Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI massa 4/11 ialah ujian penting buat kita; bagi Indonesia, bagi umat Islam, bagi Jokowi.
Ia juga pelajaran penting bagi Ahok dan para pemimpin.
Jika saja polisi-TNI dan para pedemo tak disiplin, bentrokan hebat berisiko tinggi bisa tak terelakan.
Seketika itu Indonesia, umat Islam, dan Jokowi melisut namanya.
Untunglah tidak.
Jika diamsalkan sebuah panggung, aksi 4/11 ialah panggung terbuka.
Di atas panggung semuanya bisa dilihat dan ditafsirkan sesuai sudut pandang dan kepentingan masing-masing.
Akan tetapi, yang hakiki sesungguhnya tidak ke mana-mana.
Ia setia dalam posisinya semula.
Jujur saja saya tak bersetuju aksi serupa itu meski demokrasi memberi jalan lapang pada demonstrasi.
Belajar dari beberapa kali aksi massa, yang kerap meninggalkan jejak destruksi, kekhawatiran saya meninggi.
Terlebih lagi ini aksi bertajuk Bela Islam, yang melakukan aksi umat Islam, saya cemas aksi damai ini ada yang mencemari.
Karena membawa bendera Islam, ada tuntut-an akhlakul karimah (perilaku mulia) di situ.
Serupa aksi massa Partai Keadilan sebelum menjadi Partai Keadilan Sejahtera, dulu.
Setiap aksi selalu tertib, bersih, dan mengundang simpati.
Saya berharap waktu itu, aksi massa Partai Keadilan menjadi model aksi di Indonesia.
Sayang, aksi serupa itu kini tinggal kerinduan.
Di negeri dengan musyawarah menjadi nilai keunggulan (dalam Pancasila), sungguhkah kita tak berdaya untuk mencari solusi? Terbukti, aksi damai 4/11 hanya sebatas waktu magrib.
Waktu pukul 18.00 itu memang sesuai dengan UU No 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Namun, tak menemui kata sepakat. Gesekan tak terelakkan.
Aksi damai pun jadi tak sempurna.
Saya cemas karena sebelum 4/11 ada maklumat sayembara dari seseorang, di depan aparat negara, siapa yang bisa membunuh Ahok akan memberi hadiah Rp1 miliar.
Saya berharap aksi massa tak terjadi.
Terlebih Presiden Jokowi telah pula bersilaturahim dengan para pengurus MUI, NU, dan Muhammadiyah.
Jokowi berjanji tak akan mengintervensi kasus hukum dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok.
Persiden pun meminta para ulama memberikan nasihat kepada umat untuk menjaga NKRI. Namun, tekad aksi telah dibulatkan rupanya.
Benarkah ini jihad? Saya bertanya dalam hati.
Sebab, dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok masih belum bulat.
Ada kelompok yang meyakini Ahok penista, ada yang mengatakan Ahok tak menista.
Masing-masing punya basis argumentasi.
Ada pula yang mengatakan ucapan Ahok tentang Surat Almaidah 51 mengandung ambiguitas.
Ia kabur sebagai basis bukti.
Dalam hukum pidana Islam, kekaburan ialah syubhat.
Artinya, hukuman pidana harus ditangguhkan jika dasar buktinya kabur.
Ini juga senapas dengan hukum positif kita.
Kini dalam dambaan saya akan Islam Indonesia menjadi model Islam dunia yang toleran --tak seperti di Timur Tengah yang mudah membara--saya bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana jika yang mengucapkan Almaidah 51 ialah almarhum Gus Dur? Bagaimana pula jika Ahok mengucapkannya jauh sebelum pilkada atau Ahok bukan calon gubernur? Kenapa untuk seorang Ahok umat Islam menghabiskan energi begitu besar? Bukankah itu justru membesarkan Ahok?"
Aksi telah terjadi.
Ini juga pelajaran penting bagi Ahok dan para pemimpin kita bahwa tertib mulut bagian penting merawat demokrasi.
Namun, permintaan maafnya yang berkali-kali mestinya kita terima dengan tulus, seperti ajaran Nabi Muhammad SAW yang mahapemaaf itu.
Bahkan, saya bermimpi jalan musyawarah, bukan jalan hukum, bisa menyelesaikan kasus Ahok.
Sungguh akan banyak yang berbahagia.
Inilah jiwa besar umat Islam Indonesia.
Inilah Islam yang sesungguhnya.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved