rendah, mereka akan berada di jalur paling kanan. Mereka hanya bergerak ke kiri kalau hendak mendahului kendaraan di depan. Namun, coba kita perhatikan kendaraan yang lalu lalang di tol di seluruh Indonesia. Truk-truk besar dengan kecepatan lambat sering berjalan di jalur tengah.

Apalagi yang namanya bus, seperti raja jalanan, berjalan di jalur kanan dengan kecepatan tinggi. Mobil-mobil lain juga tidak disiplin mengunakan jalur. Mobil dengan kecepatan rendah berada di jalur kanan. Akibatnya kendaraan berkecepatan tinggi harus mendahului dari kiri. Bahkan tidak jarang kita melihat kendaraan melaju dengan kencang di bahu jalan.
Padahal, kita tahu bahwa bahu jalan hanya bisa dipakai untuk kondisi darurat.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Syamsul Bahri mengakui, disiplin berlalu lintas termasuk di tol masih rendah. Edukasi penggunaan tol berada di tangan operator, termasuk Jasa Marga. Sayangnya Jasa Marga dan operator tol lainnya tidak melakukan edukasi tersebut. Para operator hanya sibuk memungut tarif tol, sementara kewajiban lainnya tidak dijalankan. Bahkan operator merasa tidak bertanggung jawab ketika terjadi kemacetan di tol.

Kritik kepada para operator tol bukan tidak pernah disampaikan. Saat menjabat menteri BUMN, Dahlan Iskan pernah membebaskan para pengguna tol untuk tidak perlu membayar karena kemacetan yang terjadi. Sepanjang para operator tol tidak pernah mengubah pelayanan mereka, jalan berbayar itu tidak pernah menjadi jalan bebas hambatan. Para pengguna sering kali dirugikan dua kali karena sudah membayar tarif tol, tetapi mereka tetap terjebak oleh kemacetan.

Hal yang penting menjadi perhatian ialah pembangunan tol tidak meningkatkan efisiensi ekonomi nasional. Padahal, keberadaan jalan berbayar itu dimaksudkan untuk meningkatkan efi siensi. Perjalanan diharapkan bisa lebih lancar sehingga tidak banyak bahan bakar minyak yang harus terbuang di jalan. Oleh sebab itu, kita harus kembali kepada
tujuan pembangunan tol.

Agar tujuan bisa tercapai, para operator harus lebih aktif melakukan edukasi. Tidak cukup hanya memasang petunjuk ‘Gunakan Lajur Kiri’ atau ‘Lajur Kanan untuk Mendahului’, tetapi juga mengajarkan bagaimana berkendaraan yang baik di tol itu dilakukan. Ini persoalan manajerial tol. Sekarang ini seper tinya kita masuk ke zaman yang modern, tetapi perilaku berkendaraan di tol sebenarnya masih tradisional. Kita tidak ubahnya seperti o rang kaya yang tidak memiliki sopan santun.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.