Dampak Demo

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/11/2016 05:31
Dampak Demo
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

GELOMBANG demo terasa meningkat. Rencana unjuk rasa 4 November bahkan membuat aparat keamanan harus meningkatkan kewaspadaan. Setiap hari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Panglima Tentara Nasional Indonesia sampai harus berkomentar. Seakan-akan ada kegentingan yang akan terjadi. Tentu tidak salah apabila aparat keamanan melakukan antisipasi. Namun, ketika porsinya terlalu berlebihan, dampaknya tidaklah baik. Setidaknya bagi upaya kita membangun perekonomian, dampaknya bisa menjadi negatif.

Kita ingin ingatkan kondisi perekonomian tidaklah menguntungkan. Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral di Washington belum lama ini mengingatkan bahaya besar yang sedang dihadapi dunia. Yakni, pertumbuhan yang terlalu rendah dan berlangsung terlalu lama sehingga terlalu sedikit yang menikmati. Tidak ada seorang pun bisa menduga sampai
kapan kondisi ini berlangsung.

Semua hanya berharap harga komoditas kembali membaik sehingga bisa menggerakkan kembali perekonomian dunia yang sedang lesu darah. Karena itulah kita pantas untuk juga berhati-hati. Jangan habiskan energi kita untuk hal yang tidak produktif. Yang bisa mengembalikan kita ke rel untuk membangun ialah Presiden Joko Widodo. Mengapa? Karena kita kenal Jokowi kuat dalam melakukan persuasi.

Kita memercayainya menjadi presiden karena ia mampu membangun komunikasi sehingga bisa menggerakkan orang untuk sama-sama membangun negeri ini. Hal itu sudah Jokowi tunjukkan ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ia mampu membujuk seorang warga untuk menyerahkan lahannya agar pembangunan jalan tol lingkar luar bisa diselesaikan. Ketika menjadi presiden, Jokowi bisa meyakinkan warga untuk mau menerima kenaikan harga bahan bakar minyak agar kita memiliki modal membangun infrastruktur.

Kalau sekarang marak terjadi unjuk rasa, berarti ada saluran komunikasi yang tersumbat. Jokowi tidak lagi peka terhadap keluhan masyarakat dan tidak cepat membangun komunikasi untuk menyelesaikan persoalan. Waktunya bagi Jokowi kembali kepada jati dirinya sebagai pemimpin yang mau mendengar dan mencari solusi terbaik. Janganlah kekuasaan membuat Jokowi menjadi berjarak dan kemudian kehilangan kekuatan persuasinya.

Kita harus menyadari kelesuan ekonomi mendera kita dua tahun terakhir ini. Seperti fenomena yang terjadi di seluruh dunia, hanya segelintir orang yang bisa mengambil manfaat dari situasi ini. Kebanyakan mengalami kesulitan sehingga kesenjangan semakin melebar. Dalam kondisi seperti ini, orang mudah frustrasi. Sedikit saja persoalan muncul, akan membangkitkan rasa frustrasi itu. Apalagi ketika pemimpin dirasakan asyik dengan kepentingannya sendiri.

Pembiaran terhadap sikap frustrasi warga akan memancing gelombang unjuk rasa yang terus-menerus. Ketika menjadi kebiasaan, itu akan berdampak kepada tujuan utama kita yakni menciptakan kesejahteraan bagi seluruh bangsa. Pengalaman 17 tahun reformasi harus menjadi pembelajaran kita semua. Baik pemerintahan BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati
Soekarno putri, maupun Susilo Bambang Yudhoyono kehabisan waktu hanya untuk menghadapi gelombang demonstrasi.

Investasi yang kita harapkan tidak pernah bisa optimal ketika unjuk rasa seperti tidak habis-habisnya terjadi. Sekarang kita sebenarnya berharap pemerintahan fokus untuk membangun. Itu sudah ditunjukkan dengan pembangunan berbagai proyek infrastruktur. Hal itulah yang diharapkan bisa memperkuat kepercayaan kalangan dunia usaha untuk mau menanamkan modal, apalagi pemerintah juga memberikan berbagai kemudahan bagi masuknya investasi.

Semua itu tidak ada artinya apabila tidak ada ketenangan. Orang akan selalu waswas apabila kegentingan sepertinya akan terjadi di negeri ini. Padahal, kuncinya ialah tersendatnya saluran komunikasi. Pemerintah dianggap tidak bisa menjadi orangtua yang adil.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.