Jihad Kebangsaan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
25/10/2016 05:31
Jihad Kebangsaan
(MI/ARYA MANGGALA)

JALAN kebangsaan itu sungguh proses berliku. Jalan terjal. Pilihan menjadi Indonesia itu pilihan dahsyat, terlampau tinggi memang, hampir muskil, untuk Indonesia yang beragam dan kompleks. Adapun Pancasila ia lah penemuan formula kebangsaan yang teramat genius, sebagai perekat keberagaman itu. Mestinya kita jaga dan kembangkan dalam merawat kebangsaan. Bukan di sia-siakan!

Itulah parafrase saya atas pikiran-pikiran se jarawan Mukhlis Paeni. Ada banyak cerita pedih dan penuh duka jalan kebangsaan itu. Tak hanya kolonialisme yang panjang, tetapi juga yang menyakitkan, baku bunuh di antara kita dalam banyak peristiwa. Pembunuhan besar-besaran kaum bangsawan pascakemerdekaan jelas jadi horor dan trauma yang dalam. Tragedi Madiun, PRRI/Permesta, DI/TII, Tragedi 65, operasi militer di Aceh dan Papua, untuk menyebut beberapa peristiwa, ialah sebagian jalan kebangsaan yang terjal itu.

Setelah reformasi, konflik sesama saudara juga tak kunjung berhenti. Perseteruan panjang bernuansa agama di Maluku, juga Poso konflik bernuansa suku di Sampit dan sekian banyak perseteruan bernuansa SARA masih membekaskan luka. Itulah yang membuat Gus Dur, ketika menjadi presiden, seperti ditulis Greg Barton dalam buku Biografi Gus Dur (2016), frustrasi.

Kekerasan di Maluku yang melibatkan aparat menjadi rumit penyelesaiannya. Sementara para musuh politik mengkritik Gus Dur tak mampu menghentikan konflik sektarian itu. “Tuduhan yang sangat pahit karena Gus Dur yakin kekerasan di Maluku bukanlah sepenuhnya organik dan spontan, melainkan kekuatan luar... yang jelas-jelas dibantu oleh personel militer dan polisi,” tulis Barton.

Fakta-fakta itu kian menunjukkan betapa jalan kebangsaan terus mendapat ujian berat justru ketika Indonesia dipimpin penganjur pluralisme paling depan, yakni Gus Dur. Sosok yang setiap waktu mengajak kita melakukan perayaan keberagaman (celebrating diversity). Lagi-lagi, reformasi seperti juga revolusi di masa awal kemerdekaan, juga menimbulkan
destruksi kemanusiaan. Karena itu, di tengah suasana kebersamaan yang kurang nyaman hari-hari ini, pemaknaan kebangsaan pada Hari Santri, 22 Oktober, menjadi amat penting.

Hari Santri bukanlah upaya pengotakngotakkan umat jika mengacu penggolongan yang dilakukan Clifford Geertz: santri, priayi, dan abangan. Menurut para penyelenggara hari penting itu, santri adalah mereka yang tekun mendalami agama Islam serta memiliki rasa nasionalisme tinggi. Resolusi Jihad yang tertuang dalam fatwa Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari bukan semangat peperangan.

Ia dilandasi semangat antipenjajahan dan menolak diskriminasi. Ia meneguhkan perdamaian, kesetaraan, dan kemanusiaan. Terbukti Resolusi Jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945 berhasil membakar sema ngat para santri hingga rela mewakafkan hidup mereka untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Presiden Joko Widodo dalam peringatan itu meminta para santri untuk memaknai jihad kebangsaan dengan memerangi kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan
sosial.

Jihad kebangsaan menjadi penting tidak saja karena kian banyak pikiran yang melemahkan arti kebangsaan, para koruptor, pun kaum kaya yang tanpa kepekaan sosial kian mencolok pamer kemewahan. Karena itu, jihad kebangsaan menjadi punya konteks yang tepat sekarang ini. Organisasi Islam yang lain juga seluruh elemen bangsa yang punya komitmen kebangsaan kuat mestinya mendukung semangat ini.

Komitmen Islam Nusantara dari NU dan Islam Berkemajuan dari Muhammadiyah mestinya tak harus jalan sendiri-sendiri. Demi bangsa dan negara, moto kedua ormas Islam terbesar itu mestinya bisa bersekutu, saling melengkapi. Saling menguatkan. Selamat Hari Santri. Selamat menggelorakan semangat jihad kebangsaan. Selamat menguatkan Indonesia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima