Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FRASA 'lebaran kuda' kini membubung tinggi. Ungkapan khas tradisi lisan Betawi ini menjadi trending topic Twitter Indonesia, tak sampai dua jam Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya dalam konferensi pers di rumahnya, Puri Cikeas, Rabu silam. Intinya, ia minta Gubernur DKI Jakarta Ahok yang diduga melakukan penistaan agama (Islam) diproses hukum. Ini agar tidak ada penilaian Ahok kebal hukum.
Proses hukum ini penting, kata SBY, agar negara tidak terbakar oleh amarah para penuntut keadilan. Ia pun mendukung demonstrasi hari ini (4 November) yang menuntut Ahok diproses hukum karena demonstrasi dijamin undang-undang. "Kalau tuntutannya (para pedemo 4 November) tidak didengar, sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa," ujar SBY. Ia minta mereka yang akan berdemonstrasi tertib, jangan melakukan keributan.
Tak hanya di Twitter, frasa 'lebaran kuda' melangit. Pukul 15.12 kemarin, saya memasukkan kata kunci 'lebaran kuda' ke mesin pencari, Google, muncullah 362.000 kali dalam waktu 0,29 detik. Lalu pada pukul 17.45 saya membuka lagi, angkanya telah menembus 409.000 kali dalam waktu 0,33 detik. 'Lebaran kuda' yang berarti kemuskilan atau sesuatu yang entah kapan terjadi, juga menjadi meme yang riuh di media sosial.
Beberapa di antaranya, gambar kalender, tanggal 4 November diberi warna merah, di bawahnya tertulis, '4 November = Hari Lebaran Kuda', dengan gambar SBY yang tangan kanannya tengah menunjuk. Ada lagi meme dengan gambar anak-menantu SBY berbusana lebaran, dengan teks 'Kami dari Abang-Adik Dinasti Cikeas Mengucapkan Lebaran Kuda 4 November'.
Rupanya ungkapan 'lebaran kuda' memang kerap dilontarkan SBY.
Pertengahan 2010, ketika mengomentari sepak bola kita, SBY juga bilang, "Kalau tidak ada langkah konkret, sampai 'lebaran kuda' kita punya sepak bola begini terus." Setahun kemudian di Rapimnas Kadin di Jakarta, pada 1 April, dalam sambutannya ia bilang, "Dalam waktu mendatang Indonesia harus menjadi new emerging economic. Kita tidak bisa diam saja. Kalau diam dan melakukan business as usual, sampai 'lebaran kuda' tidak akan pernah terwujud."
Tentu saja, 'lebaran kuda' kali ini lebih punya makna bagi para pendengarnya. Dalam banyak komentar, SBY pun dinilai kalah arif jika dibandingkan dengan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, yang ketika ditemui Jokowi justru memunculkan persepsi yang menyejukkan menjelang demonstrasi 4 November. 'Lebaran kuda' kali ini serupa bumerang, menyerang balik.
Sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, meski SBY berupaya mengklarifikasi beberapa hal miring yang dialamatkan kepadanya, publik memilih 'lebaran kuda' sebagai melepas ketegangan, membuat senyum. Konferensi pers selama 48 menit tanpa pertanyaan wartawan itu, terasa penuh intonasi afirmasi. Terasa kental nada kecewa, galau, kesal yang menyatu.
Saya menyimak banyak respons dan perbincangan atas konferensi pers SBY.
Ada banyak yang menyesalkan sebab SBY baru saja menjabat dan anaknya kini tengah maju menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Ada yang bertanya, kenapa SBY jadi mengecilkan diri sendiri sebagai presiden dua kali? Mestinya SBY tetap dalam kehormatannya yang tinggi. Dalam semiotika, penjelasan SBY dalam konferensi ialah sebuah tanda. Tentu SBY sendiri yang mafhum tentang kejujuran sejati yang terkandung dalam seluruh ucapannya.
Namun, layaknya sebuah tanda, publik boleh menafsirkan sesuai kecakapan dan kepentingannya. Namun, sejujurnya saya sedih. Sedih karena sosok yang telah menjadi presiden--juga wakil presiden--mestinya sosok yang telah selesai melintasi seluruh 'kepentingan'. Ia mestinya tak boleh menjadi olok-olok kita. Ia telah menjadi milik bersama, tempat kita bertanya selaku guru bangsa, tentang aneka sengkarut negara.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved