Amtenar

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
21/10/2016 05:31
Amtenar
(MI/ARYA MANGGALA)

DI masa Orde Baru, seorang pejabat di Departemen Penerangan, kementerian ‘bintang lima’ masa itu, menyuruh saya mendaftar sebagai calon pegawai negeri. Pejabat itu menjamin saya lulus tes karena ia yang punya kuasa mengurus pegawai di kantornya. Saya menolak halus dengan tidak hadir di hari terakhir pendaftaran. Ketika tahu saya tak mendaftar, sang pejabat yang juga mengelola lembaga pendidikan, tempat saya bekerja paruh waktu, menegur saya penuh tanda tanya.

“Orang lain, banyak datang dari jauh, membayar (saya) jutaan, tapi Anda saya kasih gratis enggak mau,” katanya dengan nada dingin. “Maaf, Pak, saya enggak punya bakat jadi pegawai negeri,” jawab saya terus terang. “Jadi pegawai negeri itu gak perlu bakat.” Ia setengah memotong. Saya kira ia jujur. Enggak perlu bakat! Yang saya maksud ‘bakat’ ialah ‘mentalitas’ pegawai negeri yang saya pahami: Berangkat pagi pulang sore, yang berprestasi dan sebaliknya sama saja, jago manipulasi, memakai baju Korpri, harus memilih Golkar setiap pemilu dan harus memusuhi partai lain.

Selain itu, mesti patuh pada atasan, seperti kerbau dicokok hidungnya meski tahu atasannya parah. “Kerja kita memang untuk menyenangkan pimpinan,” ucap seorang pejabat eselon tiga di Mahkamah Agung, baru-baru ini. Saya kaget mendengar ucapannya. Ternyata mentalitas serupa itu belum berubah. Begitulah secara hierarkis, saling menyenangkan atasan, kecuali di institusi yang dipimpin kaum reformis sejati.

Waktu itu, selagi punya akses terhadap orang berkuasa, siapa saja bisa menjadi amtenar. Memakai ijazah orang lain pun bisa. Tak masuk berbulan-bulan asal atasannya ‘baik hati’, tak masalah. Di institusi lain, di masa lalu, latar belakang pegawai itu tergantung atasannya. Maksudnya, kalau ada seorang petinggi berasal dari daerah tertentu, umumnya pegawai di level bawah juga berasal dari daerah itu. Itulah nepotisme yang ketika reformasi berusaha kita enyahkan.

Contoh paling nyata di Kantor Provinsi DKI Jakarta. Pegawai terbanyak konon dari tiga puak. Saya pun baru mafhum kemudian ketika Gubernur Ahok membereskan kelompok ‘Babi Kuning’. Mereka pegawai yang berasal dari Batak, Bima, dan Kuningan. Bisa ditelusuri, dahulu pasti orang Batak, Bima, dan Kuningan pernah menjadi pucuk pimpinan di pemerintahan DKI Jakarta. Di negeri ini pegawai negeri memang jadi mimpi tertinggi, terlebih lagi di daerah. Karena itu, ‘pasar’ pegawai negeri amat tinggi, ratusan juta rupiah.

Itu pun berebut. Bank pun siap menerima beslit sebagai agunan pinjaman. Beberapa hari lalu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur mengeluh, 64% dari 4,5 juta amtenar kita rendah mutunya. Keluhan yang diungkapkan hampir seluruh menteri di institusi itu sejak era Megawati. Menteri M Feisal Tamin, Taufiq Effendi, Azwar Abubakar, Yuddy Chrisnandi (sebelum diganti Asman) mengeluhkan betapa tak berkualitasnya para amtenar kita.

Taufiq Effendi paling kerap mengeluh. Namun, jadi lebih bermutukah amtenar kita? Apa yang dikeluhkan Menteri Asman, itulah hasil rekrutmen pegawai dengan aneka cara yang mengabaikan aspek kompetensi. Saban tahun amtenar kita menghabiskan dana 33,8% anggaran negara (Rp707 triliun). Bahkan, di daerah lebih dari 50% APBD.

Bayangkan! Kita, rakyat, yang membayar pajak berhak marah atas kondisi pegawai negeri yang rendah mutunya. Birokrasi ialah mesin sebuah pemerintahan. Untuk membereskan rendahnya mutu abdi negara, butuh super minister. Bukan menteri biasa! Menteri yang punya strategi terbaik memberesi birokrasi dan menggebrak dengan penuh nyali. Maaf, bukan menteri yang masih berkeluh kesah tentang persoalan lama itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima