Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JALAN kebangsaan itu sungguh proses berliku. Jalan terjal. Pilihan menjadi Indonesia itu pilihan dahsyat, terlampau tinggi memang, hampir muskil, untuk Indonesia yang beragam dan kompleks. Adapun Pancasila ia lah penemuan formula kebangsaan yang teramat genius, sebagai perekat keberagaman itu. Mestinya kita jaga dan kembangkan dalam merawat kebangsaan. Bukan di sia-siakan!
Itulah parafrase saya atas pikiran-pikiran se jarawan Mukhlis Paeni. Ada banyak cerita pedih dan penuh duka jalan kebangsaan itu. Tak hanya kolonialisme yang panjang, tetapi juga yang menyakitkan, baku bunuh di antara kita dalam banyak peristiwa. Pembunuhan besar-besaran kaum bangsawan pascakemerdekaan jelas jadi horor dan trauma yang dalam. Tragedi Madiun, PRRI/Permesta, DI/TII, Tragedi 65, operasi militer di Aceh dan Papua, untuk menyebut beberapa peristiwa, ialah sebagian jalan kebangsaan yang terjal itu.
Setelah reformasi, konflik sesama saudara juga tak kunjung berhenti. Perseteruan panjang bernuansa agama di Maluku, juga Poso konflik bernuansa suku di Sampit dan sekian banyak perseteruan bernuansa SARA masih membekaskan luka. Itulah yang membuat Gus Dur, ketika menjadi presiden, seperti ditulis Greg Barton dalam buku Biografi Gus Dur (2016), frustrasi.
Kekerasan di Maluku yang melibatkan aparat menjadi rumit penyelesaiannya. Sementara para musuh politik mengkritik Gus Dur tak mampu menghentikan konflik sektarian itu. “Tuduhan yang sangat pahit karena Gus Dur yakin kekerasan di Maluku bukanlah sepenuhnya organik dan spontan, melainkan kekuatan luar... yang jelas-jelas dibantu oleh personel militer dan polisi,” tulis Barton.
Fakta-fakta itu kian menunjukkan betapa jalan kebangsaan terus mendapat ujian berat justru ketika Indonesia dipimpin penganjur pluralisme paling depan, yakni Gus Dur. Sosok yang setiap waktu mengajak kita melakukan perayaan keberagaman (celebrating diversity). Lagi-lagi, reformasi seperti juga revolusi di masa awal kemerdekaan, juga menimbulkan
destruksi kemanusiaan. Karena itu, di tengah suasana kebersamaan yang kurang nyaman hari-hari ini, pemaknaan kebangsaan pada Hari Santri, 22 Oktober, menjadi amat penting.
Hari Santri bukanlah upaya pengotakngotakkan umat jika mengacu penggolongan yang dilakukan Clifford Geertz: santri, priayi, dan abangan. Menurut para penyelenggara hari penting itu, santri adalah mereka yang tekun mendalami agama Islam serta memiliki rasa nasionalisme tinggi. Resolusi Jihad yang tertuang dalam fatwa Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari bukan semangat peperangan.
Ia dilandasi semangat antipenjajahan dan menolak diskriminasi. Ia meneguhkan perdamaian, kesetaraan, dan kemanusiaan. Terbukti Resolusi Jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945 berhasil membakar sema ngat para santri hingga rela mewakafkan hidup mereka untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Presiden Joko Widodo dalam peringatan itu meminta para santri untuk memaknai jihad kebangsaan dengan memerangi kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan
sosial.
Jihad kebangsaan menjadi penting tidak saja karena kian banyak pikiran yang melemahkan arti kebangsaan, para koruptor, pun kaum kaya yang tanpa kepekaan sosial kian mencolok pamer kemewahan. Karena itu, jihad kebangsaan menjadi punya konteks yang tepat sekarang ini. Organisasi Islam yang lain juga seluruh elemen bangsa yang punya komitmen kebangsaan kuat mestinya mendukung semangat ini.
Komitmen Islam Nusantara dari NU dan Islam Berkemajuan dari Muhammadiyah mestinya tak harus jalan sendiri-sendiri. Demi bangsa dan negara, moto kedua ormas Islam terbesar itu mestinya bisa bersekutu, saling melengkapi. Saling menguatkan. Selamat Hari Santri. Selamat menggelorakan semangat jihad kebangsaan. Selamat menguatkan Indonesia.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved