Badai belum Berlalu

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
22/10/2016 06:01
Badai belum Berlalu
(MI/Arya Manggala)

WAWANCARA dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Selasa (18/10), memberi gambaran tentang dua wajah perekonomian kita sekarang ini.

Satu sisi positif, kita mampu menjaga kepercayaan pasar karena pembangunan yang dilakukan ditopang sisi fiskal yang terkelola dengan baik.

Kedua, sisi negatif, badai yang sedang kita hadapi masih belum berlalu.

Sri Mulyani berterima kasih atas peran serta masyarakat ikut program amnesti pajak karena itu memperkuat sisi fiskal.

Hanya, penerimaan uang tebus mendekati Rp100 triliun belum sepenuhnya menyelamatkan sisi penerimaan karena hingga akhir September, dari target penerimaan pajak Rp1.360 triliun baru tercapai 58%.

Perlambatan perekonomian global sangat berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri.

Kelesuan ekonomi masih terjadi dan itu bisa dilihat dari pertumbuhan kredit yang masih satu digit pada tahun ini.

Bank Indonesia (BI) berupaya mendorong ekspansi kredit dengan menurunkan suku bunga acuan.

Bunga deposit facility diturunkan menjadi 4%, lending facility ditetapkan 5,5%.

BI menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini 14%, tetapi permintaan kredit dunia usaha masih rendah.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita garap. Pertama, bagaimana menciptakan iklim usaha lebih baik.

Korupsi, inefisiensi birokrasi, serta ketersediaan infrastruktur merupakan tiga faktor utama yang dinilai World Economic Forum menjadi penyebab menurunnya daya saing.

Kedua, kebijakan pendidikan harus sejalan dengan pembangunan.

Dalam 10 tahun terakhir, anggarannya jadi Rp400 triliun.

Pertanyaannya, sejauh mana penggunaan anggaran untuk menghasilkan manusia yang siap menopang derap pembangunan?

Ketiga, bagaimana menciptakan sistem perpajakan yang adil.

Rasio pajak yang masih 12% menunjukkan rendahnya partisipasi masyarakat membayar pajak.

Amnesti pajak yang dikatakan berhasil ternyata hanya diikuti 500 ribu wajib pajak.

Bahkan tambahan wajib pajak baru hanya sekitar 25 ribu.

Dua tahun pemerintahan Jokowi-JK belum saatnya untuk berpuas diri, apalagi tantangan tahun depan masih tetap berat.

Satu yang harus dimanfaatkan ialah kekuatan pasar dalam negeri.

Jangan biarkan pasar dalam negeri dibanjiri produk impor sehingga kita hanya mendapatkan harga murah, tapi masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan.

Perlambatan ekonomi global harus dipakai untuk mendorong transformasi ekonomi.

Kita harus benar-benar berpindah dari ekonomi berbasis sumber daya alam menjadi ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi.

Industrialisasi harus menjadi agenda utama untuk membawa Indonesia naik kelas menjadi negara industri baru.

Tanpa reindustrialisasi, kita terus terperangkap dalam kelompok negara berpendapatan menengah.

Tidak banyak negara yang keluar dari perangkap itu karena tidak menetapkan secara jelas peta jalan untuk mencapai tujuan tersebut.

Pemerintahan Jokowi-JK sudah memulai pembangunan infrastruktur. Dalam tiga tahun ke depan, yang harus dilakukan ialah bagaimana memanfaatkan hasil pembangunan itu.

Pembangunan infrastruktur harus mampu menggerakkan kegiatan ekonomi warga agar kemudian kita menikmati nilai tambah dari investasi yang sudah dilakukan.

Memang tidak mudah mencapai tujuan besar pembangunan itu.

Dibutuhkan kerja sama dan rasa saling percaya antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk meraih Indonesia yang lebih menyejahterakan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.